Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sisa-sisa makanan yang terbuang. Foto ilustrasi: AFP

Sisa-sisa makanan yang terbuang. Foto ilustrasi: AFP

Pakar UI: Indonesia Bukan Negara Pembuang Makanan

Sabtu, 22 Januari 2022 | 14:08 WIB
Hendro Situmorang

JAKARTA, investor.id  - Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI), Mahawan Karuniasa membantah berbagai laporan dan jurnal internasional yang menilai Indonesia sebagai negara pembuang makanan.

"Indonesia bukan negara pembuang makanan. Tetapi kita negara berkembang sama seperti negara berkembang lainnya yang kehilangan bahan pangannya karena kualitas produksi pangan, sarana transportasi dan penyimpanannya yang kurang baik atau ideal," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Jumat (21/1/2022).

Untuk itu ia meminta berhati-hati terhadap laporan maupun jurnal yang dikeluarkan lembaga. Salah satunya data dari The Economist Intelligence yang mencatat Indonesia negara kedua terbesar penghasil sampah (sisa) makanan (food loss and food waste) setelah Arab Saudi per kapitanya.

Menurutnya, data tersebut merupakan gabungan antara food loss and food waste, meskipun persoalan dan solusi keduanya sangat berbeda. Adapun food loss adalah hilangnya sejumlah bahan pangan pada tahapan produksi, pasca panen dan penyimpanan, serta pemrosesan dan pengemasan sehingga cepat rusak, busuk atau tidak tahan lama.

 Untuk food loss ini, kehilangan bahan pangan disebabkan juga akibat alat maupun sarana transportasinya kurang baik, tumpah, rusak, dan lainnya. Sementara food waste adalah pangan yang dibuang pada tahap distribusi dan ritel serta konsumsi.

"Oleh karena itu, ini perlu menjadi catatan bahwa dari data perbandingan food waste dengan food loss untuk negara berkembang itu cukup lebar yaitu kurang lebih 10% hingga 60%," jelasnya.

Dengan lebar perbandingan data itu menjadi pertanyaan atau catatan bahwa perlunya penelitian dan pendataan lebih baik, sehingga bisa diketahui sebenarnya berapa food waste bila dibanding dengan angka totalnya. Data yang menyebutkan Indonesia nomor dua di dunia itu adalah data total, sehingga penting yang food waste itu diketahui berapa kg dan persen yang food loss.

"Kalau dari pengamatan saya selama ini antara 10%-60% dari berbagai penelitian yang ada. Nah ini perbandingannya terlalu lebar. Itu sulit bagi kita untuk mengambil keputusan. Berarti tindakannya apa untuk memperbaiki urutan food waste atau food loss-nya kalau kita berbicara prioritas," jelas dia.

Hal ini menjadi catatan penting dan perlu kehati-hatian untuk mencermati dari total data gabungan food loss dan food waste. Berapa persen masing-masing dan keduanya. Sederhananya, kalau negara berkembang biasanya akan cenderung food loss-nya akan lebih besar dibanding food waste.

"Oleh karena itu, solusinya khususnya di Indonesia adalah memperbaiki di sektor pertanian agar kualitas produksi bahan pangan kita jadi lebih baik. Maka alat transportasi harus lebih baik, termasuk tempat penyimpanan dan pengemasan yang jadi perhatian khusus," urai Mahawan.

Semengtara untuk masalah food waste biasanya akan dialami negara-negara maju dan cukup besar. Jadi masyarakat diminta lebih teliti dan bijaksana lagi dalam melihat hal ini, karena banyak pihak yang selama ini salah mengartikannya, seolah-olah Indonesia adalah negara pembuang makanan, padahal tidak.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN