Menu
Sign in
@ Contact
Search

Habibie: Cendekiawan Sejati Peduli Lingkungan

Sabtu, 10 Des 2011 | 07:48 WIB
Antara (redaksi@investor.id)

KENDARI- Mantan Presiden RI Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan, cendekiawan sejati adalah manusia yang peduli terhadap keadaan lingkungan sekitar.

"Siapa pun dia, dari mana asalnya, dan bersekolah tinggi-tinggi atau buta huruf tapi memiliki kepedulian dengan lingkungan sekitarnya, maka yang bersangkutan sesungguhnya cendekiawan sejati," katanya saat ceramah pembukaan Silaturahmi Keluarga Nasional (Silaknas) I Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Kendari, Jum'at malam.

Menurut dia, seseorang yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengembangkan penelitian tapi tidak mau tahu dengan keadaan di sekitarnya, apakah masyarakat di sekitarnya menderita atau bahkan mati ia tidak peduli, maka yang bersangkutan hanya bisa disebut pakar.

"Cendekiawan tidak harus sekolah tinggi sampai gelar profesor doktor atau menduduki jabatan tinggi. Buta huruf pun bisa jadi cendekiawan sejati kalau yang bersangkutan memiliki kepekaan dan mau peduli dengan keadaan lingkungan," katanya.

Saat ceramah bertajuk "Hijrah Moral untuk Kebangkitan Bangsa Indonesia" itu, Habibie mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah tapi kenyataannya hidup miskin, memiliki kekuatan tapi lemah, memiliki keindahan alam tapi buruk, memiliki sumber daya manusia (SDM) yang besar tapi kerdil.

"Kita hanya kuat unjuk rasa, bertindak anarkhis, teriak-teriak tidak karuan, membuat komentar ini komentar itu, tapi tidak kuat mengelola kekayaan alam dan menghadapi tantangan globalisasi. Mengapa, karena energi kita sudah habis digunakan teriak-teriak dan bertindak anarkhis," katanya yang disambut aplaus peserta Silaknas ICMI dan sejumlah undangan.

Semua itu, tandas Habibie, terjadi karena bangsa Indonesia tidak mampu mengelola berbagai potensi yang dimiliki secara baik akibat terkena penyakit orientasi.

"Bangsa kita selalu berorientasi jangka pendek daripada jangka panjang, berorientasi jalan pintas ketimbang kerja keras, berorientasi pendapatan daripada jam kerja, berorientasi pada pengerukan sumber daya alam daripada mengembangkan sumber daya manusia dan sebagainya," katanya.

Akibat penyakit orientasi tersebut, kata dia, terjadi korupsi di mana-mana. Mereka, katanya, ingin cepat kaya tanpa peduli dengan keadaan orang lain yang menderita dan sengsara akibat perilaku yang korup tersebut.

Habibie menilai, penyelenggara bangsa lebih suka membangun citra daripada berkarya secara nyata.

"Konyol lagi, dalam kondisi bangsa yang demikian itu, para penyelenggara bangsa lebih suka membangun citra ketimbang membangun karya nyata yang bisa melepaskan bangsa ini dari berbagai penyakit tersebut," katanya.

Ia mengatakan, ICMI sebagai organisasi para cendekiawan muslim Indonesia, harus mampu memberi warna dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa sehingga bisa bangkit menjadi bangsa yang bermoral dan bermartabat.

Pada kesempatan tersebut, Habibie menyarankan kepada anggota ICMI agar memikirkan pembentukan Ikatan Saudara Muslim Indonesia (ISMI). Hal itu, katanya, penting karena anggota ICMI berasal dari berbagai organisasi Islam di Indonesia. (ant/gor)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com