Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Ilustrasi Investasi. Foto: Goumbik (Pixabay)

Tahun Depan, 'Return' Reksa Dana Saham Bisa Capai 10%

Senin, 12 Oktober 2020 | 07:04 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tingkat pengembalian investasi (return) reksa dana saham diperkirakan pulih tahun depan, dengan perkiraan return sebesar 10%. Hal itu bakal ditopang oleh sentimen perbaikan ekonomi yang bisa berdampak pada kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG), setelah vaksin Covid-19 didistribusikan ke masyarakat.

"Dengan asumsi vaksin dapat membuka lagi aktivitas masyarakat, return reksa dana saham tahun depan bisa mencapai 10%," kata Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Sementara itu, tahun ini, investasi reksa dana masih terfokus pada instrumen pendapatan tetap dan pasar uang. Wawan menyebutkan, return reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang masing-masing diperkirakan mencapai 4-4,5% dan 7-8%.

Sedangkan untuk reksa dana saham, Wawan menilai, bisa mencapai angka positif tahun ini. Namun, demonstrasi menentang Undang-Undang Cipta Kerja dan kericuhannya bisa menekan return reksa dana saham menjadi negatif. "Return negatif reksa dana saham ini terlihat dari penurunan kinerja IHSG. Sebagai informasi, IHSG selama September 2020 menurun 7,03%. Kami masih menunggu laporan keuangan kuartal III-2020 untuk merevisi target," kata dia.

Penurunan ini turut menyusutkan total dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana. Data Infovesta menunjukkan, total AUM reksa dana mencapai Rp 495,24 triliun per akhir September, turun 2,7% dari Rp 509,21 triliun per akhir Agustus.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Edward Lubis mengatakan, pelaku industri memperkirakan perbaikan return reksa dana saham tahun depan. Namun, tahun ini hingga awal tahun depan, investasi reksa dana masih akan terfokus pada instrumen yang defensif seperti reksa dana pendapatan tetap, reksa dana terproteksi, dan reksa dana pasar uang.

Dalam tiga bulan ke depan, dia mengatakan, return reksa dana pendapatan tetap akan berada di angka 1,5-3%. Sedangkan reksa dana pasar uang di sekitar 1-1,5%. Return tersebut, menurut Edward memang cukup rendah, namun lebih baik ketimbang return di reksa dana saham yang bergerak sangat volatile. "Investasi di reksa dana saham saat ini cenderung ke porsi trading di Exchange Traded Fund (ETF)," kata dia.

Diversifikasi Portofolio

Di tengah volatilitas saat ini, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan bahwa investor harus memastikan portofolio investasi telah terdiversifikasi dengan baik sesuai profil risiko masing-masing.

Bagi investor yang memiliki profil risiko berimbang, kata Ivan, investasi bisa ditempatkan di kelas aset saham dan kelas aset pendapatan tetap. Pada aset saham, investor dapat fokus pada reksa dana dengan strategi investasi saham berkapitalisasi besar. “Underlying dari reksa dana ini umumnya akan lebih baik menghadapi goncangan pergerakan market," kata dia.

Adapun porsi investasi yang bisa digunakan adalah 15% di reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi 30%, dan reksa dana pasar uang 55%. Sementara bagi investor dengan profil risiko growth, kata Ivan, dapat menempatkan investasinya dengan porsi di reksa dana saham 60%, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi 20%, dan reksa dana pasar uang 20%.

Menurut Ivan, instrumen investasi yang saat ini menarik untuk dilirik adalah obligasi pemerintah yang baru diluncurkan Kementerian Keuangan, ORI018. Pasar obligasi Indonesia saat ini menawarkan tingkat real yield yang atraktif yakni berkisar 5,5%.

Imbal hasil tersebut cukup atraktif jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Thailand di sekitar 1,9% dan Malaysia di kisaran 4,0%. “Obligasi negara dengan tenor pendek menjadi pilihan yang menarik karena relatif tidak mengalami volatilitas,” ujar Ivan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN