Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penerapan PPKM Mikro di DKI Jakarta. Foto: Beritasatu.com/Joanito De Sapjoao

Penerapan PPKM Mikro di DKI Jakarta. Foto: Beritasatu.com/Joanito De Sapjoao

2 Kali PPKM Kasus Masih Tinggi, Ini Penjelasan Wagub Ariza

Rabu, 10 Februari 2021 | 10:10 WIB
Yustinus Paat

JAKARTA, investor.id  – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengungkapkan sejumlah alasan mengapa kasus Covid-19 masih tinggi di Ibu Kota meskipun sudah 2 kali menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sejak 11 Januari 2021 lalu. Pertama, kata Ariza, sebagai ibu kota negara, DKI Jakarta merupakan pusat interaksi di Indonesia.

“Karena Jakarta sebagai Ibu Kota ini adalah pusat interaksi, provinsi dengan interaksi tertinggi di Indonesia, ya Jakarta. Orang yang datang dari luar negeri, dari dalam negeri ya transit di Jakarta,” ujar Ariza di Jakarta, Rabu (10/2/2021).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza patria ( Ariza). Sumber: BSTV
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza patria ( Ariza). Sumber: BSTV

Selain itu, tutur Ariza, Jakarta merupakan pusat pemerintahan, pusat bisnis, dan pusat perdagangan. Pejabat pemerintah dan pelaku usaha yang mobilitasnya tinggi banyak berada di Jakarta.   

“Jakarta sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat perdagangan, semua di Jakarta. Sehingga kalau interaksi tinggi maka potensi kerumunan tinggi, maka potensi penyebaran juga tinggi,” tandas dia.

Kedua, kata Ariza, kasus Covid-19 masih tinggi karena Pemprov DKI Jakarta masif melakukan testing swab PCR. Bahkan, tutur dia, testing di Jakarta sudah 12 kali lipat dari standar testing yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia atau WHO. Testing di Jakarta juga telah memberikan kontribusi terhadap testing nasional kurang lebih 43,4 %.

Penerapan PPKM Mikro di DKI Jakarta. Foto: Beritasatu.com/Joanito De Sapjoao
Penerapan PPKM Mikro di DKI Jakarta. Foto: Beritasatu.com/Joanito De Sapjoao

“Cara kami adalah bagaimana mempercepat identifikasi masalah dengan cara testing sehingga kita cepat melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan maupun pengendalian Covid-19 itu sendiri,” jelas dia.

Ketiga, lanjut dia, kasus Covid-19 masih tinggi di Jakarta merupakan dampak dari libur akhir tahun 2020. Keempat, kata dia, masyarakat mulai jenuh, capek, lelah dan bosan dengan situasi yang ada dan telah berjuang melawan Covid-19 dengan berbagai pembatasan kegiatan selama hampir satu tahun.

“Namun demikian kalau kita melihat pada fakta di lapangan, Alhamdulillah masyarakat Jakarta mohon maaf tidak bermaksud membedakan dengan masyarakat di daerah lain, cukup disiplin terkait penggunaan masker, jaga jarak. Kemudian dunia usaha, restoran, hotel mal, tempat-tempat ibadah, pasar cukup baik melaksanakan protokol kesehatan. Lalu, apa yang perlu ditingkatkan ke depan dalam PPKM ke-3, sesuai arahan Pak Presiden, kita melaksanakan PPKM berskala mikro,” pungkas Ariza.  

Penerapan PPKM Mikro di DKI Jakarta. Foto: Beritasatu.com/Joanito De Sapjoao
Penerapan PPKM Mikro di DKI Jakarta. Foto: Beritasatu.com/Joanito De Sapjoao

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN