Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa dana. Ilustrasi: Istimewa

Reksa dana. Ilustrasi: Istimewa

Pilih Reksa Dana Konvensional atau Nonkonvensional

Frans S Imung, Jumat, 5 Juli 2019 | 13:11 WIB

JAKARTA, investor.id- Produk reksa dana yang ditawarkan sebagai pilihan investasi makin beragam. Untuk memilih jenis yang cocok, disarankan untuk disesuaikan dengan tujuan dan profik risiko masing-masing investor. Sebelum menentukan pilihan, pahami dulu jenis-jenis reksa dana tersebut.

Instrumen reksa dana makin dikenal luas di kalangan investor. Seiring dengan perkembangan zaman, tujuan investasi, maupun horizon investasi, jenis dan varian produk reksa dana yang dikemas para manajer investasi pun makin kompleks. Umumnya reksa dana yang dikenal meliputi reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham. Model konvensional ini kemudian dikemas pula dengan prinsip syariah. Jenis reksa dana syariah ini pun sama, yakni, pasar uang, saham, campuran dan pendapatan tetap.

Belakangan berkembang jenis reksa dana baru dengan karakteristik yang berbeda, karena tidak berpatokan pada risiko maupun horison investasi. Karena karakteristik yang berbeda, bisa disebut reksa dana nonkonvensional. Di Indonesia sudah mulai dikenal beberapa produk seperti Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund), ETF (Exchange Trade Fund), Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), maupun Reksa Dana Target Waktu.

Dari sisi otoritas, dua jenis reksa dana ini punya tujuan berbeda. Reksa Dana Konvesnional menjadi sarana untuk pendalaman pasar (market penetration) karena murni berbasis pasar modal. Sedangkan reksa dana nonkonvensional menjadi sarana pengembangan pasar (market development) dengan basis sektor riil. Pada dasarnya, syarat keahlian pengelolaan maupun regulasi untuk dua jenis reksa dana tersebut amat berbeda.

Bisa dikatakan, reksa dana konvensional terdiri dua jenis yakni Reksa Dana Konvensional dalam mata uang rupiah maupun dolar serta Reksa Dana Berbasis Syariah. Sudah lazim dikenal reksa dana konvensional, termasuk berbasis syariah, dikemas dalam empat jenis. Pertama, reksa dana saham dengan minimal penempatan 80% pada instrumen saham. Reksa dana ini cocok untuk investasi jangka panjang, minimal dalam lima tahun. Kedua, reksa dana pendapatan tetap dengan minimal penempatan 0% pada instrument obligasi arau surat utang. Sesuai namanya, jenis ini biasanya disarankan untuk investasi jangka pendek pendek, antara 1 – 3 tahun.

Jenis ketiga reksa dana konvensional adalah reksa dana campuran. Sesuai namanya, reksa dana ini punya ketentuan maksimal penempatan sekitar 79% pada instrumen saham, obligasi, maupun deposito. Reksa dana jenis ini biasanya disarankan untuk investasi jangka menengah antara 3 – 5 tahun. Keempat reksa dana pasar uang dengan penempatan maksimum 100% pada instrumen jangka pendek seperti obligasi maupun deposito bank. Reksa dana ini disarankan untuk investasi jangka sangat pendek, atau kurang dari satu tahun.

Sesuai jenis dan horizon pengelolaan, reksa dana syariah masuk kelompok reksa dana konvensional. Perbedaan hanya pada prinsip pengelolaan, meski jenis produknya sama. Ada beberapa prinsip syariah yang jadi aturan khusus reksa dana syariah yang harus dipenuhi. Pertama, kegiatan usaha selaras dengan prinsip syariah seperti tidak mengandung unsur suap dan perjudian. Pinjaman perusahaan yang jadi basis investasi harus lebih kecil dari nilai asetnya. Syarat berikut, pendapatan tidak harus dibawah 10% dibanding total aset. Ketentuan lain menyangkut komposisi maupun horizon investasi sama dengan ketentuan reksa dana konvensional.

 

Non Konvensional

Produk reksa dana yang masuk market development makin beragam saat ini. Reksa dana nonkonvensional ini punya kaitan dengan sektor riil. Jenis produk yang umum dikenal seperti yaitu REIT's, KIK-EBA, Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, maupun Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund). Reksa Dana Terstruktur dikenal dalam tiga varian, yakni Reksa Dana Indeks (Index Fund), Reksa Dana Terptoteksi (Capital Protected Fund), dan Reksa Dana Terproteksi (Capital Guaranteed Fund).

Sesuai namanya, pengelolaan Reksa Dana Indeks mengacu kepada indeks tertentu, baik indeks saham maupun indeks obligasi. Berbeda dengan reksa dana konvensional aktif pengelolaannya, reksa dana indeks cenderung pasif sehingga tingkat return relatif sama dengan return indeks acuan.

Reksa Dana Terproteksi dikelola dengan target memproteksi nilai investasi awal investasi milik investor. Dana milik investor dialokaikan pada instrumen tertentu, biasanya obligasi, selanjutnya dipertahankan hingga jatuh tempo. Dengan cara ini, maka nilai investasi awal akan terjaga. Sedangkan Reksa Dana Penjaminan dikelola dengan menggaransi nilai investasi awal investor. Mekanisme garansi dilakukan dengan melakukan perjanjian dengan guarantor yakni perusahaan asuransi. Dari ketiga jenis ini, hanya Index Fund yang bisa ditawarkan terus menerus, sedangkan dua jenis lainnya punya masa penawaran yang terbatas.

Belakangan, berkembang pula jenis reksa dana yang unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di bursa saham. Di Indonesia reksa dana yang umum dikenal dengan nama Exchange Traded Fund (ETF) pun mulai berkembang. Pada prinsipnya, reksa dana ini merupakan pengembangan dari reksa dana indeks karena menganut prinsip nyaris sama. Perbedaannya, ETF dapat dibeli di pasar sekunder, baik melalui broker maupun melalui manajer investasi.

Penempatan dana kelolaan reksa dana tidak melulu harus lewat pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan memperkenankan reksa dana sebagai alternatif pembiayaan sektor riil. Ragam jenis yang mulai dikenal seperti Dana Investasi Real Estat (DIRE) yang menghimpun dana untuk diinvestasikan pada aset real estate. Pilihan lain seperti Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA). Ini merupakan reksa dana berbasis aset keuangan seperti surat berharga komersial, tagihan kartu kredit, maupun KPR. Instrumen ini mulai berkembang di Indonesia.

Ada pula produk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang menghimpun dana dari pemodal untuk diinvestasi pada portofolio efek pasar modal maupun untuk pembiayaan sektor riil. Minimum investasi pada produk ini sebesar Rp 5 milliar dan jumlah investor dibatasi maksimal 49 orang. Karena diinvestasikan di sektor riil, penilaian tidak menggunakan metode nilai pasar wajar seperti reksa dana konvensional.

Sejak tahun 2019, melalui POJK Nomor 34/POJK.04/2017, OJK telah menerbitkan aturan yang menyetujui penerbitan Reksa Dana Dinamis Target Waktu. RDTW tidak terpaku yang jadi underlying tetapi mengacu kepada tanggal tertentu sesuai tujuan investasi. Karena berpatokan pada jangka waktu, RDTW fleksibel untuk mengubah komposisi portofolio efeknya.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN