Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melakukan panen perdana jagung hibrida musim tanam April di Desa Lanca, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu 3 Juli 2021. (Foto: Dok. Kemtan)

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melakukan panen perdana jagung hibrida musim tanam April di Desa Lanca, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu 3 Juli 2021. (Foto: Dok. Kemtan)

Panen Jagung di Bone, Mentan: Tingkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

Sabtu, 3 Jul 2021 | 21:47 WIB

Bone, INVESTOR.ID - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo melakukan panen perdana jagung hibrida musim tanam April di Desa Lanca, Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (3/7).

Adapun kehadiran Mentan di Bumi Arung Palakka ini sejalan dengan tujuan program di Kemtan untuk meningkatkan produksi pertanian, memenuhi kebutuhan nasional, dan diikuti kesejahteraan petani.

"Saya senang kalau Pak Bupati sudah menghitung hasil jagung hingga lahan yang berada di pegunungan. Misal kita butuh dryer tiga, siapa takut, tapi tidak ada bagi-bagi. Kita harus tingkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani," ujar Mentan dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Mentan, Bone memiliki daerah, sejarah dan budaya yang bagus serta kebersamaan masyarakat Bone pun masih sangat tinggi. Bone juga memiliki luas lahan pertanian yang luas dan salah satu sentra produksi.

Advertisement

Dirinya juga optimistis pertanian Sulsel ke depannya akan maju. Maka dari itu, lanjutnya, apa yang diinginkan Bupati Bone, segera buatkan konsepnya dan rencanakan dan pastinya dapat dikerjakan.

"Jika menanam jagung harus dihitung keuntungannya. Harus ada dihitung hasilnya berapa. Setelah itu hitung apa yang harus dilakukan," ungkap Syahrul.

"Start with by ending. Kita tahu benefit-nya. Itu saya gunakan," imbuhnya.

Mentan menjelaskan, memajukan pertanian di daerah tidak bisa dengan hanya mengandalkan APBN yang terbatas. Bahkan Kemtan saat ini menggunakan dana perbankan sebesar Rp 55 triliun melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mudah diakses petani.

"Yang macet 00,3%. Presiden memintanya untuk menggunakan hingga Rp 70 triliun," ungkapnya.

Ia menilai banyak lahan yang bagus. Namun, akan lebih baik lagi jika menggunakan mesin pertanian modern. Petani juga harus menggunakan benih berkualitas dan pemupukan yang tepat dan berimbang.

"Mau tunggu pemerintah, tidak sampai. Uang di bank, yang ada di BNI, Mandiri dan lain-lain uang pemerintah, uang subsidi. Jika ambil sendiri bunganya 15%, ini dana KUR hanya 6%," ujarnya.

Ia menambahkan, tanah dan sumber daya manusianya sudah baik. Namun, masih diperlukan adanya intervensi, sumber daya manusia semakin terampil, teknologi, mekanisasi dan market table-nya seperti apa.

"Saya berharap satu hektar jagung bisa menghasilkan keuntungan Rp 10 juta hingga Rp 14 juta. Hasilnya tersebut sudah keluar biaya gaji orang telah keluar. Tinggal penghasilan bersih," sambung Mentan.

Mentan menjelaskan, semua penggilingan di Bone menghasilkan beras dengan harga Rp 8.100 per kg, gabah Rp 4.100 per kg. Namun sebaiknya dapat menghasilkan beras dengan harga Rp 12.000 atau beras premium. Untuk itu, ia berharap kualitas mesin penggilingannya harus ditingkatkan.

"Jagung sudah bagus, tapi ia menilai pupuknya kurang bagus. Hal ini bisa dicek. Artinya masih butuh sebuah budaya untuk meningkatkan produktivitas, ini tinggi tapi mestinya bisa lebih besar. Pertanian tergantung varitas yang bagus. Ditambah pupuk yang tepat, obat-obatan kalau terjadi serangan," imbuh Mentan.

Syahrul menjelaskan, selama setahun Covid-19, sektor pertanian menjadi penunjang pertumbuhan ekonomi sekitar 16,4 % atau sekiranya mencapai Rp 2 ribu triliun lebih.

"Alhamdulillah kerja tulus dan tidak ada yang macam-macam, pertanian tidak mengalami penurunan secara nasional," ujarnya.

Bupati Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi menuturkan, Kabupaten Bone menjadi penyuplai sektor komoditi jagung di tingkat nasional. Produksi jagung per tahunnya mencapai 500.000 ton jagung. Tak hanya itu, Kabupaten Bone juga menjadi andalan sektor komoditi padi atau beras dan sapi secara nasional.

"Kabupaten Bone, sebagai penghasil beras nasional berada pada urutan tujuh nasional pada tahun 2019 dan pada tahun 2020 sedikit menurun pada urutan sembilan," ucapnya.

"Demikian pula dengan populasi peternakan sapi, Kabupaten Bone berada pada urutan kedua nasional," tambah Fahsar.

Dilansir dari keterangan tertulis Kemtan, luas panen jagung nasional sebesar 4,1 juta ha dengan produktivitas 5,58 ton per hektar, produksinya 22,9 juta ton pipil kering kadar air 25% atau 19,9 juta ton PK dengan KA 15%.

Luas panen jagung Sulsel 291.442 ha, produktivitas 5,67 ton per ha sehingga produksinya 1,66 juta ton pipil kering dengan kadar air 25%. Adapun luas panen jagung Bone 48.541 ha dan dengan produktivitas 6,57%, produksinya 321.944 ton pipil kering dengan kadar air 25%.

Editor : Jayanty Nada Shofa (JayantyNada.Shofa@beritasatumedia.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com