Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Harun Hajadi, Sukses Bukan Sekadar Menyelesaikan Hal-hal Besar

Senin, 15 Agustus 2011 | 10:34 WIB
Antara

Apa modal utama yang harus dimiliki seorang pemimpin perusahaan? Harun Hajadi punya tiga kunci jawaban, yaitu kerja keras, integritas, dan jaringan ( networking). Tanpa ketiga hal itu, menantu Ciputra ini mengaku bukan siapa-siapa. Lalu, apa kata Harun tentang kesuksesan?

Ciputra Group telah berkembang menjadi grup property raksasa di Indonesia. Perusahaan yang memulai debutnya pada Oktober 1981 itu telah mengembangkan proyek di 25 kota Indonesia dan ditargetkan menjadi 30 kota pada akhir tahun ini. Grup ini juga sudah memiliki tiga perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu PT Ciputra Development Tbk, PT Ciputra Surya Tbk, dan PT Ciputra Property Tbk.

Kesuksesan Ciputra Group yang didirikan pengusaha ternama, Ciputra, ini tidak lepas dari keberhasilan generasi penerus, di antaranya Harun Hajadi, sang menantu. Harun yang kini menjabat sebagai managing director Ciputra Group, terlibat langsung membawa perusahaan tersebut ekspansi ke berbagai kota Indonesia, termasuk membangun proyek di luar negeri, seperti Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok.

Dalam menjalankan bisnis, Harun Hajadi memegang teguh prinsip kerja keras, integritas, dan networking. “Tanpa itu semua, tidak mungkin kami bisa menjalankan bisnis dengan baik dan diterima masyarakat,” ujar Harun Hajadi kepada wartawan Investor Daily Edo Rusyanto, Parluhutan Situmorang, Eko Adityo Nugroho, dan pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, belum lama ini.

Dalam soal kesuksesan, Harun Hajadi punya ukuran sendiri. Bagi Harun, sukses berarti berhasil merealisasikan sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya. Tapi kesuksesan bukan sekadar menyangkut kemampuan menyelesaikan dengan baik hal-hal besar. “Kesuksesan juga termasuk menyelesaikan hal-hal kecil,” tuturnya.

Harun yang pernah bekerja di perusahaan real estat di San Mateo, California, Amerika Serikat (AS), juga berupaya menciptakan sistem manajemen yang efisien dan saling terbuka. Itu sebabnya, setiap karyawan, mulai dari direksi hingga staf biasa, tidak memiliki ruangan khusus. Semuanya berada dalam satu ruangan.

“Itu untuk menciptakan saling keterbukaan antara direksi dan karyawan,” papar Harun. Berikut petikan lengkap wawancara dengan bapak tiga anak itu.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga menduduki posisi managing director Ciputra Group?
Saya pertama kali bertugas di Ciputra Group pada 1988. Tugas pertama saya bukan di belakang meja, tetapi di lapangan, yaitu membebaskan lahan di Surabaya. Tugas saya setiap hari masuk kampung, bertemu masyarakat, lurah, dan camat. Karena bertugas di lapangan, saya juga harus menyesuaikan penampilan dengan berpakaian jeans, bukan jas.

Saya ditugasi membebaskan lahan untuk proyek Citraland Surabaya. Pembebasan lahan dilaksanakan pada 1988 hingga 1993. Luas lahan yang dibebaskan mencapai 350 hektare (ha). Pembebasan lahan ini merupakan pengalaman pertama saya, yaitu bagaiman berhubungan dengan orang kampung dan perangkat pemerintahan di sana. Kontruksi propertinya dimulai pada 1993 setelah kami berhasil membebaskan seluruh lahan. Setelah berhasil mengakuisisi lahan pengembangan, jabatan saya kemudian naik menjadi manajer pengawasan konstruksi. Setahun setelahnya, saya diangkat menjadi direktur Ciputra Development dan tugas saya adalah membawa perusahaan listed di bursa efek.

Apa yang Anda lakukan setelah menjabat sebagai direktur Ciputra Development?
Kami terus berekspansi setelah menjadi public company hingga 1998, yaitu sebelum krisis keuangan melanda Indonesia. Pada 1998, ekpansi perusahaan terhenti dan tuga saya beralih menjadi tukang membereskan utang. Pada periode 1998-2000, saya menghabiskan waktu setiap hari untuk bernegosiasi dengan bankir dan kreditor dalam rangka merestrukturisasi dan me-reschedule utang-utang perusahaan.

Kami berprinsip, utang-utang harus dibereskan terlebih dahulu agar ekspansi tidak membebani perusahaan ke depan. Setelah negosiasi utang rampung, pada 2001 kami kembali ekspansi dengan mengembangkan berbagai proyek property baru. Ekspansi perdana setelah krisis moneter yaitu di Bali dan Medan. Berkat kesuksesan merestrukturisasi utang, sejak tahun itu kami terus ekspansi hingga memasuki usia ke-30 ini.

Apa pelajaran paling berharga dari krisis moneter 1998?
Kami berprinsip bisa cepat bertumbuh, tetapi sekaligus hati-hati dalam ekspansi. Salah satu pelajaran paling berharga adalah jangan membeli tanah dengan mengandalkan pendanaan melalui utang, karena tidak prudent. Perusahaan property yang ingin membeli tanah harus menggunakan ekuitas, tetapi jika lahan ini ingin dikembangkan dengan mengandalkan pinjaman, tentu tidak masalah. Jika kondisi pasar sedang buruk, perusahaan yang mengandalkan pinjaman untuk membeli cadangan lahan pasti terganggu. Sebab, tanah tidak menghasilkan, kalau tidak dibangun property di sana.

Sebelum krisis moneter 1998, kami ekspansi menambah cadangan lahan dengan mengandalkan pinjaman perbankan. Kondisi ini membuat perusahaan sempat goyang dan kami harus menghabiskan banyak waktu untuk membereskan utang-utang tersebut. Bahkan, tidak sedikit perusahaan properti bangkrut akibat tidak sanggup membayar utangnya setelah krisis moneter datang.

Pengalaman lainnya adalah bagaimana cara merestrukturisasi utang. Kami punya pengalaman baik dalam menyelesaikan utang, di antaranya ketika mengonversi utangutang Ciputra Surya menjadi ekuitas tanpa harus menggelar penawaran umum perdana (IPO) saham lewat bursa saham. Ciputra Surya merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang listing di bursa tanpa melalui IPO saham pada 1999.

Selain itu, kami berhasil membenahi manajemen perusahaan lebih baik dan kuat. Nilai kapitalisasi pasar Ciputra Group pun kian besar, sekitar Rp 4 triliun. Kami kini memiliki total  land bank sekitar 2.700 ha.

Bisa dijelaskan proyek yang telah, sedang, dan akan digarap?
Kami sudah mengembangkan proyek di 25 kota, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Bekasi, Tangerang, Bogor, Bandung, Medan, Pekan Baru, Jambi, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Denpasar, Manado, Kendari, Ambon, dan Pekalongan. Sedangkan lima proyek lainnya yang sedang memasuki tahap penjajakan adalah Tegal, Pontianak, Palu, Jayapura, dan Pangkal Pinang.

Sedangkan proyek Ciputra di luar negeri adalah di Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok. Kami lebih memilih pengembangan proyek residensial. Kami menargetkan pengembangan 10 proyek. Sejumlah proyek telah diluncurkan tahun ini, seper ti di Kendari, Pekanbaru, Jambi, Bandung, Jakarta, dan Pekalongan. Setiap proyek membutuhkan dana investasi bervariasi. Kami juga punya proyek besar Ciputra World Surabaya (CWS) dengan investasi hingga Rp 1 triliun.

Seketat apa kompetisi industri properti di Tanah Air?
Bisnis properti Indonesia sangat fragmented tidak seperti industri lainnya, misalnya industri mie. Perusahaan pengembang sangat banyak di Indonesia, bahkan dalam satu kota bisa terdiri atas puluhan perusahaan properti.

Bagaimana menyiasatinya?
Kami harus bergerak lebih lincah. Meskipun banyak pemain, Ciputra tetap berkonsentrasi mengembangkan proyek rumah tapak di berbagai daerah. Kami melihat bisnis ini risikonya lebih rendah dibandingkan proyek lainnya. Misalnya ada lahan 50 ha terjual 50 rumah, maka kami hanya cukup mengeluarkan dana pengembangan 50 rumah saja. Berbeda halnya dengan apartemen, misalnya terjual 60 unit, pengembang harus tetap membangun satu menara.

Tidak tertarik property vertikal, seperti apartemen?
Kami sudah sangat nyaman dengan bisnis residensial tapak. Bisnis model ini paling tepat bagi kami dan tentu return yang ditawarkan juga sangat menarik. Risikonya pun lebih rendah. Hampir 80% pendapatan perusahaan disumbangkan penjualan rumah tapak, sisanya penjualan unit apartemen, hotel, dan pusat perbelanjaan. Pengembangan properti ke depan memang menuju bangunan vertikal. Hanya saja, kami menilai model ekspansi properti landed houses ke berbagai kota di Indonesia adalah yang paling tepat bagi Ciputra.

Apa kekhasan model bisnis Ciputra Group dibandingkan pengembang lain?
Kami mengandalkan kondisi lingkungan yang baik dan menjaga konsistensi pada setiap proyek yang dikembangkan. Lingkungan bukan hanya infrastruktur, penerangan, hijau, tetapi juga fasilitas dan kondisi jalan yang tepat, termasuk detail lingkungan hijau di setiap ruang.

Kami berhasil menciptakan komunitas dan gaya hidup baru pada setiap proyek properti. Masyarakat yang tinggal di perumahan Ciputra pasti memiliki gaya hidup berbeda. Ciputra merupakan pengembang yang menciptakan gaya hidup sesuai kebutuhan masyarakat. Kami juga konsisten mengembangkan proyek dalam arti kualitas bangunan memiliki standar serupa di seluruh daerah pengembangan. Kami konsisten membangun proyek sesuai perjanjian awal dengan konsumen.

Konsep bisnis ke depan bagaimana?
Kami akan mempertahankan posisi sebagai pengembang berkualitas. Kami akan menjaga kualitas proyek, meskipun proyek yang dikembangkan merupakan rumah sederhana seharga Rp 60 juta. Meskipun harganya murah, kawasan perumahan dijaga seperti real estat. Pengembangan properti berkualitas untuk perumahan bawah tidak selamanya mengurangi margin keuntungan.

Buktinya, kami berhasil mempertahankan margin keuntungan hingga 30% dari proyek-proyek rumah murah. Kami ingin tetap menjadi the best quality untuk proyek rumah kelas bawah. Prinsip ini tidak hanya diberlakukan bagi proyek perumahan mewah.

Prinsip dan nilai-nilai apa yang Anda pegang dalam bekerja?
Saya memegang teguh tiga prinsip hidup, yaitu kerja keras, integritas, dan networking. Tanpa ketiga hal tersebut, saya bukan siapa-siapa. Berkat filosofi itu, saya bersama Ciputra Group bisa merambah hingga 25 kota di Indonesia, bahkan ditargetkan mencapai 30 kota pada ulang tahun yang ke-30 tahun ini.

Kalau dulu kami mengandalkan pembebasan lahan untuk setiap ekspansi. Berkat networking yang sudah terbangun, kami tetap bisa ekspansi dan masuk ke daerah-daerah hanya dengan mengandalkan kerja sama. Melalui networking, kami bisa memiliki mitra untuk pengembangan properti di daerah. Selain membina networking, kami bekerja secara jujur dengan setiap mitra, sehingga setiap kali ingin memasuki daerah baru, kami selalu mendapatkan mitra. Itu karena kami punya integritas. Untuk mencapai kesuksesan, kerja keras sudah pasti harus dilakukan.

Apa filosofi hidup Anda?
Saya menerapkan lima F, yaitu focus, flexible, fast, fun, dan friendly. Focus berarti berkonsetransi penuh terhadap apapun yang sedang saya kerjakan. Saya tidak mau mencampuradukkan pekerjaan dengan persoalan lain, karena itu bisa mengganggu. Flexible berarti terbuka terhadap setiap input yang masuk dari siapa pun. Fast artinya bekerja cepat. Karena saya memimpin organisasi besar, dibutuhkan kecepatan dalam mengambil keputusan dan tindakan. Saya selalu fun (gembira) dalam setiap memulai hari, baik bersama keluarga maupun bekerja di perusahaan. Sedangkan friendly merupakan sikap bersahabat dengan semua orang, tidak memandang pangkat dan golongannya.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Dalam memimpin, saya senantiasa menerapkan lima F tadi. Selain kelima filosofi dasar tersebut, saya menanamkan sikap integritas, profesional, dan jiwa entrepreneurship kepada semua karyawan. Integritas berarti memiliki kejujuran, satu dengan yang lainnya. Jujur dalam menjalin kerja sama dengan pihak lain.

Sedangkan profesional menuntut semua karyawan, tidak terkecuali pemegang saham, bersikap profesional dalam bekerja. Saya selalu menanamkan sikap profesional kepada semua karyawan, mulai level paling atas hingga paling bawah. Setelah integritas dan prefesional tercapai, saya tanamkan jiwa entrepreneurship. Karyawan dituntut mencari ide-ide, inovasi, dan terobosan baru dalam pengembangan proyek.

Ukuran kesuksesan menurut Anda?
Kesuksesan berarti bisa merealisasikan sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya. Kesuksesan bukan berarti hanya menyangkut kemampuan menyelesaikan dengan baik hal-hal besar. Kesuksesan juga termasuk menyelesaikan hal-hal kecil. Saya berprinsip, tidak ada manusia yang bisa sukses tanpa kerja keras dan disiplin.

Peran keluarga bagi kehidupan dan karier Anda?
Keluarga sangat penting dalam hidup saya. Mereka selalu memberikan dukungan. Keluarga menginspirasi saya untuk bekerja keras dan melahirkan ide-ide terbaru. Saya juga selalu introspeksi bahwa segala sesuatu yang saya terima ini berasal dari Tuhan, sehingga saya wajib bersyukur dan berdoa kepada Tuhan.

Siapakah tokoh panutan Anda?
Saya mengidolakan Ir Ciputra. Beliau bekerja keras dan disiplin dalam semua hal. Oleh karena itu, saya berprinsip tidak ada manusia yang bisa sukses tanpa kerja keras dan disiplin. Prinsip ini selalu menginspirasi saya dalam bekerja.

Saya masih ingat bagaimana Pak Ciputra bekerja keras mengelola perusahaan ini pada 1988, ketika itu saya masih karyawan baru. Kerja keras tersebut ternyata membuahkan hasil hingga akhirnya Ciputra Group berkembang seperti sekarang.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN