Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Musi Banyuasin Dorong Hilirisasi Komoditas Strategis

Senin, 27 Juli 2020 | 04:46 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan mendorong hilirisasi komoditas strategis, terutama pertambangan dan perkebunan, untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Selama ini, Muba menjadi tujuan investasi sejumlah perusahaan pertambangan dan perkebunan multinasional, namun hanya menjual komoditas mentah.

“Soal investasi, Muba itu tempat berinvestasi. Tapi kami hanyamenjual barang mentah. Kami ingin tingkatkan nilai tambah melalui hilirisasi sejumlah komoditas strategis. Biofuel, petrokimia, itu nilai tambah yang ingin kami ciptakan,” ungkap Bupati Muba,Dodi Reza Alex Noerdin, saat berdiskusi dengan jajaran Redaksi Berita Satu Media Holdings, di Jakarta, Jumat (24/7) lalu.

Dodi menambahkan, Kabupaten Muba sejak lama menjadilumbung energi nasional.Gas dari Muba telah mengalir ke Pulau Jawa, bahkan hingga Singapura. Cadangan gas dari kabupaten tersebut menjadi yangterbesar kedua di dunia setelah cadangan gas di Tangguh, Papua.

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

“Minyak tinggal sedikit. Untuk gas, silakan cek pemberitaan, awal tahun ini Repsol menemukan cadangan gas keempat terbesar di dunia di Muba. Gas yang dihasilkan Conoco Philips di Muba, sudah lama mengaliri listrik ke Jawa dan Singapura melalui kabel bawah laut,” ungkapnya. Selain pertambangan migas, Dodi mengungkapkan, komoditas strategis lain di wilayahnya adalah perkebunan karet dan kelapa sawit.

“Karet sebagian besar miliki perusahaan. Itu yang juga banyak menyumbang pemasukan ke negara,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari 14.000 kilometer persegi (km2) luas wilayah Muba, luas perkebunan karet mencapai luas 217.000 hektare (ha) atau setara 2.170 km2. Sedangkan, perkebunan kelapa sawit seluas 43.000 ha (430 km2). Dengan demikian luas perkebunan dua komoditas tersebut mencapai 20% dari total wilayah Muba.

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

“Jadi kontribusi terbesar dari Muba itu migas, kelapa sawit, dan karet,” ujarnya.

Selama ini, lanjut Dodi, hasil tambang dan perkebunan itu kebanyakan dijual dalam bentuk mentah.

Untuk itu, di masa pemerintahannya, dia mendorong hilirisasi komoditas strategis tersebut agar memiliki nilai tambah besar bagi perekonomian di daerahnya.

“Kami akan upgrade nilai tambah hasil komoditas. Caranya lewat hilirisasi komoditas,” katanya.

Salah satu yang dilakukan adalah merintis inovasi dalam pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar ramah lingkungan dan terbarukan (biofuel). Sejak Oktober 2017, Kabupaten Muba menjadi proyek percontohan nasional peremajaan kelapa sawit milik rakyat yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Proyek peremajaan sawit yang asalnya hanya seluas 4.446 ha kini sudah menjadi 12.000 ha.

Setiap petani menggarap 2-4 ha lahan perkebunan kelapa sawit. Melalui peremajaan bibit dan pupuk yang bagus, mampu meningkatkan produktivitastanaman tersebut sehingga bisa dipanen dalam waktu 1,5 tahun.

“Bahkan sudah ada tes DNA bibit kelapa sawit dari Amerika untuk mengetahui apakah bibit sawit ini nantinya menghasilkan pohon dan buah yang bagus. Ini membantu petani untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit mereka,” ungkap Dodi.

Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin saat berbincang dengan redaksi dalam kunjungannya di BeritaSatu Media Holdings di BeritaSatu Plaza, di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Dengan peremajaan tersebut, produktivitas kelapa sawit yangsemula hanya 3-4 ton per tahun, meningkat lebih dua kali lipat menjadi 8-10 ton per tahun.

Peremajaan kelapa sawit ini juga menepis anggapan dunia, kalau kelapa sawit di Indonesia dibangun dengan membakar hutan dan menggunakan bahan kimia. Pemkab Muba juga berencana membangun pabrik untuk membuat bahan bakar nabati ini untuk menunjang energi terbarukan nasional.

“Kami ingin meningkatkan nilai tambah yang kami jual. Dari hanya minyak mentah (CPO) menjadi biofuel. Pada Agustus mesinnya akan dipasang di Muba. Dari mana bahan minyak kelapa sawitnya? Itu tadi dari kelapa sawit milik masyarakat yang luasnya 12.000 ha. Jadi ini dari hulu ke hilir semua dilakukan di Muba,”jelas Dodi.

Upaya hilirisasi lain yang bisa dilakukan adalah pengolahan gas untuk memenuhi kebutuhan gas rumah tangga menggantikan elpiji yang selama ini masih diimpor.

Kawasan Industri Hijau

Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin. Sumber: BSTV
Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin. Sumber: BSTV

Dodi menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan pembangunan kawasan industri hijau pada 2021 mendatang. Kawasan seluas ratusan hectare (ha) ini nantinya bakal menjadi pusat hilirisasi komoditas kelapa sawit, aspal karet, serta migas.

Pemkab Muba telah memproyeksikan empat lokasi strategis untuk membangun kawasan industri hijau ini karena dekatdengan sumber-sumber energy yang ada.

“Salah satunya dilokasi cadangan gas Bayung Lencir yang disebut merupakan lokasi cadangan gas terbesar keempat di dunia,” ungkapnya.

Selain itu, lokasi kawasan ini juga berdekatan dengan proyek pembangunan infrastruktur nasional, seperti jalan tol, sehingga diyakini bakal menarik minat investor.

Konsep pembangunan industri hijau di Muba ini, nantinya akan menyatukan seluruh industri, baik migas dan perkebunan,menjadi satu kawasan yang juga akan terkoneksi dengan kawasan Golden Triangle Muba.

Kunjungan Bupati Musi Banyuasin. Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin (kanan) menerima kenang-kenangan dari Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu, di BeritaSatu Plaza di Jakarta, Jumat (24/7/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Kunjungan Bupati Musi Banyuasin. Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin (kanan) menerima kenang-kenangan dari Direktur Pemberitaan BeritaSatu Media Holdings Primus Dorimulu, di BeritaSatu Plaza di Jakarta, Jumat (24/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Untuk merealisasikan target ini, Pemkab Muba telah berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian. Dodi juga mengungkapkan, salah satu prioritas yang dilakukannya adalah membangun konektivitas.

Dengan jumlah penduduk hanya sekitar 700.000 jiwa yang menempati wilayah 23 kali luas DKI Jakarta, konektivitas menjadi persoalan besar di Muba. Minimnya konektivitas membuat tingkat kemiskinan di Muba sangat tinggi, mencapai 16%, di atas tingkat kemiskinan nasional 9%.

Akan tetapi, membangun konektivitas di Muba bukan perkara mudah dan murah. Dodi mengungkapkan, membangun jalan di Muba lebih mahal dari Jawa, karena kontur tanahnya berupa lahan gambut dan rawa. (b1)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN