Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Reksa Dana Ini Tawarkan Peluang Investasi di Pasar Saham India dan Tiongkok, Mau Beli?

Jumat, 19 Februari 2021 | 07:21 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (Manulife AM) menilai pasar saham global kian prospektif tahun ini, terutama India dan Tiongkok. Hal ini bisa berdampak positif terhadap perkembangan reksa dana offshore atau reksa dana yang berinvestasi pada efek luar negeri.

Membaiknya prospek pasar saham global tersebut mendorong Manulife AM menerbitkan reksa dana Manulife Saham Syariah Golden Asia Dolar AS (MAGOLD). Reksa dana ini menawarkan peluang untuk diversifikasi investasi bagi investor Indonesia di Tiongkok dan India dalam satu produk reksa dana.

Chief Economist and Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan, ada tiga hal yang membuat pasar saham Tiongkok dan India prospektif tahun ini. Pertama, potensi kinerja jangka panjang yang ditopang oleh transformasi ekonomi dan reformasi kebijakan di kedua negara.

Penopang lainnya adalah peningkatan kelas menengah, transformasi ekonomi, reformasi kebijakan serta keterbukaan investasi yang membuat pasar saham Tiongkok dan India mencatatkan kinerja historis yang menarik. "Faktor pendukung tersebut diperkirakan masih akan terjadi sehingga berpotensi menopang pasar saham dalam jangka panjang," jelas Katarina dalam konferensi pers kerja sama antara Standard Chartered dan Manulife Aset Manajemen Indonesia yang digelar secara virtual, Kamis (18/2).

Hal kedua yang mendorong pasar saham India dan Tiongkok menarik adalah tingkat korelasi yang rendah terhadap pasar saham global. Katarina mengungkapkan, meski bursa saham Tiongkok dan India merupakan bursa saham terbesar kedua di dunia, namun hanya sebagian kecil dari pasar tersebut yang terbuka untuk investor asing. "Kondisi ini menjadi ideal untuk diversifikasi portofolio investasi," kata dia.

Kemudian, akses investor asing untuk berinvestasi pada saham A-shares sangat terbatas. Sementara saham A-shares lebih merepresentasikan sektor ekonomi baru di Tiongkok seperti kesehatan, barang konsumsi, industri, dan teknologi. Saat ini, saham China A-shares telah masuk dalam indeks MSCI Emerging Market dengan faktor inklusi 20%. Apabila inklusi 100% dilakukan, maka China A-shares akan memiliki bobot lebih besar dibanding negara lain, sehingga peranan pasar sahamnya di pasar saham dunia akan semakin meningkat ke depannya.

Perkembangan saham di kedua negara tersebut juga ditopang oleh pertumbuhan perekonomiannya. Menurut Katarina, potensi pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan India didukung oleh populasi yang besar. Bahkan, pada 2030, Tiongkok dan India diperkirakan menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia dan memiliki peranan yang semakin penting dalam perekonomian global. Pada 2030, PDB nominal Tiongkok dan India masing-masing diperkirakan mencapai US$ 64,2 triliun dan US$ 46,3 triliun.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut, Tiongkok dan India akan mengalami transformasi kondisi sosial ekonomi. Tiongkok diperkirakan bertransisi dari masyarakat kelas menengah menuju pendapatan kelas atas. Sementara India menikmati transisi peningkatan populasi kelas menengah. "Meningkatnya populasi kelas menengah dan atas akan mendukung konsumsi sebagai penopang PDB," kata dia.

Tiongkok dan India juga diperkirakan mengalami transformasi sektor industrial. Pemerintah Tiongkok memiliki visi untuk menjadi pemimpin pasar dalam industri teknologi tinggi, beralih dari fokus sebelumnya pada low-end manufacturing. Transformasi ini akan menjadikan Tiongkok sebagai negara produsen produk-produk berteknologi tinggi, tidak kalah dari produk-produk yang dibuat negara maju lainnya.

Sementara, India memiliki visi untuk menjadi hub manufaktur global, terutama di tengah tren diversifikasi produksi dari Tiongkok ke negara Asia lainnya.Kedua negara ini juga terus membuat reformasi kebijakan yang berkelanjutan untuk menarik investasi dan kemudahan berbisnis, serta senantiasa meningkatkan nilai tambah bagi investor.

Reksa Dana Offshore

Perkembangan pasar saham di India dan Tiongkok menjadi pendorong Manulife AM untuk semakin mengembangkan produk reksa dana offshore. Sejauh ini, Presiden Direktur Interim Manulife AM Afifa melihat, produk reksa dana offshore Manulife AM sudah berkembang cukup baik, bahkan bisa menghasilkan kinerja 32% dalam setahun.

Adapun produk terbaru yang dikembangkan Manulife AM adalah Manulife Saham Syariah Golden Asia Dolar AS (MAGOLD). Reksadana ini menawarkan peluang untuk diversifikasi investasi bagi investor Indonesia di Tiongkok dan India dalam satu produk reksa dana.

Presiden Direktur Interim Manulife AM Afifa menjelaskan, MAGOLD mengalokasikan 80-100% dari aset yang dikelola untuk diinvestasikan di instrumen saham syariah di kawasan Tiongkok dan India. Kemudian, 0% - 20% di instrumen pendapatan tetap, sukuk, atau pasar uang yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. "Sesuai tolok ukurnya, MAGOLD akan mengalokasikan sekitar 70% dari aset yang dikelola pada kawasan Tiongkok dan 30% di India," papar dia.

Selain MAGOLD, Manulife AM memiliki produk reksadana offshore lainnya, yakni Manulife Saham Syariah Global Dividen Dolar AS (MANSYAG), Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (MANSYAF) dan Manulife Greater Indonesia Fund (MGIF). Seluruh produk reksadana offshore ini tersedia di Standard Chartered.

Adapun MANSYAG adalah reksa dana global dengan fokus investasi pada negara Amerika Serikat dan kawasan Eropa. MANSYAG berinvestasi pada saham-saham perusahaan skala global dan pemimpin industri, dengan rekam jejak yang panjang, fundamental teruji serta profitabilitas yang berkesinambungan.

Keunggulan MANSYAG adalah memiliki fitur pembagian hasil investasi, dengan potensi distribusi penghasilan setiap enam bulan. Sedangkan, portofolio MANSYAF terdiversifikasi dengan berinvestasi pada saham-saham di berbagai negara yang ada di kawasan Asia Pasifik, khususnya di Asia Utara.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN