Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid -19 kepada masyarakat peserta Vaksinasi Mobile di Kantor Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Minggu (13/3/2022). Foto BNPB

Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid -19 kepada masyarakat peserta Vaksinasi Mobile di Kantor Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Minggu (13/3/2022). Foto BNPB

Setahun Lebih Vaksinasi,Herd Immunitydi Indonesia Belum Terbentuk

Selasa, 15 Maret 2022 | 13:25 WIB
Hendro Situmorang (redaksi@investor.id)

Jakarta, Investor.id - Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menegaskan, herd immunity atau kekebalan kelompok di Indonesia belum terbentuk, meski sudah setahun lebih dilakukan program vaksinasi.

Menurutnya, total penduduk Indonesia adalah 270 juta penduduk, sementara target cakupan vaksinasi adalah 208 juta (tepatnya 208.265.720 penduduk). Data Kemenkes, per Senin (14/3/2022) pukul 18.00 WIB, cakupan vaksinasi dosis pertama mencapai 193.591.293 orang atau 92,95%, sedangkan cakupan vaksinasi dosis kedua baru mencapai 151.693.762 orang atau 72,84%.

Herd immunity akan terbentuk jika cakupan vaksinasi primer atau dosis lengkap sudah mencapai 70% dari total 270 juta penduduk Indonesia.

"Sementara untuk dosis kedua kita baru mencapai 151 juta dari 270 juta. Artinya baru 56% dari target 70% atau dengan asumsi total penduduk Indonesia sebanyak 270 juta orang. Jadi menurut saya, kita belum mencapai herd immunity," katanya ketika dihubungi Beritasatu.com, Selasa (15/3/2022).

Parahnya, lanjut Masdalina, ada beberapa ahli pada Desember 2021 lalu mengatakan Indonesia sudah mencapai super immunity atau kekebalan super, yang dapat menurunkan jumlah kasus Covid. Padahal pernyataan tersebut adalah salah.

"Kalau kita sudah mencapai super immunity, mestinya di Januari dan Februari kemarin, kita tidak mengalami kenaikan atau puncak kasus Covid-19 lagi khususnya varian Omicron. Itu menandakan kalau memang benar kita sudah memiliki super immunity. Tetapi kenyataannya kan berbeda, kita justru melonjak lagi kasus Covid-19," ungkap epidemiolog Universitas Indonesia (UI) ini.

Super immunity sendiri sebenarnya bukanlah terminologi yang lazim dalam epidemiologi. Epidemiolog hanya mengenal herd immunity saja. Jika 1 banding 4. Misal ada 5 orang, satu tidak divaksin dan 4 sudah divaksin, maka 1 orang itu terlindungi artinya kalau tertular punya imunitas dari kelompok yang sudah divaksin. Itulah konsep herd immunity.

Sementara Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan secara teoretis herd immunity akan terbentuk jika cakupan vaksinasi primer atau dosis lengkap sudah mencapai 70% dari total 270 juta penduduk Indonesia.

"Kalau dari teori yang ada, herd immunity terjadi kalau minimal 70% dari total populasi sudah mendapatkan vaksinasi," ujar Nadia singkat ketika dihubungi Beritasatu.com, Selasa (15/3/2022) yang tidak menjelaskan secara rinci apakah Indonesia sudah mencapai herd immunity atau belum.

Editor : Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN