Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bertukar data dan informasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bertukar data dan informasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

BMKG-Badan Geologi Kementerian ESDM Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami 

Minggu, 17 Oktober 2021 | 17:42 WIB
Hendro Situmorang

BANDUNG, investor.id  - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkokoh kerja sama dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Kerja sama ini bertujuan untuk intensifikasi data sharing dan kajian bersama untuk memperkuat Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS).

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan tujuan utama dari agenda kerja sama ini yaitu melengkapi data agar sistem peringatan dini tsunami bisa beroperasi lebih handal, secara lebih cepat, tepat dan akurat.

"Targetnya adalah untuk mengintegrasikan data kegempaan akibat aktivitas gunung api yang selama ini dimonitor oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berada di Badan Geologi, di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sehingga kemungkinan terjadinya tsunami yang dibangkitkan oleh erupsi gunung api laut (tsunami non tektonik) dapat terdeteksi dini", kata Dwikorita dalam keterangannya kepada Beritasatu.com, Minggu (17/10).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bertukar data dan informasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bertukar data dan informasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Ia juga menyampaikan perlunya suatu Joint Standard Operasional Prosedure (Joint SOP) antara Pusat Gempabumi dan Tsunami di BMKG dengan PVMBG di Badan Geologi, agar Sistem Peringatan Dini Tsunami Non Tektonik akibat erupsi gunung api laut dapat terwujud, meskipun masih ada keterbatasan sensor-sensor monitoring aktivitas gunung api laut secara digital dan otomatis. 

"Kita bisa buat SOP bersama, jadi meskipun belum terpasang alat monitoring digital real time pada gunung api laut yang dimonitor PVMBG Badan Geologi yang dapat langsung diintegrasikan secara otomatis dan real time ke Sistem Peringatan Dini Tsunami (InaTEWS) di BMKG, infomasi dari Pos Pengamatan Gunungapi tetap dapat masuk ke media komunikasi InaTEWS secara semi manual," ujar dia.

Dwikorita mengatakan SOP bersama ini mendesak untuk diterapkan karena belajar dari peristiwa tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, yang tidak dapat terdeteksi akibat tidak masuknya data/informasi aktivitas kegempaan vulkanik ke InaTEWS.

Selain kerja sama, Dwikorita juga mengajak Badan Geologi untuk bergabung dalam The International Consortium on Landslides. Organisasi nirlaba dan non-pemerintah ini rencananya akan menggelar pertamuan di Kyoto pada awal November 2021 yang juga akan membahas upaya kerjasama dalam Studi Tsunami Non Tektonik akibat longsor atau erupsi gunung api laut.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bertukar data dan informasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati bertukar data dan informasi dengan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kepala Pusat Seismologi, Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Rahmat Triyono mengatakan SOP Bersama BMKG dan Badan Geologi penting untuk melengkapi peringatan dini tsunami.

"Karena warning tsunami ada di BMKG, dan pengamatan gunung bawah laut ada di Badan Geologi," ucap dia.

Sementara itu Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Bambang S. Prayitno menyampaikan pula perlunya pencermatan bersama antara BMKG dan Badan Geologi untuk mengidentifikasi zona-zona yang Rawan Tsunami Non Tektonik akibat erupsi gunungapi atau longsor laut, pada peta beresolusi cukup tinggi. Hal ini juga akan didukung oleh Badan Informasi Geospasial (BIG).

Jadi untuk mewujudkan Peringatan Dini yang lebih cepat, tepat dan akurat, memang diperlukan kolaborasi multi lembaga sebagaimana ditetapkan dalam Perpres no 93 tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan siap mendukung kajian operasional dan sharing data untuk memperkuat Early Warning System Tsunami akibat kejadian non-tektonik, patahan aktif, dan lainnya.

"Data kita sangat diperlukan masyarakat untuk peringatan dini sehingga pihak-pihak di hilirnya bisa mengantisipasi dan menyelamatkan masyarakat," kata dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN