Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tokopedia.

Tokopedia.

Tokopedia Kian Dekati Investor Ritel

Farid Firdaus, Senin, 18 November 2019 | 22:04 WIB

JAKARTA, investor.idOnline marketplace terbesar di Indonesia, Tokopedia semakin membangun kedekatan dengan para pelaku industri pasar modal. Selain berniat melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, unicorn ini juga turut berpartisipasi dalam menggenjot investor ritel.

AVP of Fintech Tokopedia Samuel Sentana mengatakan, selama dua tahun dalam bisnis penawaran produk investasi reksa dana, pihaknya cenderung berkolaborasi dengan berbagai mitra, mulai dari manajer investasi hingga Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI).

“Model bisnisnya kami ambil fee dari manajer investasi, jadi tidak dibebankan langsung kepada customer. Kami menyadari selama dua tahun ini, minat berinvestasi meningkat,” kata Samuel di Jakarta, Senin (18/11).

Minat itu terlihat dari Tokopedia Reksadana yang mengalami peningkatan jumlah transaksi serta pengguna pada kuartal III-2019. Transaksi dan jumlah pengguna masing-masing meningkat hingga 1,5 kali lipat pada September 2019 dibandingkan Maret 2019.

Menurut Samuel, saat ini dua manajer investasi yang menjadi mitra perseroan adalah PT Syailendra Capital dalam produk Syailendra Dana Kas dan PT Mandiri Manajemen Investasi pada produk Mandiri Pasar Uang Syariah Ekstra.

Pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk menggandeng lebih banyak manajer investasi yang kredibel di masa mendatang. “Untuk produk baru reksa dana, akan ada satu hingga dua lagi sampai akhir tahun ini. Setelahnya, kami akan fokus kepada peningkatan transaksi,” jelas dia.

Samuel mengakui, fee yang diraih oleh perseroan dari investasi reksa dana online ini bisa dibilang salah satu bentuk diverisikasi pendapatan. Meskipun, saat ini kontribusinya masih sangat kecil. Pihaknya juga tidak melihat banyak persaingan antara pelaku online marketplace yang terjun ke bisnis ini.

Sebagai informasi, salah satu kompetitor terdekat Tokopedia, yakni Bukalapak juga telah memperluas bisnis ke bidang teknologi keuangan sejak April 2018. Layanan besutan perseroan dikenal dengan nama Bukareksa. Adapun Tokopedia Reksadana dan Bukareksa sama-sama menawarkan pembelian harga reksa dana minimal Rp 10.000 kepada calon investor.

Teranyar, Tokopedia berpartisipasi dalam program yang dicanangkan APRDI, yakni gerakan money market fund dalam memperkuat edukasi investasi dan literasi keuangan. Kampaye bertajuk #InvestasiAjaDulu ini diawasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ketua Presidium Dewan APRDI Prihatmo Hari Muljanto mengatakan, pertumbuhan investasi reksa dana semakin menarik, yang tercermin dari pencapaian jumlah dana kelolaan sebesar Rp 551 triliun per 14 November 2019.

Seiring dengan itu, jumlah investor reksa dana telah menyentuh 1,5 juta single investor identification (SID). Namun komposisinya masih dikuasai oleh investor institusi. “Komposisi dari investor memang masih didominasi oleh investor institusi. Padahal investor ritel merupakan segmen yang sangat strategis ke depan,” kata dia.

Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, total produk reksa dana yang ada di pasar mencapai 2.165 produk. Menurut Direktur Pengelolaan Investasi OJK Sujanto, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta, maka rasio jumlah investor masih tergolong rendah. Saat ini, rasionya diperkirakan sekitar 0,8% dari total penduduk. Padahal, rasio di negara lain mampu menyentuh level 20%.

“Saya harap kampanye Tokopedia dan APRDI bisa sampai ke pelosok Indonesia supaya meningkatkan jumlah investor,” pungkas dia.

Rencana IPO

Dalam proses bertransformasi menjadi super ecosystem, Tokopedia membuka wacana untuk menggelar IPO saham pada masa mendatang. Saat ini, belum ada periode spesifik kapan rencana tersebut akan dieksekusi. Namun, persiapan untuk go public terus dimatangkan.

Misalnya, peningkatan tata kelola serta menujuk individu yang kompeten di jajaran komisaris, seperti bergabungnya mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo sebagai komisaris utama perusahaan sejak Januari lalu.

Berdasakan laporan BloombergChief Executive Officer Tokopedia William Tanuwijaya mengatakan, setelah 10 tahun berdiri, perseroan menargetkan untuk mencapai break event point pada tahun depan.

Gross merchandise value (GMV) diharapkan tumbuh tiga kali lipat menjadi US$ 16 miliar atau sekitar Rp 222 triliun pada tahun ini. Sementara, pihak penjual (seller) ditargetkan menjadi 6,4 juta pada 2019 dari 5 juta pada 2018.

Dual listing kemungkinan besar akan menjadi pendekatan kami. Sekarang, kami dalam proses memilih mitra yang tepat dan percaya pada visi dan misi perseroan,” ujar dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA