Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Insight Investments Management, Ekiawan Primaryanto.

Direktur Utama PT Insight Investments Management, Ekiawan Primaryanto.

Volatilitas Masih Tinggi, Investor Bisa Pilih ETF

Jumat, 27 November 2020 | 13:11 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – PT Insight Investments Management menilai perkembangan kasus Covid-19 masih akan membuat pasar diliputi ketidakpastian. Optimisme pasar atas perkembangan terbaru vaksin Covid-19 mulai mereda.

“Kami lihat ke depan masih terdapat ketidakpastian, terutama dari perkembangan kasus Covid-19 dan vaksin tentunya,” kata Direktur Utama Insight Investments Management Ekiawan Primaryanto dalam keterangannya, Kamis (26/11).

Ekiawan menjelaskan, faktor pengerak pasar saat ini di antaranya hasil pilpres Amerika Serikat yang memenangkan Joe Biden dari Partai Demokrat. Kemenangan Biden berdampak positif pada indeks harga saham gabungan (IHSG) karena kebijakan Partai Demokrat biasanya lebih populis, sehingga secara fiskal lebih ekspansif.

“Hal itu akan menyebabkan dolar AS tetap melemah, ditambah kenaikan pajak korporasi dari sebelumnya 22% jadi 28%, sehingga dapat menekan earning per share emiten AS ke depannya,” ungkap Ekiawan.

Menurut Ekiawan, kondisi itu akan mendorong berpindahnya alokasi aset dari negara maju ke negara berkembang. Selain itu, pasar digerakkan oleh sentimen vaksin Covid-19. Vaksin yang dibuat Pfizer dan BioNTech diklaim efektif 95%. Namun, suhu penyimpanannya harus sampai minus 70 derajat celcius, sehingga mempersulit distribusi. Adapun vaksin yang dikembangkan Moderna diklaim efektif 94,5% dan bisa disimpan di suhu minus 2-8 derajat celcius.

Faktor penggerak lainnya adalah sentimen dari domestik, yakni rilis laporan keuangan emiten perbankan yang cukup memuaskan. Bank-bank besar nasional melaporkan peningkatan profitabilitas pada kuartal III 2020. “Aliran dana asing ke pasar saham dalam 3 hari awal pekan lalu senilai Rp 3 triliun, yang utamanya masuk ke saham sektor perbankan,” jelas Ekiawan.

Meski demikian, menurut dia, lonjakan kasus baru Covid-19 akan membuat kondisi pasar masih volatile. Berdasarkan hasil riset Insight, penurunan IHSG sejak Maret 2020 diikuti oleh volatilitas yang mencapai puncaknya sejak 2015. Ini menunjukkan penurunan indeks yang diikuti oleh peningkatan volatilitas masih akan tinggi hingga akhir 2020.

“Karena volatilitas yang masih sangat tinggi, kami sarankan investor bisa memanfaatkan fitur fleksibilitas dalam transaksi pada reksa dana exchange traded fund (ETF),” tutur Ekiawan.

Menurut dia, fitur yang tersedia pada ETF memungkinkan investor bisa seperti trader, sehingga bisa hit and run. “Di tengah kondisi pasar baik domestik maupun global yang cenderung fluktuatif, kehadiran produk Reksa Dana Insight ETF FTSE Indonesia Low Volatility Factor Index bisa menjadi alternatif investasi,” ujarnya.

Namun, jika investor berinvestasi di reksa dana konvensional yang cenderung buy and hold, Ekiawan menjelaskan, investor akan sulit mendapatkan imbal hasil maksimal. Investor bisa menerapkan strategi trading dengan melihat potensi downside dan upside-nya melalui investasi di Reksa Dana Insight ETF FTSE Indonesia Low Volatility Factor Index.

Reksa Dana Insight ETF FTSE Indonesia Low Volatility Factor Index resmi diluncurkan di Bursa Efek Indonesia pada 11 Juni 2020 dan telah berhasil memberikan return sebesar 11,39% (berdasarkan data Infovesta, 17 November 2020). Reksa dana ini ditujukan untuk memberi hasil investasi yang optimal melalui ekuitas yang diterbitkan oleh korporasi di BEI.

Menunjuk PT Bank Central Asia Tbk sebagai bank kustodian, net asset value (NAV) per unit reksa dana ini hanya Rp 100 atau merupakan salah satu yang terendah di industri. “FTSE Indonesia Index Low Volatility Factor merupakan market cap weighted index yang merepresentasikan performa dari saham big cap dan mid cap di Indonesia yang memiliki faktor volatilitas lebih rendah dari FTSE Indonesia Index,” jelas Ekiawan.

Layaknya berinvestasi di instrumen saham, pembelian dan penjualan UP reksa dana ETF dapat dilakukan sepanjang hari dengan harga yang tercatat di BEI selama jam perdagangan bursa. Sehingga, investor dapat bertransaksi dengan harga dan waktu secara real time. Selain itu, transparansi isi portofolio reksa dana ini juga menjadi faktor penting dalam memilih instrumen investasi.

Reksa dana ETF memenuhi syarat transparansi yang lebih dalam dibandingkan reksa dana konvensional. Pembelian ETF ini dapat dilakukan sebagaimana bertransaksi saham di Bursa Efek Indonesia melalui semua mitra sekuritas yang dimiliki investor, dengan kode XILV. Para investor dapat mulai dengan dana minimum Rp 10.000 untuk berinvestasi di XILV.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN