Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Joko Widodo. Sumber: BSTV

Joko Widodo. Sumber: BSTV

Isu Reshuffle Kabinet Menguat

Jumat, 3 Juli 2020 | 06:51 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut-sebut dalam waktu dekat akan mencopot sejumlah menteri dan merekrut nama baru, yang berlatar belakang pengusaha dan politisi dalam Kabinet Indonesia Maju (KIM).

Saat memimpin rapat paripurna Kabinet Indonesia Maju di Istana Negara, Jakarta, pada 18 Juni 2020 lalu, Presiden Jokowi secara terbuka mengungkapkan tekadnya untuk melakukan perombakan kabinet karena kinerja sejumlah menteri yang mengecewakan dan tidak tanggap mengatasi masalah krisis Covid-19.

“Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan untuk 267 juta rakyat kita, untuk negara. Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle," kata Presiden Jokowi.

Sejumlah nama kini berada di posisi ‘kursi panas’ di antaranya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio, serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar.

Menteri Desa Abdul Halim Iskandar mengatakan, peringatan bakal adanya reshuffle kabinet memicu seluruh jajaran menteri untuk semakin giat bekerja dan mengintrospeksi diri.

Menteri Sosial Juliari Batubara mengaku tidak mempedulikan isu reshuffle kabinet karena harus fokus bekerja menangani bantuan sosial masyarakat terdampak Covid-19.

“Saya menyerahkan sepenuhnya keputusan mengenai reshuffle kabinet kepada Bapak Presiden. Itu adalah hak prerogatif Bapak Presiden,” ujarnya.

Menteri BUMN Erick Thohir enggan berkomentar ketika diminta tanggapannya mengenai rencana reshuffle kabinet. Ia hanya berujar bahwa tugasnya sebagai pembantu Presiden adalah kerja, kerja, dan kerja. Apalagi saat ini, bangsa Indonesia sedang menghadapi ujian berat seiring merebaknya wabah Covid-19.

“Tugas saya masih banyak yang harus diselesaikan. Saya patuh dan menghormati keputusan Bapak Presiden,” kata Erick di Jakarta, Kamis (2/7).  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN