Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Rawan Dibobol, Polri Ingatkan Pengguna Internet Banking

Kamis, 16 April 2015 | 10:45 WIB
ah

JAKARTA – Direktorat Pidana Khusus Bareskrim Polri masih mencari cara untuk menangkap pelaku pembobol internet banking dengan modus menyebar virus malware. Pelaku diduga warga asing yang bermukim di Ukraina.Jika kasus ini dibiarkan, bisnis perbankan dalam negeri terancam.


"Kami kerja sama dengan interpol untuk menangkap pelaku sekaligus mengimbau pengguna internet banking agar tidak menggunakan (sistem) Windows bajakan dalam aktivitas perbankan online," kata Direktur Pidana Khusus Brigjen Victor Simandjuntak di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/4).


Victor mengatakan, korban pembobolan bank mencapai 300 nasabah dengan total kerugian Rp 130 miliar. "Minggu depan kami akan kumpulkan perbankan untuk ikut mencari cara menutup celah ini. Dalam kasus ini ada bank yang mengganti rugi nasabahnya, ada yang tidak," sambung Victor dan menolak menyebutkan tiga bank yang nasabahnya dibobol itu.


Menurut jenderal bintang satu itu, jika kasus ini dibiarkan, semakin banyak dana nasabah yang dibobol sehingga bisnis perbankan dalam negeri terancam.


"Bayangkan jika terus dibobol, bank-bank dalam negeri bisa kolaps. Kami juga akan panggil ahli untuk ikut menangani kejahatan ini sekaligus mengimbau nasabah untuk tidak memakai Windows bajakan yang gampang disusupi malware.


Belum ada laporan pengguna non Windows bajakan yang disusupi malware ini," tambahnya. Menurut Victor modus dalam kasus ini tergolong canggih. Pelaku menyebarkan virus malware melalui internet. Biasanya masuk lewat email korban. Virus itu kemudian menyusup ke dalam komputer tanpa disadari penggunanya. Virus lalu "memata-matai" aktivitas korban, termasuk aktivitas internet banking.


"Jadi virus itu memonitor korbannya. Begitu korban melakukan aktivitas internet banking, virus itu menyalin data dan informasi korbannya (termasuk PIN dan nomor rekening) dan mengirimkan pada pelaku. Berbekal data ini kemudian dimanfaatkan pelaku untuk membobol rekening korban," sambung Victor.


Dengan PIN dan rekening korban, pelaku tanpa kesulitan membobol rekening korban melalui internet banking. Cara bisa menguras rekening korban secara langsung atau menunggu korban mentransfer lewat internet banking, dimana transferan itu dibelokkan ke

rekening pelaku tanpa disadari korban.


"Misalnya korban A hendak mentransfer ke rekening B. Ternyata proses ini dibelokkan masuk ke rekening C selaku rekening milik para kurir pelaku. Kurirnya itu yang mengaku tidak tahu jika itu aktivitas ilegal karena di-cover dengan bisnis properti, lantas meneruskan hasil dana kejahatan itu ke rekening pelaku di Ukraina lewat Moneygram atau Western Union," beber Victor. (b1)

Editor : Juang N Hutagalung (juang.natigor@investor.co.id)

BAGIKAN