Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komisaris Utama PT Syailendra Capital Jos Parengkuan (tengah) bersama Direktur Utama Syailendra Fajar Rachman Hidajat  (kedua kanan) dan jajaran manajemen lainnya memperlihatkan Sertifikat Pencatatan perdana reksa dana exchange trade fund (ETF) Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Index di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (5/5/2020). Foto: Humas BEI

Komisaris Utama PT Syailendra Capital Jos Parengkuan (tengah) bersama Direktur Utama Syailendra Fajar Rachman Hidajat (kedua kanan) dan jajaran manajemen lainnya memperlihatkan Sertifikat Pencatatan perdana reksa dana exchange trade fund (ETF) Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Index di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (5/5/2020). Foto: Humas BEI

Syailendra Capital Optimalkan Yield Dua Reksa Dana Indeks

Senin, 26 April 2021 | 12:37 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kinerja reksa dana aktif di Indonesia dipandang kurang menarik, bahkan di bawah benchmark yang menjadi acuan kinerja secara tahunan. Ini terjadi pada rentang tahun 2005 – 2020.

Selain itu proporsi underperforming reksa dana saham aktif juga terbilang cukup besar dalam 5 tahun. Besarnya proporsi underperforming ini memberikan tantangan bagi investor, memastikan produk pilihannya dapat konsisten memberikan imbal hasil yang lebih baik dari benchmark.

Presiden Direktur Syailendra Capital, Fajar R Hidayat menilai meski kinerja kurang baik pihaknya melihat masih ada kebutuhan bagi investor untuk berinvestasi pada reksa dana saham pasif.

“Syailendra sendiri memiliki dua produk reksa dana pasif atau yang juga disebut reksa dana indeks,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (26/4/2021).

Kinerja Actively Managed Equity Funds vs JCI
Kinerja Actively Managed Equity Funds vs JCI

Pertama, Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund (SMSCI). Reksa dana indeks ini mengacu pada indeks MSCI Indonesia Value Index yang berisi saham-saham undervalued. Tapi akan menjadi the rising star dalam jangka panjang

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund akan melakukan investasi dengan komposisi portofolio investasi minimum 80% dan maksimum 100% dari Nilai Aktiva Bersih pada Efek bersifat ekuitas yang diterbitkan oleh korporasi yang ditawarkan melalui Penawaran Umum dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia yang terdaftar dalam MSCI Value Index.

Lalu minimum 0%  dan maksimum 20% dari Nilai Aktiva Bersih pada instrumen pasar uang dalam negeri yang mempunyai jatuh tempo tidak lebih dari 1 (satu) tahun dan/atau deposito.

Hasilnya, tiga bulan terakhir (cutoff date 30 Desember 2020), SMSCI mencatatkan yield 27,3% di tiga bulan terakhir dan 26,7% di enam bulan terakhir.

Kedua, Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Fund. Passive Fund yang bertanggungjawab secara lingkungan dan sosial Syailendra ETF MSCI Indonesia ESG Universal Fund adalah reksa dana indeks yang berinvestasi pada saham-saham dengan skor ESG yang baik dan bertujuan untuk memperoleh imbal balik yang menarik dalam jangka panjang. Reksa dana juga termasuk reksa dana indeks ETF sehingga investor dapat memperdagangkannya kapan saja karena tidak perlu menunggu NAB harian. 

Fajar melanjutkan, reksa dana ini memiliki mandat utama yaitu berinvestasi pada efek saham sesuai dengan bobot indeks yang ingin direplikasi. Tujuan utama dari reksa dana ini adalah untuk memberikan tingkat imbal hasil yang menyerupai indeks acuannya.

Hal ini berbeda dengan reksa dana aktif. Tujuan utamanya adalah untuk mengalahkan indeks acuan sehingga investor memiliki eksposur risiko yang lebih tinggi terhadap manajer investasi.

Keberhasilan dari pengelolaan suatu Reksa Dana Indeks, yaitu jika kinerja reksa dana tersebut sama persis dengan kinerja indeks yang digunakan. Namun, umumnya tidak pernah terjadi karena ada biaya-biaya yang harus dibayar oleh reksa dana tersebut, yaitu biaya manajemen untuk manajer investasi, biaya bank kustodian, dan biaya transaksi jual beli saham atau obligasi.

Oleh sebab itu, ukuran keberhasilan yang sering digunakan adalah seberapa kecil perbedaan antara kinerja suatu reksa dana indeks dengan kinerja indeks itu sendiri yang dikenal dengan istilah Standard Error (SE).

Dikatakan besaran SE yang digunakan dalam suatu reksa dana indeks umumnya adalah 1%. Artinya manajer investasi akan berusaha keras agar kinerja reksa dananya perbedaan maksimumnya hanya 1% lebih tinggi atau lebih rendah dari indeks yang digunakan.

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN