Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gedung The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Gedung The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. ( Foto: AFP )

Volatilitas Meningkat, MAMI Pasang Strategi Ini

Sabtu, 17 April 2021 | 18:05 WIB
Parina Theodora

Jakarta- Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan kinerja negatif 4,11% di Maret 2021, merupakan cerminan kekhawatiran pasar akan lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS). Proses vaksinasi yang berjalan baik dan stimulus Presiden Biden akan mempercepat pemulihan ekonomi, sehingga dikhawatirkan inflasi AS meningkat. Lonjakan inflasi ini berpotensi The Fed akan menaikan suku bunganya.

Sentimen ini tercermin dari melonjaknya imbal hasil US Treasury (UST) yang naik dari kisaran 0,9% di akhir 2020 ke kisaran 1,7% di akhir Maret 2021. Untuk diketahui, UST merupakan instrumen penting dalam pasar finansial global karena digunakan sebagai acuan aset risk-free (aset bebas risiko) dan menjadi salah satu metrik acuan untuk berbagai instrumen finansial lain secara global.

Imbal hasil UST juga dapat mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter The Fed. Oleh karena itu melonjaknya imbal hasil UST menyebabkan ketidakpastian dan volatilitas di pasar finansial global.

Kondisi tersebut mengakibatkan pasar saham Indonesia mengalami volatilitas. Meski begitu, Samuel Kesuma, Senior Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia mengatakan faktor fundamentallah yang menjadi pengerak utama kinerja pasar saham dalam jangka panjang. “Saat ini kami melihat fundamental ekonomi dan emiten Indonesia mengarah pada level yang lebih baik dibanding tahun lalu sehingga dapat berdampak positif pada kinerja pasar saham,” katanya.

Ada beberapa faktor yang menurutnya, menjadi sentimen yang suportif bagi pasar saham Indonesia. Pertama, proses vaksinasi yang membaik sehingga dapat mendorong pemulihan ekonomi dan keyakinan masyarakat dan dunia usaha. Kedua, kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia yang lebih proaktif untuk mendukung pemulihan ekonomi melalui berbagai insentif seperti di sektor otomotif dan properti. Dan, pertumbuhan laba emiten yang diperkirakan membaik di 2021 dibandingkan kontraksi yang terjadi di 2020.

Menurutnya, koreksi pasar yang terjadi malahan menjadi peluang untuk masuk secara bertahap ke beberapa sektor yang memiliki potensi menarik di tengah dinamika pasar saat ini. “Sektor komoditas dapat menjadi beneficiary dari pemulihan ekonomi global dan juga fokus pada green economy. Sektor telekomunikasi juga menarik didukung oleh keluarnya sektor ini dari daftar negatif investasi sehingga membuka potensi masuknya investasi asing. Selain itu sektor properti juga menjadi salah satu sektor yang menarik didukung oleh insentif pemerintah yang dapat meningkatkan minat pasar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, di tengah kondisi pasar yang sangat dinamis pihaknya terus mencermati perkembangan terkini pasar global dan domestik. “Kami juga memanfaatkan jaringan global Manulife Investment Management untuk mendapatkan analisa terkini yang dapat membantu tim investasi kami untuk membentuk posisi portofolio yang optimal,” pungkasnya.

 

Editor : Parina Theodora (theo_olla@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN