Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Sumber: pusakaindonesia.or.id

Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Sumber: pusakaindonesia.or.id

HRDIKNAS 2021,

PGRI Ajak Semua Pihak Renungi Kembali Prinsip Pendidikan Ki Hajar

Minggu, 2 Mei 2021 | 17:03 WIB
Maria Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  -  Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Ketua Umum Pengurus Besar  Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Prof  Unifah Rosyidi mengajak semua untuk melakukan refleksi tentang arah pendidikan Indonesia saat ini  apakah sudah sesuai dengan impian dan harapan Ki Hajar Dewantara.

“Langkah bijak yang sebaiknya kita tempuh adalah menundukkan kepala, merenung, dan introspeksi apakah situasi pendidikan saat ini sudah sesuai dengan impian, harapan, dan cita-cita Ki Hajar Dewantara? Introspeksi ini penting untuk melihat kembali dasar-dasar pendidikan yang ditanamkan Bapak Pendidikan Nasional itu,” kata Unifah dalam siaran pers diterima Beritasatu.com, Minggu (2/5/2021).

Unifah menuturkan, penetapan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional yang diambil dari tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara dan ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959, merupakan sebuah penghargaan, pengakuan resmi negara terhadap perjuangan dan jasa besar Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan nasional.

Guru Besar Pendidikan Universitas Negeri Jakarta  (UNJ) ini menyebutkan, jika  melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini, dari sisi angka-angka statistik secara kuantitas memang menakjubkan. Terdapat capaian yang luar biasa dalam kesempatan akses pendidikan.

Meski demikian, jika mengacu pada frasa tujuan bernegara dalam konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka kenyataan pencapaian tujuan itu masih jauh panggang dari api.

“Jika kita menggunakan indikator mutu pendidikan yang disepakati secara internasional, kualitas pendidikan Indonesia masih belum membanggakan,” kata Unifah.

Ia menambahkan, peringkat Indonesia dalam Human Development Index (HDI), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), serta Programme for International Student Assessment (PISA), berada pada posisi menengah bawah, dan rendah. Indikator itu menunjukkan bahwa masih terlalu banyak pekerjaan rumah di sektor Pendidikan yang harus diselesaikan.

Selain itu, dari sisi karakter, Unifah mengatakan, maraknya korupsi bahkan mulai dari kalangan milenial, penggunaan narkoba yang meluas, tawuran, kekerasan hingga pelanggaran lalu lintas yang dianggap lazim menunjukkan masih ada yang harus diluruskan dalam dunia pendidikan bangsa ini.

“Hal ini diperparah dengan memudarnya nasionalisme di sebagian kalangan. Tanpa nasionalisme kita akan melihat pembangunan fisik secara nyata namun tidak bisa membedakan antara “pembangunan Indonesia” yang murni karya, dan modal anak bangsa dan “pembangunan di Indonesia” yang dimodali asing dan dimiliki asing,” ucapnya.

Oleh karena itu,  Unifah menegaskan, Hardiknas 2021 ini, PGRI mengajak semua pihak untuk untuk merenungi kembali sudahkah pendidikan diterapkan saat ini  sesuai prinsip-prinsip pendidikan kebangsaan yang digagas Ki Hajar Dewantara, yakni  tri pusat pendidikan meliputi pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat yang diimpikan Ki Hajar Dewantara menjadi bagian ekosistem pendidikan. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com