Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi reksa dana pasar uang

Ilustrasi reksa dana pasar uang

Return Reksa Dana Saham Berpeluang Tumbuh 12% Tahun Ini

Jumat, 19 Februari 2021 | 15:10 WIB
Gita Rosiana

JAKARTA - Tingkat pengembalian (return) reksa dana saham diperkirakan bisa mencapai di 12% tahun ini. Target ini akan didukung oleh pemulihan ekonomi dan meningkatnya indeks harga saham gabungan (IHSG).

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan, tahun ini, IHSG berpeluang menyentuh angka 6.700. "Dengan perkiraan IHSG wajar di 6.700,  return reksa dana saham bisa mencapai sekitar 12%," jelas dia kepada Investor Daily belum lama ini.

Peningkatan return, menurut Rudiyanto juga akan terjadi pada jenis reksa dana lainnya. Dengan portofolio yang sebagian besar ada di saham, reksa dana campuran juga berpeluang mencatatkan return 6-10% tahun ini.

Kendati reksa dana saham akan menjadi primadona tahun ini, bukan berarti reksa dana pendapatan tetap akan menurun. Rudiyanto mengungkapkan, yield (imbal hasil) obligasi negara tahun ini berpeluang menguat ke arah 5,5-5,75% sehingga return reksa dana pendapatan tetap akan mencapai 5-8%. "Sedangkan untuk reksa dana pasar uang, return-nya bisa mencapai 3,5-4,5% tahun ini," ungkap dia.

Pergerakan return reksa dana ini, jauh berbeda dengan realisasi return reksa dana tahun lalu. Seiring dengan IHSG yang menurun 5,09% secara year on year (yoy) pada akhir 2020, return reksa dana saham juga menurun 10,29%. Reksa dana pendapatan tetap menjadi juara return reksa dana pada tahun lalu, yakni mencapai 9%. Sementara untuk reksa dana pasar uang, Rudiyanto menyebutkan, return-nya mencapai 4,61% dan reksa dana campuran terkoreksi 0,36%.

Di sisi lain, Direktur PT Avrist Asset Management Agra Pramudita juga melihat peluang return reksa dana saham di kisaran 10-12% tahun ini. Peningkatan return ini seiring dengan ekspektasi pasar atas valuasi IHSG.

Return reksa dana pendapatan tetap juga berpeluang menguat ke level 5,5-6%. Penguatan ini dengan melihat yield obligasi negara tenor 10 tahun yang bisa mencapai 5,9-6,1%.

Sementara untuk reksa dana campuran, peluang return-nya bisa berada di angka 8-10%. Sedangkan reksa dana pasar uang di level 4-4,5% dengan mempertimbangkan tingkat suku bunga deposito saat ini. Tahun lalu, return reksa dana saham dan campuran Avrist AM terkoreksi masing-masing 6 dan 1%. Namun reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang mencatat return yang signifikan, yakni 11 dan 5,6%.

Direktur Utama PT PNM Investment Management Bambang Siswaji menilai, reksa dana saham memang akan menjadi instrumen menarik tahun ini. Namun, investor masih harus memperhatikan sejumlah isu yang bisa menghambat penguatan reksa dana saham dalam 1-2 kuartal ke depan.

Sejumlah isu itu adalah vaksinasi dan kasus Covid-19, potensi peningkatan kredit bermasalah perbankan pasca relaksasi hingga perkembangan kasus investasi BPJS Ketenagakerjaan serta faktor eksternal lainnya. "Dengan isu tersebut, mungkin return reksa dana saham sedikit di bawah 10%," kata dia.

Oleh karena itu, Bambang menilai, reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan terbaik bagi investor tahun ini. Namun, apabila investor ingin menyeimbangkan risiko di pasar modal bisa memilih reksa dana campuran.

Sementara untuk reksa dana pasar uang, Bambang melihat peluang penguatannya cukup rendah tahun ini. Pasalnya, tingkat inflasi dan BI 7 days reverse repo rate yang berada di level rendah.

Di sisi lain, Fund Manager PT Trimegah Asset Management Augustinus Gerald Windoe mengungkapkan, indeks saham tahun ini bisa mencapai 6.700-6.800. Dengan penguatan indeks itu, reksa dana saham berbasis ekuitas bisa mencetak return 9-10%.

Return ini terbilang besar untuk tahun ini, namun menurut Research Analyst Trimegah Asset Management Irfan Adiputra, investor harus siap dengan volatilitas yang terjadi di pasar saham. Oleh karena itu, investor juga harus memilih produk sesuai dengan profil risikonya.

Bagi investor yang tidak bisa mentolerir fluktuasi itu bisa memilih produk reksa dana pendapatan tetap. Produk ini juga bisa memberikan return relatif tinggi tahun ini di level 5,8%.

Dana Kelolaan

Peningkatan return reksa dana juga akan berdampak positif terhadap dana kelolaan (asset under management/AUM) tahun ini. Asosiasi Presidium Pelaku Reksadana dan Investasi (APRDI) memprediksi, dana kelolaan industri tahun ini bisa bertumbuh 10-15%.

Ketua Presidium APRDI Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan, pertumbuhan tersebut berkaitan erat dengan pemulihan ekonomi domestik. Apabila pemulihan ekonomi berjalan lancar, maka akan berdampak positif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG).

Ketika IHSG meningkat, tentunya produk reksadana dengan underlying saham yang akan meningkat. Namun demikian, produk reksadana pendapatan tetap juga akan bertumbuh karena tingkat suku bunga saat ini berada di level yang rendah. "Dari sisi underlying saham akan tumbuh, underlying fixed income juga akan tumbuh," kata dia.

Dia juga berharap pada program pengelolaan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Program ini akan menggunakan kontrak investasi kolektif (KIK) sehingga bisa berkontribusi besar terhadap industri reksadana.

Direktur Utama PT Trimegah Asset Management Antony Dirga menjelaskan, pihaknya juga berharap dana kelolaan reksa dana bisa bertumbuh tahun ini. Adapun proyeksi AUM tahun ini adalah Rp 21 triliun atau bertumbuh 18,6% dari realisasi 2020 yang mencapai Rp 17,7 triliun.

Perkembangan dana kelolaan ini seiring dengan pulihnya perekonomian nasional. Adanya vaksin Covid-19 dan kebijakan fiskal yang tepat diharapkan bisa menopang pertumbuhan ekonomi sehingga IHSG bisa bergerak ke atas.

Dari sisi kelas aset, reksa dana pasar uang bisa menjadi produk yang paling potensial tahun ini. Produk ini bisa menjadi pintu masuk bagi investor pemula yang sebelumnya sudah menabung di bank.

Setelah itu, investor juga akan perlahan memperluas portofolionya ke reksa dana pendapatan tetap baru ke reksa dana saham. "Tapi bisa juga terjadi short cut yang biasa trading di saham langsung investasi ke reksa dana saham," terang dia.

Adapun per Desember 2020, OJK mencatat dana kelolaan industri reksa dana sebesar Rp 573,54 triliun. Nilai tersebut meningkat 5,78% dibandingkan periode Desember 2019 yang mencapai Rp 542,17 triliun.

Dilihat dari periode sepanjang 2020, Desember 2020 menjadi periode industri reksa dana mencatat dana kelolaan terbesar. Sebelumnya, industri reksa dana juga mencatat dana kelolaan yang cukup besar pada November 2020 sebesar Rp 547,84 triliun.

Dari total dana kelolaan tersebut, reksa dana terproteksi menjadi kontributor utama sebesar Rp 145,26 triliun atau mencapai 25,33%. Kemudian reksa dana pendapatan tetap sebesar Rp 139,15 triliun atau sebesar 24,26%. Selain itu, reksa dana saham dan pasar uang juga mendominasi dana kelolaan pada Desember 2020 dengan angka sebesar Rp 127,79 triliun dan Rp 94,54 triliun.(git)

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN