Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ujicoba PTM terbatas

Ujicoba PTM terbatas

CIPS: PTM Terbatas Perlu Prioritaskan Atasi Learning Loss

Minggu, 19 September 2021 | 07:00 WIB
Fatima Bona

JAKARTA, investor.id - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas perlu memprioritaskan learning loss yang dialami para siswa.

Nadia menuturkan, hal ini mendesak dilakukan untuk memastikan para siswa masih mampu mengikuti pembelajaran dan memahami materi yang disampaikan.

“Langkah pertama yang dapat dilakukan guru ketika PTM sudah dimulai adalah melakukan tes diagnostik kepada peserta didik untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kompetensi mereka. Dari hasil tes ini, guru dapat merencanakan pembelajaran apabila terdapat indikasi learning loss,” kata Nadia dalam keterangan pers diterima Beritasatu.com, Sabtu (18/9/2021).

Nadia menyebutkan, pembelajaran tersebut tidak dengan mengejar ketertinggalan kurikulum, tetapi berupa pengulangan materi pembelajaran sebelumnya.

Pengulangan materi dan memastikan peserta didik memahami materi pelajaran sebelumnya akan membantu mereka untuk memahami materi pelajaran di tingkat yang lebih tinggi.

Nadia menambahkan, para guru dapat merancang metode pembelajaran yang interaktif dan dua arah sehingga para siswa dapat terlibat lebih aktif di dalam kelas. Misalnya, dalam bentuk diskusi atau kerja berkelompok.

Selain itu, tugas diberikan juga sebaiknya merupakan tugas-tugas yang mengharuskan siswa menggali lebih banyak informasi dari berbagai sumber dan melibatkan interaksi dengan pihak lain secara lebih luas.

Menurut Nadia, kegiatan-kegiatan yang bersifat interaktif juga dapat dimanfaatkan secara efisien dalam waktu pembelajaran selama PTM terbatas yang terbilang singkat.

“Singkatnya waktu pelaksanaan PTM terbatas idealnya dapat mendorong para guru dan para siswa menjadi lebih siap dan terencana dalam proses belajar mengajar,” paparnya.

Nadia juga mengatakan, PTM terbatas ini dapat juga membangkitkan minat siswa untuk kembali mengikuti pembelajaran di kelas. Sebab, kecemasan kembali ke sekolah sangat mungkin dialami para siswa setelah satu tahun lebih lamanya belajar di rumah.

“Komunikasi antara guru dan siswa juga perlu dilakukan untuk merujuk pada kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental keduanya. Membangun komunikasi dapat menimbulkan kenyamanan sehingga interaksi di kelas menjadi semakin baik,” ucapnya.

Selanjutnya, Nadia mengatakan, hasil asesmen nasional, sebagaimana juga diungkapkan Menteri Pendidikan,Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim dapat digunakan untuk memetakan learning loss pada level nasional.

“Untuk itu, para guru mesti mengantisipasi berbagai bentuk learning loss yang mungkin saja terjadi dan menyesuaikan dengan materi pembelajaran yang disampaikan,” ucapnya.

Nadia mengakui, memang tidak mudah untuk para guru dalam mengadaptasi perubahan kegiatan belajar akibat pandemi Covid-19. Setelah dipaksa berpindah pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang mengharuskan mereka memanfaatkan perangkat digital. Kini siswa dipaksa kembali melakukan PTM dengan waktu yang terbatas.

Menurutnya, para guru membutuhkan dukungan sekolah dan Dinas Pendidikan mensukseskan pelaksanaan PTM terbatas, misalnya saja asistensi dalam memanfaatkan waktu belajar secara maksimal dan keleluasaan dalam menentukan kegiatan selama tatap muka.

Untuk itu, Nadia mengatakan, upaya terstruktur untuk meningkatkan kapasitas guru perlu terus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang muncul selama pandemi Covid-19.

Pemerintah perlu melakukan pembaharuan pada materi pelatihan guru agar materi pelatihan ini dapat beradaptasi dengan kebutuhan zaman dan responsif terhadap berbagai kemungkinan.

“Pandemi Covid-19 tidak pernah terpikir akan terjadi. Tetapi bentuk pembelajaran seperti blended learning, campuran antara pembelajaran jarak jauh dan tatap muka, sangat mungkin diterapkan di masa-masa mendatang dengan menyelesaikan berbagai permasalahan,seperti pemerataan akses pada koneksi internet,” tandasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN