Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (tengah) memandu diskusi secara virtual (video conference) tentang industri reksa dana bertema Dampak Wabah Corona Terhadap Industri Reksa Dana

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (tengah) memandu diskusi secara virtual (video conference) tentang industri reksa dana bertema Dampak Wabah Corona Terhadap Industri Reksa Dana

Nasabah Reksa Dana Sudah Cukup Matang

Nurjono, Jumat, 17 April 2020 | 06:06 WIB

JAKARTA, investor.id -- Nasabah reksa dana sudah cukup matang dalam menghadapi tsunami di pasar modal akibat pandemi Covid-19. Tidak ada kepanikan berarti yang membuat mereka mengambil keputusan investasi secara emosional.

Meski harga aset finansial menurun dan pemodal asing lebih banyak melakukan aksi jual dibanding membeli, sekitar 1,8 juta pemegang unit reksa dana lokal tetap percaya pada masa depan pasar modal. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana masih Rp 480 triliun. Selama Januari dan Februari 2020, subscription lebih besar dibanding redemption.

“Kalau kita lihat per 9 April 2020, memang masih net redemption Rp 10,59 triliun, tapi di Januari terjadi net subscription Rp 4,13 triliun, dan di Februari masih net subscription Rp 390 miliar. Baru di Maret ada net redemption Rp 21,42 triliun. Lalu menginjak 1-9 April ada net subscription Rp 6,31 triliun. Jadi kalau ditotal dari awal tahun memang ada net redemption Rp 10,59 triliun,” kata Sujanto, Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam diskusi online dengan Investor Daily, Kamis (16/4/2020).

Diskusi yang dipandu Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Primus Dorimulu ini juga menghadirkan Ketua Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan nvestasi (APRDI) Prihatmo Hari, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (APDI) Suheri, dan Head of Investment Research PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana.

Tabel perkembangan reksa dana, perkembangan NAB reksa dana & DPK perbankan, serta perkembangan jumlah investor pasar modal dan pemegang reksa dana.
Tabel perkembangan reksa dana, perkembangan NAB reksa dana & DPK perbankan, serta perkembangan jumlah investor pasar modal dan pemegang reksa dana.

Sujanto menjelaskan, NAB reksa dana per 9 April sebesar Rp 480 triliun yang terdiri atas Rp 422 triliun konvensional dan Rp 58 triliun syariah, dengan jumlah investor sebanyak 1,8 juta Adapun pada 2015 jumlah NAB reksa dana baru Rp 271 triliun, lalu pada 2026 sebesar Rp 336 triliun, kemudian naik menjadi Rp 457 triliun pada akhir 2017, Rp 505 di akhir 2018, dan di akhir 2019 mencapai Rp 542 triliun.

“Dari akhir 2019, angka penurunannya hampir Rp 65,70 triliun atau kira-kira 11,74% hingga 9 April 2020,” ujar Sujanto.

Di sisi lain, Sujanto mengatakan, OJK telah memberikan kebijakan relaksasi untuk membantu manajer investasi (MI) di tengah pandemi Covid-19.

Terkait relaksasi, Prihatmo menilai relaksasi yang diberikan OJK membantu industri reksa dana. Namun sekarang ini yang dicermati pelaku industri reksa dana adalah perkembangan Covid-19, kapan akan berakhir.

“Karena itu, kami terus berkomunikasi dengan OJK sekiranya relaksasi apa lagi yang diperlukan oleh industry reksa dana,” katanya. Sedangkan dari sisi dana kelolaan reksa dana, Prihatmo mengakui ada penurunan, namun tidak signifikan dan juga bukan rush. Menurut dia, penurunan dana kelolaan tidak signifikan, bahkan masih ada inflow di reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Penurunan karena mark to market.

“Investor kita sudah dewasa dan tidak panik. Dalam kondisi ini kami juga menjalin hubungan yang baik dengan stakeholder, dan berdiskusi dengan OJK,” ujar dia.

Prihatmo menambahkan, sejak Covid-19 merebak di Tiongkok, para manajer investasi (MI) sudah siap mengantisipasi dampaknya ke ekonomi.

“Menyikapi kondisi ini, saya lihat teman-teman MI juga sudah mempertebal cash-nya untuk mengantisipasi redemption tersebut. So far, sejauh ini MI masih bisa me-manage dengan cadangan cash yang ada,” ujar dia.

Dia berharap investor tetap tenang karena dari beberapa kali krisis pada akhirnya juga pasar bisa tenang. Namun, lanjut dia, kuncinya adalah pada kebijakan dalam menangani wabah Covid-19, yakni kebijakan stimulus fiskal dan moneter untuk mengatasi dampak Covid-19 sehingga makin kondusif ke pasar.

Dampak Corona terhadap industri reksa sana
Dampak Corona terhadap industri reksa sana

Hal senada disampaikan Suheri. Menurut dia, kepanikan tidak terlalu terlihat karena pengelola dana pension selalu berupaya sesuai dengan alokasi investasi. Aset dana pensiun yang ditempatkan di reksa dana biasanya sekitar 6%, tapi sekarang mungkin sekitar 5%. Hal itu bukan karena redemption tapi karena penurunan nilai, dimana terjadi penurunan harga-harga saham yang menjadi underlying reksa dana.

“Kalau saya perhatikan, teman-teman dana pensiun mengkhawatirkan saat aset-aset turun maka akan jadi beban saat penghitungan aset untuk aktuaria. Tapi kalau ada relaksasi (dari OJK) penghitungan boleh ditunda, maka hal itu tidak jadi masalah,” ujar Suheri.

Dia juga berpendapat, pelaku pasar masih menunggu sampai kapan Covid-19 akan mencapai puncaknya. Setelah Covid-19 berlalu maka pasar modal akan kembali bergairah.

“Sekarang ini mungkin sebagian investor sedang butuh cash, mereka keluar dari reksa dana pasar uang, tapi mungkin nanti masuk lagi,” katanya.

Perusahaan dana pensiun, dikatakan Suheri, juga saat ini masih optimistis dengan kinerja reksa dana. Hal itu telah dibuktikan ADPI dengan BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek) beserta Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) dan Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang telah menyatakan komitmen untuk terus berinvestasi ke pasar dan membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dilakukan mengingat kondisi harga saham saat ini sedang murah (undervalue).

Dalam kondisi ini, ia pun menyarankan agar perusahaan bisa cermat dalam penentuan alokasi keuangan.

“Jangan buru-buru, harus hati-hati juga. Kalau terlalu takut kesempatan juga akan hilang. Apalagi ini kejadian langka. Orang yang jeli dalam mengambil keputusan akan lead didepan,” ungkap Suheri.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN