Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah tenaga kesehatan di dalam mobil ambulance, bersiap mengantar pasien positif Covid-19 ke Wisma Atlet dari Puskesmas Jatinegara, Jakarta Timur,  Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

Sejumlah tenaga kesehatan di dalam mobil ambulance, bersiap mengantar pasien positif Covid-19 ke Wisma Atlet dari Puskesmas Jatinegara, Jakarta Timur, Foto ilustrasi: SP/Joanito De Saojoao

IAKMI: Pemerintah Harus Persiapkan Strategi atas Lonjakan Kasus Covid-19

Senin, 22 Februari 2021 | 08:02 WIB
Maria Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Dewan Pakar  Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan, dalam penggunaan rapid antigen untuk mengkonfirmasi kasus positif Covid-19, pemerintah harus mempersiapkan tempat untuk melakukan treatment. Pasalnya, akan terjadi lonjakan kasus sangat besar.

“Kalau antigen ini digunakan temuan kasus bisa tiga kali lipat besarnya  dan tentunya membutuhkan perawatan yang tiga kali lipat untuk fasilitas isolasi mandiri dan lain-lainnya,”kata   Hermawan kepada Beritasatu.com, Senin (22/2/2021).

Ia menyebutkan penggunaan rapid antigen ini tentu konsekuensinya besar, yakni temuan kasus yang meningkat. Oleh karena itu, Hermawan menegaskan, pemerintah jangan hanya menyiapkan tes antigen, tetapi  kesiapan seluruh daerah di Indonesia  untuk merawat dan memulihkan  masyarakat yang terkonfirmasi  positif Covid-19. 

Pasalnya, kata Hermawan,  sejauh ini pemerintah masih fokus pada perawatan pasien yang di rumah sakit. Sementara untuk isolasi mandiri dibiarkan menjalani isolasi mandiri di rumah tanpa ada pengawasan.

“Jadi mengandalkan rumah, padahal di rumah itu risiko juga karena tidak semua orang mempunyai tempat untuk isolasi dan terhindar dari kontaminasi dengan keluarga dan lingkungannya,”ucap Hermawan.

Hermawan mendorong pemerintah untuk segera mempersiapkan ruang  isolasi mandiri. Ia menyarankan pemerintah bisa mengalih fungsikan wisma, hotel atau fasilitas publik yang memang dipisahkan dari kontaminasi dengan keluarga dan masyarakat.

“Walaupun dia tanpa gejala, justru yang tanpa gejala ini  harus diisolasi mandiri, tetapi selama ini isolasi mandiri  banyak di rumah saja. Isolasi mandiri seolah-oleh dibalikan  dibalikan ke keluarga dan tidak terpantau,” paparnya. 

Kendati demikian, Hermawan mengatakan, pihaknya memahami mengapa pemerintah menggunakan rapid antigen karena hasilnya lebih cepat. Sementara polymerase chain reaction (PCR)  membutuhkan waktu hampir dua hari karena tidak semua daerah memiliki lab PCR dan pada akhirnya terlambat atau kapasitas rendah untuk memenuhi kebutuhan secepat mungkin.

“Pilihan tes antigen ini bisa dipahami untuk  menyiasati kekurangan  testing menggunakan PCR,”kata  Hermawan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN