Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tenaga kesehatan yang bertugas mengambil sample swab di sebuah lab pemeriksaan Covid-19 berbayar di Jakarta Selatan, Rabu (2/2/2022).  Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Tenaga kesehatan yang bertugas mengambil sample swab di sebuah lab pemeriksaan Covid-19 berbayar di Jakarta Selatan, Rabu (2/2/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Satgas: DisiplinProkes Jangan Bedakan Varian Covid-19

Jumat, 4 Februari 2022 | 15:41 WIB
Hendro Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor,id  - Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas Covid-19, Alexander Kaliaga Ginting menegaskan hal yang selalu dan harus dijelaskan ke masyarakat adalah apapun variannya, baik itu Omicron, Delta, Kappa, Gamma atau lainnya itu adalah sama yakni virus Covid-19.

Hal ini dikatakan Alexander menanggapi masyarakat yang semakin abai terhadap protokol kesehatan (prokes). Alasannya sudah tidak terlalu takut dengan Covid-19 karena pandemi sudah hampir dua tahun, puncak pandemi Juli sudah lama melandai, varian Omicron dianggap lebih ringan gejalanya dari Delta, dan sudah merasa kebal karena vaksinasi.

"Jadi kalau hasil swab test PCR positif, maka dinyatakan Covid-19, sementara yang menyatakan Omicron atau Delta dan lainnya itu adalah pemeriksaan whole genome sequencing (WGS). Jadi artinya kalau Covid-nya positif, berarti angka penularan semakin tinggi kasus harian naik, kasus aktif naik, rumah sakit penuh dan RS tidak bertanya-tanya ini varian Omicron, Delta atau lainnya," katanya kepada Beritasatu.com, Jumat (4/2/2022).

Baca juga: Kasus Omicron Melonjak, Presiden: Sudah Diperkirakan dan Diantisipasi

Menurutnya, saat ini musuh bersama masyarakat adalah Covid-19 apapun variannya, harus tetap melaksanakan prokes dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M). Sementara ketika seseorang terpapar virus Covid dan memiliki gejala sedang atau berat dengan demam, harus minum obat anti virus.

"Nah hal-hal ini yang disampaikan ke masyarakat. Jadi sebaiknya masyarakat tak perlu bertanya-tanya lagi atau membandingkan varian omicron, Delta atau lainnya. Cara atasi Covid-19 semua varian itu adalah masyarakat disiplin prokes secara ketat. Itu saja," jelasnya.

Dikatakan saat seseorang positif Covid dan dirawat kalau sudah memiliki gejala sedang. Tetapi kalau gejala ringan, cukup dirawat di rumah kalau syarat klinis/tempat memenuhi. Kalau tidak memenuhi dirawat diisolasi terpusat (isoter) atau di rumah sakit bila memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Baca juga: Jangan Lengah, Tingkatkan Daya Tahan Tubuh Cegah Varian Omicron

Ditegaskan, masyarakat jangan mendikotomikan virus ringan dan virus berat. Semua jenis virus Covid-19 itu tetap berbahaya karena ada yang akut dan jangka panjang. Meski Omicron kendati pun jaringan membuat fibrosis atau membentuk jaringan parut di paru-paru secara ringan, sedang bahkan berat walaupun gejalanya penyakitnya ringan.

"Tetapi kalau sudah fibrosis, si anak atau orangnya membuat nafasnya pendek atau sesak. Oleh karena itu masalah Omicron ini mau berat ataupun ringan, dia sama-sama membuat efek samping jangka panjang. Jadi harus benar-benar diobati dan dijaga jangan sampai tertular," jelas Alexander.

Pesan ke masyarakat adalah jangan membeda-bedakan varian-varian Covid-19 seperti Omicron, Delta, Gamma dan lainnya, karena semua itu adalah Covid-19. Ketika terkena Covid, aplikasi penggunanya menjadi warna hitam dan tidak boleh bepergian kemana-mana.

Baca juga:  Perubahan Karantina 5x24 Sesuaikan dengan Perkembangan Omicron

"Jadi ini yang dijelaskan ke masyarakat agar punya pemahaman yang jelas bahwa sekalipun Omicron itu memang tidak seperti gambaran Delta, tetapi dia adalah virus Covid. Jadi meski ringan tetap namanya Covid, sedang juga namanya Covid, apalagi kalau berat," tambahnya.
 
Jadi, lanjut dia, jangan ada lagi tanggapan masyarakat meski sudah vaksinasi dan super immunity maka dirinya sudah lebih sehat. Jangan beranggapan seperti demikian dan harus mengubahnya.

Super immunity itu dia didapat dari vaksinasi, pernah sakit dan sembuh lalu survive. Jadi antibodinya didapat dari pernah sakit, dan vaksin. Tetapi ini tidak menjamin super immunity atau hybrid immunity bebas infeksi. Jadi sekalipun  kita sudah vaksin 3 kali (booster) sudah punya super immunity dan hybrid immunity tidak menjamin bebas dari infeksi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com