Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Reksa Dana Saham Siap Bangkit Tahun Ini

Farid Firdaus, Jumat, 10 Januari 2020 | 09:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) optimistis reksa dana saham mampu bangkit tahun ini, setelah tahun lalu secara rata-rata menjadi satu-satunya jenis reksa dana yang membukukan kinerja negatif.

Direktur Eksekutif APRDI Mauldy Rauf Makmur mengatakan, kinerja reksa dana saham akan mengikuti pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG), yang ditargetkan oleh para analis tumbuh positif sekitar 5%-15% pada 2020. Meski demikian, kinerja produk reksa dana saham juga sangat tergantung dari strategi manajer investasi yang dipilih investor.

“Kalau ada penurunan di produk reksa dana saham, itu memang tergantung taktik para manajer investasinya. Apakah mereka mengikuti benchmark indeks LQ45 atau saham-saham mid cap dan small cap,” kata dia di Jakarta, Kamis (9/1).

Mauldy belum dapat berkomentar terkait kasus gagal bayar Asuransi Jiwasraya yang menempatkan investasinya pada sejumlah portofolio reksa dana saham, dan menyeret produk reksa dana tersebut ke level kinerja yang buruk. “Kasus Jiwasraya masih dalam proses penyelidikan oleh pihak-pihak yang berwenang, jadi kami tidak bisa komentar,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data Infovesta, kinerja reksa dana saham yang terukur pada Infovesta 90 Equity Fund Index tercatat minus 8,41% sepanjang tahun lalu. Setidaknya, return 53 produk anjlok secara ekstrem yakni negatif 10%-80%. Di sisi lain, masih ada 97 produk  bertumbuh di atas pertumbuhan IHSG. Kinerja produk reksa dana ini memberikan return positif di kisaran 2% hingga 34% secara tahunan.

Pada kesempatan saham, Ketua Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia Ari Adil berpendapat, reksa dana saham sebagai sebagai produk investasi yang berorientasi secara jangka panjang juga berpotensi diminati oleh investor kelompok milenial. Apalagi, saat ini reksa dana mudah ditransaksikan secara online melalui teknologi finansial (fintech).

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir Desember 2019, dana kelolaan (asset under management/AUM) penjualan reksa dana melalui  fintech baru menyentuh 5%. Sedangkan 95% berasal dari transaksi non-fintech. Namun, dilihat dari jumlah investor, 78% berasal dari fintech dan sisanya non-fintech.

Sementara itu, data KSEI juga menujukkan ebanyak 25% investor reksa dana melakukan transaksi lewat agen penjual, sedangkan 75% transaksi dilakukan langsung ke manajer investasi.  Sebanyak 90%an nasabah reksadana merupakan nasabah individu, sedangkan institusi kurang dari 10%. “Sebesar 40% komposisi investor saat ini diisi oleh kaum milenial. Asosiasi akan fokus terhadap pengembangan fintech ke depan guna menumbuhkan investor reksa dana yang lebih luas,” kata Ari.

Per 27 Desember 2019, jumlah investor reksa dana yang tercatat pada KSEI telah mencapai 1,76 juta single investor identification (SID) atau naik 77,65% dibandingkan tahun 2018 yang sebanyak 995,51 SID. Jumlah tersebut merupakan jumlah SID terbesar dari komposisi jumlah investor di pasar modal. 

Per akhir Desember total AUM industri reksa dana mencapai Rp 542,2 triliun. Angka tersebut meningkat 6,78% dari capaian dana kelolaan Desember 2018 yakni Rp 505,39 triliun.

Dari segi penyebarannya, total dana kelolaan (non-fintech) reksa dana di DKI Jakarta merupakan yang tertinggi sebesar Rp 61 triliun. Kemudian, disusul Jawa Timur sebanyak Rp 13 triliun, Jawa Barat Rp 10 triliun, Sumatera Utara Rp 6 triliun, dan Jawa Tengah 5 triliun.

APRDI menyakini AUM reksa dana pada 2020 bisa tumbuh konservatif di kisaran 15%-20%.  Sentimen dari luar negeri, seperti perkembangan perang dagang AS dan China, konflik antara AS dan Iran masih tetap jadi perhatian pasar.

Reksa dana pendapatan tetap diproyeksikan tetap menjadi andalan investor pada tahun ini lantaran adanya potensi pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia. Selain itu, APRDI dan OJK juga menggiatkan kampanye money market fund sebagai alternatif reksa dana bagi para investor pemula.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN