Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Principal Asset Management dan Amartha saat penandatanganan perjanjian kerja sama. Foto: Nabil Al Faruq

Principal Asset Management dan Amartha saat penandatanganan perjanjian kerja sama. Foto: Nabil Al Faruq

Tahun Depan, AUM Principal Asset Ditargetkan Tumbuh 35%

Nabil Al Faruq, Rabu, 30 Oktober 2019 | 17:49 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Principal Asset Management menargetkan dana kelolaan (asset under management/AUM) tahun depan tumbuh 30-35%. Sampai saat ini, AUM manajer investasi (MI) tersebut sudah mencapai Rp 9,2 triliun.

CEO Principal Asset Management Agung Budiono mengatakan, AUM sebesar Rp 9,2 triliun saat ini sudah mencapai target. Namun, tidak menutup kemungkinan bertambah lagi. “Kami mengharapkan hingga akhir tahun ini bisa bertambah lagi mencapai Rp 9,6-9,7 triliun, kalau bisa menyentuh Rp 10 triliun,” kata dia, usai penandatanganan kerja sama dengan Amartha, di Jakarta, Rabu (30/10).

Adapun kontributor terbesar terhadap AUM Principal Asset Management saat ini berasal dari reksa dana pendapatan tetap. Pertumbuhan kelas aset fixed income tersebut lebih signifikan dibandingkan dengan kelas aset yang lain. “Tahun ini kan flow (asing) ke fixed income Indonesia sekitar US$ 9,5-10 miliar secara year to date (ytd),” ungkap Agung.

Lebih lanjut dia mengatakan, tahun ini penuh berbagai macam tantangan dari segi domestik maupun global. Untuk mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi, bank sentral di sejumlah negara pun melakukan pemangkasan suku bunga. Sama seperti emerging markets lainnya, pertumbuhan aset kelas fixed income dan pasar uang Indonesia menjadi lebih tinggi karena pelonggaran moneter tersebut.

Sementara itu, dari produk filantropi yang telah diterbitkan pada 19 Juli 2019 oleh Principal Asset Management saat ini dana kelolaan produk tersebut sudah tumbuh hampir Rp 14 miliar dalam jangka waktu dua bulan. Hal itu diikuti oleh peningkatan jumlah foundation yang dimiliki oleh Principal Asset Management. Ke depan, manajer investasi ini mengharapkan bisa menjadi foundation supermarket.

Mengenai investasi terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG), saat ini Principal Asset Management belum memiliki produk tersebut. Namun, tahun depan, rencananya Principal akan meluncurkan satu produk yang berhubungan dengan sustainable investment.

“Menariknya dari ESG ini sudah menjadi tren di negara maju. Di Indonesia itu tahapnya masih embrio. Dengan adanya jumlah milenial yang cukup besar, kesadaran atas responsible investment yang besar, kita tidak bisa meninggalkan investasi ini,” tutur Agung.

Lebih lanjut, untuk bisa mencapai target baru tersebut, pihaknya melakukan kolaborasi bersama Amartha untuk memperluas penawaran produk reksa dana sambil memberikan edukasi kepada para borrowers (peminjam) di Amartha yang berlokasi di desa. “Kami akan mengirimkan tim yang sudah berpengalaman untuk bisa membantu para borrowers mengenai perekonomian (investasi),” ujarnya.

Kolaborasi yang dijalankan dengan Amartha ini merupakan hal yang positif dan dapat memberikan ketertarikan kepada stakeholders maupun perusahaan aset manajemen yang ingin melakukan hal sama. “Semakin banyak orang melakukan hal ini, justru akan banyak kolaborasi dan mungkin kami bisa menambah kerja sama,” ujarnya.

Adapun tujuan dilakukannya kolaborasi ini, yakni tidak hanya mengedepankan dampak finansial, tetapi juga ingin memberikan dampak sosial. CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menambahkan, sebagai platform alternatif investasi yang berdampak sosial, pihaknya berkomitmen untuk terus mengembangkan produk dalam rangka mendorong inklusi keuangan dan mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). “Dengan layanan reksa dana ini, pendana mempunyai pilihan untuk membuat investasi di Amartha lebih optimal lagi,” ujarnya.

Dalam implementasinya, Amartha akan berkerjasama dengan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) sebagai mitra penjual reksa dana. Kemudian, segmen yang ditargetkan yakni borrowers (peminjam) dan lenders (pemberi pinjaman).

Sementara itu, produk yang ditawarkan Principal Asset Management lewat Amartha adalah reksa dana pasar uang. Menurut Agung, ukuran dari produk tersebut cukup besar. “Kondisi makro ekonomi kita saat ini dapat dibilang kondusif,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA