Menu
Sign in
@ Contact
Search
Siswa siswi mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN 01 Pondok Labu, Jakarta Senin, Senin (3/1/2022). Foto ilustrasi:  BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Siswa siswi mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di SDN 01 Pondok Labu, Jakarta Senin, Senin (3/1/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Sekolah Jadi Klaster Covid-19 Harus Ditutup 14x24 Jam

Kamis, 20 Januari 2022 | 04:33 WIB
Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor,id  - Penyesuaian Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) menegaskan bahwa  jika ada klaster penularan Covid-19 di sekolah, maka  sekolah harus ditutup minimal 14x24 jam.

Hal ini disampaikan oleh Sekjen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Suharti pada Rapat Kerja  bersama Komisi X DPR di Gedung DPR, Rabu (19/1/2022).

Suharti menjelaskan, sekolah disebut sebagai klaster Covid-19 meliputi 3 hal, yakni; Pertama, klaster penularan Covid-19 di satuan pendidikan tersebut.

Kedua, angka positivity rate  hasil AFC  atau random testing  di atas 5%, dan ketiga,  warga satuan pendidikan yang masuk dalam notifikasi kasus hitam di atas 5%.

“Kasus hitam itu artinya, baik yang  terkonfirmasi Covid-19  maupun sebagai  kontak erat  mereka yang terkena Covid-19,” ucapnya.

Selanjutnya, Suharti juga mengatakan, alat skrining  bagi  warga sekolah seperti siswa dan guru tidak menggunakan  QR code. Sebab, QR code di sekolah hanya untuk tamu dan  pendatang.

Ia menuturkan,  skrining untuk warga sekolah menggunakan aplikasi  New All Record (NAR) dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) sehingga semua kasus yang positif   Covid-19 akan masuk ke dalam sistem dan  ada Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Kalau NIK-nya peserta didik  atau guru, akan ada notifikasi langsung kepada satuan pendidikan dan dinas. Baik itu, Dinas Pendidikan  maupun Dinas Kesehatan  sehingga intervensi langsung bisa dilakukan  supaya kontak  erat langsung  dihubungi dan dilakukan  pengecekan lebih lanjut,” ucapnya.

Suharti juga menuturkan, apabila setelah  dilakukan  surveilans bukan merupakan   klaster PTM  terbatas   atau angka  positivity di bawah 5%, maka pelaksanaan  PTM  terbatas  hanya diberhentikan  pada kelompok  belajar   yang terdapat kasus  konfirmasi  dan dipantau kontak erat  Covid-19  selama 5x24 jam.

Apabila hasil surveilans perilaku  di satuan pendidikan  di bawah 80%, maka dilakukan asesmen ulang  kesiapan  daftar periksa  dan penerapan protokol kesehatan. "Kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan dapat dihentikan sementara sampai dinyatakan siap untuk menerapkan prokes" ucapnya.

Suharti  menambahkan, vaksinasi juga menjadi bagian dari SKB 4 Menteri. Dalam hal ini,  vaksinasi  perlu ditingkatkan untuk  pendidik dan tenaga kependidikan menjadi (PTK).  Kendati demikian, ia berharap  orang tua mendorong anaknya  untuk vaksinasi  Covid-19,  meski vaksinasi anak tidak menjadi persyaratan sekolah kembali dibuka pada masa pandemi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com