Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo . Sumber: BSTV

Presiden Joko Widodo . Sumber: BSTV

Jokowi Tegaskan Pemerintah Bekerja Keras Lakukan Transformasi Besar

Sabtu, 29 Januari 2022 | 15:46 WIB
Lenny Tristia Tambun

JAKARTA, investor.id  – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pemerintah saat ini sedang bekerja keras mengawal beberapa transformasi besar. Mulai dari transformasi struktural, transformasi di sektor bisnis pertambangan hingga transformasi ekonomi digital.

Hal itu diungkapkan Jokowi saat menghadiri Pengukuhan Majelis Pengurus Pusat ICMI dan Pembukaan Rakernas ICMI dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Sabtu (29/1/2022).

“Kita sedang melakukan transformasi struktural, agar Indonesia semakin kompetitif untuk menghadapi dunia yang hiper kompetisi sekarang ini,” kata Jokowi.

Banyak hal yang harus dikerjakan pemerintah dalam melakukan pengawalan transformasi Indonesia, diantaranya harus membuka lapangan kerja seluas-luasnya, menyejahterakan petani, nelayan dan buruh industri serta harus memfasilitasi agar pelaku UMKM bisa naik kelas dengan digitalisasi.

“Kita harus mendukung peningkatan produk-produk dalam negeri, banyak sekali hal-hal yang harus kita lakukan,” ujar Jokowi.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah harus mempermudah investasi yang masuk ke Tanah Air, baik investasi besar, sedang maupun kecil dari dalam dan luar negeri.

“Itulah tujuan kita menetapkan Undang-Undang  Cipta Kerja, untuk menciptakan lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” jelas Jokowi.

Salah satu strategi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, Jokowi mengungkapkan pemerintah melakukan hilirisasi di sektor bisnis pertambangan, minyak dan gas bumi.

“Bisnis pertambangan minyak dan gas harus melakukan hilirisasi di dalam negeri, untuk memberikan nilai tambah yang besar di negara kita, untuk membuka lapangan kerja dan sekaligus untuk menghemat devisa kita,” terang Jokowi.

Ia menekankan sudah tidak zamannya lagi Indonesia selalu mengekspor bahan-bahan mentah yang nilai tambahnya banyak dinikmati oleh negara lain. Kondisi ini sudah berlangsung sejak zaman VOC. Dengan melakukan hilirisasi, pemerintah sudah membuktikan nilai tambah di dalam negeri itu sangat besar.

Dicontohkannya, hilirisasi nikel telah dilakukan sejak tahun 2015. Kebijakan ini telah memberikan dampak signifikan dari sisi ekspor maupun neraca perdagangan. Ekspor nikel yang diolah menjadi besi baja di tahun 2021 mencapai US$ 20,9 miliar atau setara Rp 300 triliun. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya hanya US$ 1,1 miliar di 2014 atau setara Rp 15 triliun

“Dari Rp 15 triliun kemudian meloncat Rp 300 triliun, itu karena peningkatan nilai tambah di dalam negeri,” tutur Jokowi.

Oleh sebab itu, Jokowi sudah sudah sering meyampaikan bahwa ia tidak hanya akan menyetok ekspor niker, tetapi tahun ini juga merencanakan akan menghentikan ekspor bauksit. Lalu tahun depan akan menyetop ekspor tembaga, timah dan emas.

“Tidak ada lagi yang namanya ekspor bahan mentah. Tahun 2022 ini, saya kira kita bisa mencapai ekspor khusus untuk nikel ini bisa mencapai US$ 28 sampai 30 miliar, berarti sudah kira-kira Rp 420 triliun. Itu perkiraan. Dan sekali lagi setelah nikel, kita akan mendorong investasi di sektor bauksit, tembaga, timah, emas dan lain-lainnya, yang biasanya kita mengekspor dalam bentuk raw material atau bahan mentah,” papar Jokowi.

Selain di sektor pertambangan, Presiden menjelaskan, hilirisasi juga harus dilakukan di sektor-sektor lain, misalnya pertanian. Selain harus kuat di on-farm, inovasi di sektor pertanian dan peternakan juga harus kuat sehingga nilai tambah bisa dinikmati oleh para petani.

"Kelompok tani dan peternak, koperasi petani dan peternak, juga harus masuk juga ke off-farm, masuk ke hilir. Sekali lagi, agar nilai tambah dinikmati petani karena keuntungan yang terbesar itu ada di off-farm-nya, dan tentu saja bisa menciptakan lapangan kerja baru yang makin banyak," jelas Jokowi.

Di samping itu, transformasi ekonomi digital juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Menurut Presiden, Indonesia diperkirakan memiliki potensi ekonomi digital pada tahun 2025 sekitar US$ 124 miliar.

"Kita juga telah memiliki 2.229 startup, kita memiliki 1 decacorn dan 8 unicorn, dan sudah ada 8,4 juta UMKM kita yang dalam lima tahun ini sudah masuk platform digital untuk menjual produknya, dan dipastikan data ini akan terus bertambah," imbuhnya.

Pemerintah juga terus berupaya mewujudkan transformasi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Presiden menuturkan bahwa Indonesia memiliki potensi EBT sebesar 418 gigawatt, baik itu berupa geotermal, angin, solar panel, biofuel, arus bawah laut, dan tenaga hidro. Dekarbonasi sektor transportasi juga dimulai dengan pembangunan mass urban transport. Pembangunan Green Industrial Park yang terbesar di dunia, juga akan segera dimulai di Kalimantan Utara.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN