Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perusahaan. Foto: Pixabay.

Ilustrasi perusahaan. Foto: Pixabay.

Top 10 MI: Manulife Teratas, Bahana TCW Geser Mandiri Investasi

Senin, 12 Juli 2021 | 08:02 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp 56,67 triliun hingga semester I-2021 atau di posisi teratas. Posisi kedua adalah PT Bahana TCW Investment Management dengan AUM senilai Rp 42,33 triliun atau menggeser PT Mandiri Manajemen Investasi yang memiliki AUM Rp 42,19 triliun.

Manulife mengukuhkan posisinya sebagai manajer investasi (MI) dengan dana kelolaan terbesar sejak kuartal I-2021. Pada posisi itu, Manulife membukukan dana kelolaan sebesar Rp 52,17 triliun. Jika dibandingkan akhir semester I-2021 terjadi peningkatan sebesar 8,62%.

Sementara itu, hingga akhir semester I-2021, Bahana TCW berhasil menyalip Mandiri Investasi yang pada akhir kuartal I-2021 berada di posisi kedua dalam daftar top 10 MI. Mandiri Investasi turun ke posisi tiga.

PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen tetap setia berada di posisi empat dengan dana kelolaan sebesar Rp 40,28 triliun. Begitu juga dengan posisi lima dan enam, yaitu PT Schroder Investment Management Indonesia dan PT Danareksa Investment Management, dengan dana kelolaan masing-masing sebesar Rp 34,23 triliun dan Rp 25,35 triliun.

Selanjutnya, untuk posisi tujuh hingga sepuluh terjadi perubahan yang signifikan. PT Ashmore Asset Management Indonesia mulai merangkak dari posisi sepuluh ke posisi ketujuh dengan dana kelolaan sebesar Rp 23,89 triliun. PT Trimegah Asset Management sebagai pendatang baru muncul dengan menduduki posisi delapan dengan dana kelolaan sebesar Rp 23,36 triliun.

Kehadiran Trimegah menggeser posisi PT BNI Asset Management dan PT Syailendra Capital ke posisi sembilan dan sepuluh dengan perolehan dana kelolaan masing-masing sebesar Rp 21,34 triliun dan Rp 20,58 triliun. Sementara, PT BNP Paribas Asset Management harus tersingkir dari deretan top 10 MI dengan dana kelolaan terbesar. Padahal, pada kuartal I-2021, BNP Paribas masih berada di urutan sembilan.

Secara mayoritas, 10 MI tersebut membukukan penurunan dana kelolaan dibandingkan kuartal I-2021. Hanya beberapa MI seperti Manulife Aset, Ashmore, dan Trimegah yang membukukan peningkatan aset. Penurunan dana kelolaan ini juga sejalan dengan penurunan dana kelolaan reksa dana secara keseluruhan.

OJK mencatat, AUM industri reksadana hingga semester I-2021 mencapai Rp 536,1 triliun atau turun 5,2% dibandingkan kuartal I-2021 yang mencapai Rp 565,87 triliun.

Direktur Utama Trimegah Sekuritas Stephanus Turangan menjelaskan, anak usahanya, yakni Trimegah Asset Management, memang mencatatkan peningkatan sejak akhir 2020, yakni dengan dana kelolaan sebesar Rp 17,6 triliun. Faktor yang mendorong kinerja Trimegah Asset Management adalah produk andalannya, yaitu reksa dana campuran, Trimegah Balanced Absolute Strategy (BASTRA). “BASTRA mencatat kinerja positif sebesar 22% pada akhir 2020," jelas dia, belum lama ini.

Dilihat dari jenisnya, reksa dana pendapatan tetap masih mendominasi dana kelolaan pada semester I-2021 sebesar Rp 143,24 triliun. Kemudian, reksa dana saham sebesar Rp 122,14 triliun, reksa dana pasar uang sebesar Rp 103,19 triliun, reksa dana terproteksi sebesar Rp 102,04 triliun, dan sisanya dikontribusi oleh jenis reksa dana lainnya.

Return

Sementara dari sisi return, Infovesta mencatat reksa dana pasar uang mencatat kinerja tertinggi, yakni 1,68% pada semester I-2021 dibandingkan akhir 2020. Kinerja positif juga dicetak reksa dana pendapatan tetap sebesar 0,63%.

Sedangkan reksa dana campuran dan saham mencatat kinerja yang kurang menggembirakan, yakni terkoreksi 3,74% dan 9,27%. Padahal, indeks harga saham gabungan (IHSG) di posisi yang sama mencatatkan kinerja positif 0,11%.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayatna menjelaskan, meski reksa dana saham masih mencatat kinerja negatif, namun dia optimistis reksa dana saham bisa membukukan kinerja yang positif tahun ini. Hal ini berbanding terbalik dengan tahun lalu yang terkoreksi 6,93%.

Keberhasilan vaksinasi Covid-19, menurut Wawan, menjadi faktor penentu pertumbuhan kinerja reksa dana saham tahun ini. Dengan keberhasilan vaksin itu, return reksa dana saham tahun ini bisa mencapai 10%.

Pertumbuhan reksa dana saham ini, lanjut Wawan, akan berlanjut hingga 2022. Kinerja emiten yang berangsur membaik menjadi hal yang akan mendukung kinerja pasar modal dan reksa dana saham tahun depan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN