Sabtu, 1 April 2023

Sekali Berarti, Sesudah Itu Mati

Gora Kunjana
15 Feb 2016 | 16:49 WIB
BAGIKAN

Masih familiar dengan kalimat Sekali Berarti Sesudah Itu Mati? Ya, itu adalah bait kedua puisi berjudul Maju karya Chairil Anwar. Meski diciptakan ‘Si Binatang Jalang’ untuk mengobarkan semangat perjuangan mengusir penjajah tujuh dekade silam, sajak tersebut masih relevan sampai sekarang. Bahkan, banyak yang terinspirasi oleh kalimat yang menggetarkan itu, salah satunya Aris Boediharjo.


“Puisi tersebut benar-benar memotivasi saya. Mumpung kita hidup, harus bermanfaat untuk keluarga, untuk kantor, dan orang lain. Saya senang dimanfaatkan. Orang kalau nggak bisa dimanfaatkan berarti nggak ada gunanya,” ujar chief executive officer (CEO) PT Fortune Indonesia Tbk itu kepada wartawati Investor Daily Mardiana Makmun di kantornya, bilangan Ragunan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Advertisement


Aris Boediharjo percaya bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai jika seseorang berperilaku dan bersikap persisten (gigih, ulet, pantang menyerah). Namun, Aris bukan tipe pemimpin yang kaku, apalagi otoriter. Bagi pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1960 ini, di kantornya tidak ada bos dan anak buah, tidak ada senior dan junior.


“Semua teman. Yang membedakan hanya peran dan tanggung jawab kami dalam organisasi,” tegas Aris yang membawahkan lini bisnis bidang periklanan, public relations (PR), brand activation, dan digital marketing.


Salah satu mimpi terbesar Aris Boediharjo di Fortune Indonesia adalah memproduksi pemimpin (leader) sebanyak mungkin.


“Di Fortune banyak orang bertalenta. Mereka harus dikembangkan dan dikasih tantangan yang berbeda dengan zaman saya dulu,” tutur peraih The Most Promising Leader 2015 dari Asia Pacific Entrepreneurship Awards (APEA) 2015 itu. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.


Bagaimana perjalanan karier Anda sehingga masuk industri periklanan dan PR?

Saya pertama kali bekerja di majalah Sarinah sebagai asisten marketing manager pada 1986. Saat itu, saya juga masih kuliah semester akhir. Di majalah Sarinah, saya sering berinteraksi dengan biro iklan. Dari situ saya mulai tertarik bidang periklanan.


Setelah tiga tahun di Sarinah, saya bergabung dengan perusahaan periklanan asing, Leo Burnnet pada 1990. Saya masuk di bagian media. Lalu, bos lihat saya kok cocok di account services, di marketing. Jadilah saya dipindah ke sana.


Apa menariknya bidang periklanan?

Ini dunia yang memadukan art dan science. Bagaimana kita dituntut menjadi orang kreatif dan bisa meyakinkan klien bahwa strategi yang kita kasih bisa menjadi solusi bisnisnya. Saya merasakan nikmat dan tantangannya. Di bidang ini, kita selalu melakukan pitching, suatu tantangan yang sangat menarik. Selalu pitching karena nggak ada klien yang datang sendiri lalu langsung kasih proyek.


Mengapa akhirnya Anda bergabung dengan Fortune Indonesia?

Pada 2002, saya bergabung dengan PT Fortune Indonesia Tbk sebagai deputi social marketing director. Saat itu, saya melihat banyak perusahaan periklanan yang tiarap karena krisis moneter, tapi kok Fortune malah go public.


Di Fortune, saya ikut melakukan recovery. Untuk recovery, kami menerapkan filosofi ‘Berubah atau Punah’. Pada 2003, Fortune sudah pulih. Posisi saya kemudian naik menjadi direktur operasional.


Apa saja yang dilakukan dalam melakukan recovery?

Bersama tim, kami menerapkan manajemen krisis lewat filosofi ‘Berubah atau Punah’. Kalau nggak berubah, kami akan punah. Untuk berubah, paradigma teman-teman harus diubah. Harus punya sense of crisis untuk bersamasama mengembalikan bisnis dari kondisi sulit ke profit. Kami juga create pasar dan melakukan restrukturisasi perusahaan.


Seperti apa misalnya?

Contohnya kami melakukan kampanye Back to School bekerja sama dengan Unicef. Kampanye ini berhubungan dengan krisis. Akibat krisis, banyak orang tua membiarkan anaknya tidak sekolah. Kampanye ini ingin mengubah pikiran masyarakat, bahwa apapun yang terjadi, anak tetap harus sekolah. Kampanye ini cukup berhasil dan mendapat penghargaan dari Bank Dunia.


Keberhasilan lainnya?

Itu untuk kampanye sosial Kalau untuk komersial, salah satu program yang berhasil dilakukan adalah kampanye Honda Matic. Selain produknya harus bagus, target pasarnya harus tepat sebagai pilihan bagi orang yang ingin menggunakan sepeda motor matic. Maka harus bikin positioning yang pas, karena semua berawal dari positioning yang pas.


Dengan positioning yang pas dan menggunakan brand ambassador Agnes Monica, Honda yang baru belakangan bermain di matic, malah menyalip Yamaha Mio. Keberhasilan ini juga berkat perpaduan kampanye iklan dengan public relations dan brand activation secara terintegrasi.


Bagaimana Anda melihat kondisi industri periklanan di Indonesia saat ini?

Saya melihat dunia advertising sudah bertransformasi. Kita lihat lanskap media sudah berubah. Televisi saja sudah berpuluh-puluh channel. Dengan perkembangan teknologi, sekarang pun ada media digital, juga ada media sosial. Ini membuat Fortune akhirnya membangun digital unit. Di sini ada digital maketing dan digital media. Kami juga siapkan sumber dayanya dengan membuat talent pool bekerja sama dengan sejumlah universitas.


Kontribusi terbesar di Fortune masih periklanan?

Ya, periklanan menyumbang lebih dari 50%, digital marketing 20%, sisanya disumbang public relations dan brand activation.


Nilai-nilai apa yang Anda terapkan di perusahaan dan kehidupan sehari-hari?

Kendu, yang berasal dari can do (dapat atau mampu melakukan). Kendu-lah yang melandasi nilai-nilai dalam menjalankan perusahaan dan kehidupan sehari hari.


Anda punya gaya leadership seperti apa?

Tidak ada bos dan anak buah, tidak ada senior dan junior, semua teman. Yang membedakan adalah peran dan tanggung jawab kami dalam organisasi.


Filosofi hidup Anda?

Saya sangat inline dengan kalimat Sekali Berarti Sesudah Itu Mati dalam bait puisi berjudul Maju karya Chairil Anwar. Kalimat itu benar-benar memotivasi saya. Mumpung kita hidup, harus bermanfaat untuk keluarga, untuk kantor, dan orang lain. Saya senang dimanfaatkan. Orang kalau nggak bisa dimanfaatkan, berarti nggak ada gunanya.


Kiat Anda dalam mencapai kesuksesan?

Kiat saya adalah persisten.


Apa sebetulnya mimpi Anda di bidang ini?

Memproduksi leader. Saya harus bisa memproduksi leader. Di Fortune, banyak orang bertalenta. Mereka harus dikembangkan dan dikasih tantangan yang berbeda dengan zaman saya dulu. Saya lihat, banyak yang justru bisa menjawab tantangan dari saya. Tentu saya juga bertekad terus membawa Fortune Indonesia menjadi mitra terpercaya klien dalam mengembangkan bisnisnya. Kami ingin menjadi perusahaan yang mampu menghasilkan karyakarya unggul dan bisa menjadi solusi dalam bisnis klien. Itu goal-nya.


Baca juga di http://id.beritasatu.com/home/lupa-umur-gara-gara-moge/139582

Sumber : Investor Daily

Editor: Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN

Berita Terkini


Business 6 menit yang lalu

Cegah Praktik Tying Sales Minyakita, KPPU Advokasi Ratusan Pelaku Usaha

Realisasi produksi minyak goreng kemasan rakyat Minyakita hanya sekitar 24% dari total program minyak goreng rakyat.
Market 29 menit yang lalu

Kuartal I-2023, Total Emisi Obligasi dan Sukuk Tembus Rp 27,46 Triliun

BEI menyebut, total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat sepanjang tahun ini atau kuartal I-2023 tembus Rp 27,46 triliun.
Market 56 menit yang lalu

Perkuat ESG, DOID Gandeng Torajamelo

BIRU siapkan utang yang dapat dikonversi menjadi saham senilai Rp7,5 miliar yang akan dimanfaatkan untuk tingkatkan dampak sosial Ahana.
Market 1 jam yang lalu

BEI Hentikan Sistem Perdagangan FITS, Mengapa?

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian layanan sistem perdagangan Fixed Income Trading System (FITS). Mengapa?
International 1 jam yang lalu

ASEAN Sumbang 3% dari PDB Riil Dunia

Kapasitas ASEAN harus diperkuat untuk menjawab tantangan hari ini, dan tantangan 20 tahun ke depan.
Copyright © 2023 Investor.id