Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Reksa Dana

Reksa Dana

53 RD SAHAM BERGERAK ANOMALI

Reksa Dana Pendapatan Tetap Paling Menguntungkan di 2019

Farid Firdaus, Rabu, 8 Januari 2020 | 07:45 WIB

JAKARTA, investor.id – Reksa dana pendapatan tetap (fixed income) menuai kinerja paling moncer sepanjang tahun lalu. Sekitar 132 produk kategori ini mengalami pertumbuhan antara 10- 30%. Sementara, reksa dana berbasis saham rata-rata terkoreksi. Setidaknya return 53 produk anjlok secara ekstrem, yakni minus 10-80%.

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja reksa dana pendapatan tetap yang tercermin pada Infovesta 90 Fixed Income Fund Index bertumbuh 10,77% sepanjang 2019. Pada periode sama, kinerja reksa dana saham yang terukur pada Infovesta 90 Equity Fund Index tercatat negatif 8,41%.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, reksa dana pendapatan tetap masih menjadi andalan manajer investasi pada 2020, melanjutkan tren kenaikan tahun lalu. Imbas dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang terjadi sebanyak empat kali membuat kinerja obligasi terangkat. Hal tersebut yang menjadi faktor kenaikan reksa dana pendapatan tetap.

“Pada 2020, kami memprediksi terdapat penurunan suku bunga BI yang terbatas, sehingga reksa dana pendapatan tetap masih tumbuh positif meskipun tidak seagresif tahun 2019. Rentan pertumbuhannya sekitar 7-7,5%,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (7/1).

Menurut Wawan, reksa dana pendapatan tetap mendapat angina segar dari relaksasi pemerintah terkait tarif pajak yang hanya 5% terhadap sejumlah instrument investasi termasuk reksa dana dengan underlying obligasi. Sebelumnya, pemerintah telah menyetujui perpanjangan waktu pengenaan pajak tersebut hingga 2020, sebelum nanti dinaikkan menjadi 15%.

Selain produk pendapatan tetap, lanjut Wawan, investor juga cenderung mencari alternatif produk yang lebih likuid pada 2020. Hal tersebut ditawarkan oleh reksa dana pasar uang. Adapun Infovesta 90 Money Market Fund Index tercatat membukukan kinerja positif 5,83% sepanjang 2019.

Sementara itu, kendati tak sedikit return produk reksa dana saham yang negatif, masih terdapat beberapa produk yang bertumbuh positif. Data Infovesta menunjukkan, 97 produk bertumbuh di atas pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kinerja produk reksa dana saham ini memberikan return positif pada kisaran 2% hingga 34% secara tahunan.

Menurut Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, secara umum, reksa dana saham terbagi atas dua, yakni reksa dana yang dikelola secara aktif oleh menajer investasi dan yang dikelola secara pasif. Biasanya, reksa dana saham pasif cenderung mencetak return yang tidak jauh berbeda dari kinerja IHSG.

Sedangkan reksa sebeldana saham aktif sangat tergantung dari pengelolaan setiap manajer investasi. “Kalau mereka memang jago memilih saham, gain bisa jauh di atas IHSG. Tapi kalau pengelolaannya aneh-aneh, ya risikonya anjlok sampai 80%,” jelas dia.

Oleh karena itu, kata Rudiyanto, setiap manajer investasi perlu lebih transparan dalam pengelolaan produknya kepada investor. Sementara investor disarankan untuk lebih selektif dan sadar terhadap resiko dari setiap produk yang dipilihnya.

Rudiyanto menambahkan, pihaknya cenderung optimistis ada peningkatan dari kinerja reksa dana saham di 2020. Hal ini seiring keyakinan pertumbuhan IHSG yang lebih baik dibanding 2019. Pihaknya menargetkan level IHSG yang lumayan tinggi di tahun ini, yaitu berkisar antara 7.300-7.500.

Optimisme tersebut datang dari berkurangnya resiko politik yang sebelumnya terjadi di tahun 2019. Selain itu, ada sentimen penguatan dari harga minyak sawit mentah, yang turut memicu penguatan di saham-saham emiten kelompok tersebut. Tak ketinggalan, rotasi aliran dana asing yang menuju negara-negara berkembang diprediksi tetap berlanjut pada 2020.

“Sekarang yang menjadi fokus adalah menjaga kepercayaan investor. Kalau memang otoritas jasa keuangan (OJK) mau membuka atau memberikan sanksi kepada manajer investasi dari reksa dana yang menyalahi aturan, ya langsung sekalian banyak saja, jangan satu-satu. Ini supaya investor tidak curiga atau khawatir secara berkepanjangan,” terang dia.

Per 27 Desember 2019, jumlah investor reksa dana yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mencapai 1,76 juta single investor identification (SID) atau naik 77,65% dibandingkan tahun 2018 yang sebanyak 995,51 SID. Jumlah tersebut merupakan jumlah SID terbesar dari komposisi jumlah investor di pasar modal.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA