Menu
Sign in
@ Contact
Search
Calon ibu dan ibu-ibu muda, banyak yang tidak teredukasi mengenai stunting.

Calon ibu dan ibu-ibu muda, banyak yang tidak teredukasi mengenai stunting.

Kolaborasi BKKBN dan Tanoto Foundation dalam Percepatan Penurunan Stunting

Minggu, 10 April 2022 | 23:14 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

TIMOR TENGAH SELATAN, investor.id – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Tanoto Foundation telah bekerja sama sejak tahun lalu untuk mengembangkan program percepatan penurunan stunting berbasis keluarga. Tanoto Foundation sendiri sudah berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.

Selain menggelar serangkaian webinar di tingkat nasional, kerja sama juga dilakukan dalam penyusunan modul pencegahan stunting untuk kelas Bina Keluarga Balita, dan pada tahun ini ditambahkan dengan peningkatan kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Baca Juga: Wapres: Dalam 3 Tahun Prevalensi Stunting Turun 6,4%

Kepala Perwakilan BKKBN Nusa Tenggara Timur (NTT) Marianus Mau Kuru mengatakan, NTT memiliki 15 kabupaten dengan prevalensi stunting yang masih di atas 30%, salah satunya adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Pelatihan Konseling Pemberian Makanan Tambahan Bayi dan Anak (PMBA) kepada 15 bidan anggota TPK yang dilakukan dengan dukungan Tanoto Foundation ini dapat menjadi model peningkatan kapasitas TPK yang mendorong mekanisme pengimbasan pengetahuan di masing-masing tim,” ujar dia dalam keterangan tertulis belum lama ini.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia masih berada pada angka 24,4% atau dialami sekitar 5,33 juta balita. Walau memperlihatkan angka penurunan prevalensi stunting dari tahun-tahun sebelumnya, stunting menjadi salah satu masalah kesehatan yang sangat dikhawatirkan karena memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Baca Juga: Pemenuhan Gizi Anak Butuh Dukungan Semua Pihak

Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya lebih keras untuk mencapai 14% pada 2024, sesuai yang ditargetkana oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Sejak diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 yang menunjuk BKKBN sebagai ketua pelaksana program percepatan penurunan stunting, berbagai upaya dan inisiatif telah dilakukan. Salah satunya adalah dengan membentuk TPK yang merupakan sebuah langkah preventif dan promotif dalam mengatasi permasalahan stunting pada keluarga beresiko stunting. Saat ini terdapat 200 ribu TPK atau 600 ribu orang anggota TPK yang terdiri dari bidan, kader PKK dan kader KB yang bertugas mendampingi dan mengedukasi keluarga-keluarga tersebut.

Baca Juga: Peningkatan Literasi Gizi Guna Putuskan Persoalan Stunting di Indonesia

Sementara itu, Head of Early Childhood Education and Development (ECED) Tanoto Foundation, Eddy Henry mengungkapkan TPK yang bertugas mendampingi keluarga beresiko stunting merupakan upaya kunci percepatan penurunan stunting namun perlu didukung dengan peningkatan kapasitas dan monitoring yang baik.

“Tanoto Foundation berkomitmen mendukung pemerintah Indonesia dalam percepatan penurunan stunting, salah satunya dengan membentuk sumber daya yang andal dalam mendampingi masyarakat, khususnya keluarga beresiko stunting. Untuk itu, pengetahuan dan keterampilan yang berkualitas sangat dibutuhkan oleh TPK,” katanya.

Sebagai informasi, pada 24-26 Maret 2022, Tanoto Foundation dan BKKBN telah melaksanakan PMBA kepada 15 orang bidan anggota TPK Kabupaten Timor Tengah Selatan dari Kecamatan Mollo Utara, Mollo Selatan dan Kota Soe.

Baca Juga: Luncurkan  Buku, Tanoto Foundation Ajak Anak Muda Ikut Cegah Stunting

Bagi para bidan yang telah menyelesaikan pelatihan terakreditasi Kementerian Kesehatan akan mensosialisasikan pengetahuan tersebut kepada 30 anggota TPK non tenaga kesehatan di kelompoknya. Manfaat pelatihan ini akan membantu 45 orang anggota TPK yang bertugas mendampingi keluarga beresiko stunting di wilayahnya.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Kabupaten Timor Tengah Selatan masuk dalam sepuluh daerah dengan angka prevalensi stunting tertinggi dengan angka 48,3%. Dari 22 kabupaten/kota yang ada di NTT, 21 masih mempunyai angka prevalensi stunting di atas angka rata-rata nasional. Tetapi dengan hasil pelatihan TPK di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang dapat cepat diterapkan oleh kabupaten/kota di NTT lainnya, bisa mempercepat penurunan angka stunting di NTT dan di Indonesia.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com