Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Siswa siswi mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN 01 Pondok Labu, Jakarta Senin, Senin (3/1/2022). Foto ilustrasi  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Siswa siswi mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN 01 Pondok Labu, Jakarta Senin, Senin (3/1/2022). Foto ilustrasi BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Epidemiolog: Sekolah Sebaiknya Terapkan PTM Bertahap untuk Cegah Omicron

Sabtu, 15 Januari 2022 | 19:51 WIB
Fatima Bona

JAKARTA, investor.id  - Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani mengatakan sepakat  dengan usulan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menyarankan agar mekanisme pembelajaran tatap muka (PTM) diberlakukan buka tutup atau bertahap. Alasannya, selain belum semua anak usia 6-11 divaksin juga melihat perkembangan kasus Omicron yang mulai meluas.

Laura menuturkan, sangat sulit  bagi sekolah menerapkan  PTM dengan   kapasitas penuh. Pasalnya, ketika semua siswa kembali ke sekolah,  kepatuhan terhadap protokol kesehatan (prokes) 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan  sulit diterapkan.

“Ini tidak mudah kalau 100% muridnya kembali ke sekolah dalam saat bersamaan. Bisa dibayangkan apakah bisa warga sekolah ini  melaksanakan  protokol kesehatan.  Terutama yang untuk menjaga jarak tentu agak  sulit. Ada baiknya pihak sekolah tidak langsung melaksanakan PTM 100% mungkin secara bertahap sama halnya mungkin  direkomendasikan dari banyak pihak,” kata Laura saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (15/1/2022). 

Laura menambahkan, kemunculan varian Omicron dengan daya tular cepat, meski tingkat keparahan di anak rendah tapi dikhawatirkan anak tersebut pulang ke rumah dapat menular ke anggota keluarga lainnya yang merupakan kelompok rentan.

Selain itu, lanjut Laura, pelaksanaan PTM terbatas saat ini diharapkan tidak menjadi klaster Covid-19.   Untuk itu, ia menyarankan agar sekolah melakukan monitoring prokes dan kondisi kesehatan siswa. Dalam hal ini,  guru tidak sekadar mengajarkan  materi pembelajaran, tetapi memberikan pengertian kepada  seluruh siswa   dan warga sekolah  lainnya  untuk selalu jujur dengan kondisi kesehatannya.

“Kalau merasa enggak enak badan  sedikit harus dilaporkan dan itu menuntut kejujuran  dari masing-masing.  Sebelum pandemi mungkin sedikit gejala  batuk flu enggak boleh izin, tapi sekarang justru  dengan gejala yang kecil tadi jangan sampai masuk ke sekolah.  Ini untuk menghindari  kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, sehingga situasi saat ini  sekolah lebih fleksibel,” ucapnya.

Selanjutnya, Laura mendorong agar vaksinasi untuk anak usia 6-11 tahun dipercepat. Pasalnya, usia tersebut cakupan vaksinasi masih rendah dan telah melakukan PTM terbatas.

Dikatakannya, vaksinasi Covid-19 merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan imunitas tubuh anak, sehingga ketika terinfeksi Covid-19, antibodi dapat melawan virus tersebut.

“Dengan divaksinasi mencegah reservoir biar virus tidak perkembang secara mudah. Walaupun terinfeksi tubuh lebih cepat untuk melawan virus ini,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN