Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy di sela-sela acara Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022, pada 25 Mei 2022. ( Foto: Istimewa/ANTARA )

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy di sela-sela acara Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022, pada 25 Mei 2022. ( Foto: Istimewa/ANTARA )

Global Platform for Disaster Risk Reduction 2022

Resiliensi Berkelanjutan Terwujud karena Kerja Bersama

Rabu, 25 Mei 2022 | 18:31 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

BADUNG, investor.id – Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) telah membuka secara resmi kegiatan “Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022” yang mengusung tema besar From Risk to Resilience: Towards Sustainable Development for All in a COVID-19 Transformed World di Bali, pada Rabu (25/5).

Dalam konteks Indonesia, tema yang diusung yaitu “Memperkuat Kemitraan Menuju Ketangguhan Berkelanjutan.” Pada kesempatan GPDRR 2022, Indonesia bakal membagikan praktik baik dan pengalaman penanggulangan bencana kepada para delegasi.

Baca Juga: Presiden Jokowi Bunyikan Kulkul Tandai Pembukaan GPDRR ke-7

Menurut Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, Indonesia yakin resiliensi atau ketangguhan hanya dapat diwujudkan apabila upaya tersebut melibatkan seluruh pemangku kepentingan kebencanaan secara berkelanjutan dan inklusif.

Mewujudkan resiliensi berkelanjutan ini, lanjut dia, Indonesia telah memiliki Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020-2044 sebagai komitmen jangka panjang Indonesia dalam menerapkan Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030.

“Harapannya, Indonesia dapat menjadi bangsa yang tangguh di 2045. Indonesia telah mengadopsi pendekatan pentaheliks berbasis masyarakat yang dikenal dengan gotong royong dalam mencapai resiliensi. Kami menegaskan pentingnya kolaborasi pentaheliks, termasuk partisipasi dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media,” ujar Muhadjir dalam keterangan pada Rabu.

Baca Juga: Diikuti 193 Negara, GPDRR 2022 Digelar di Bali 

Dia menambahkan, pada tingkat komunitas, kolaborasi tersebut diimplementasikan melalui program seperti Taruna Siaga Bencana dan Desa Tangguh Bencana.

Muhadjir juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kearifan lokal di bidang penanggulangan bencana yang sangat kaya. Salah satu contohnya adalah Bali – tuan rumah GPDRR – yang memiliki filosofi ‘Tri Hita Karana’ atau keseimbangan hubungan antara manusia, Tuhan dengan alam.

Manfaat lain dengan digelarnya GPDRR ke-7, lanjut Muhadjir adalah bahwa kegiatan internasional ini dapat membantu proses pemulihan sosial-ekonomi, khususnya di Bali, dan di Indonesia.

Baca Juga: Life After Mine Sumbang Mobil Double Cabin ke Masyarakat Terdampak Bencana Lebak

“Menegaskan kembali kepemimpinan Indonesia dalam penanggulangan bencana di tingkat dunia. Juga merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kepemimpinan Indonesia di tingkat internasional tahun ini, termasuk Presidensi G20, dan Forum Negara Pulau dan Kepulauan 2022,” katanya, seraya mengingatkan pentingnya meningkatkan kembali kewaspadaan publik domistik terhadap pengurangan risiko bencana.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Wakil Ketua I Panitia Nasional GPDRR, Letjen TNI Suharyanto telah menyampaikan bahwa pertemuan tersebut akan memperkuat kolaborasi dunia menuju resiliensi berkelanjutan.

“Mari bangkit bersama, bangkit menjadi lebih kuat menuju ketangguhan bangsa dan dunia dalam menghadapi bencana melalui resiliensi yang berkelanjutan,” tuturnya pada Minggu (22/5).

Baca Juga: BNPB Siaga Hadapi Kenaikan Arus Balik via Bakaheuni

Suharyanto pun berharap pertemuan tingkat regional dan global penting ini menjadi ajang berbagi informasi dan pengalaman dari tingkat lokal dan nasional untuk diangkat menjadi kesepakatan dan referensi di tingkat global. Oleh karenanya, ia juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama memberikan upaya terbaik terhadap suksesnya kegiatan ini.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara rawan bencana. Pada 2022 saja, per 23 Mei telah terjadi bencana sebanyak 1.613 dan rata-rata dalam sebulan terjadi 500 kali gempa skala kecil maupun besar. Gempa besar disertai tsunami terakhir yang terbesar terjadi di Palu pada 2018, sebanyak 2.113 orang meninggal. Dengan 139 gunung api aktif, letusan gunung berapi juga mengancam masyarakat Indonesia. Sepanjang 2015 hingga 2021, tercatat 121 letusan gunung berapi di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan juga merupakan ancaman.

Baca Juga: Sofitel Jadi Resor Resmi Sidang PBB terkait Pengurangan Risiko Bencana 

Terkait kebakaran hutan dan lahan pada 1997-1998 merupakan yang terbesar yang pernah dialami Indonesia, karena menghanguskan lebih dari 10 juta hektare lahan tersebar di Indonesia. Dengan berbagai upaya, kebakaran hutan dan lahan bisa ditekan seminimal mungkin. Kemudian pada 2021 Indonesia berhasil merestorasi lahan gambut seluas 3,4 juta hektare, menjaga dan merevitalisasi hutan mangrove yang luasnya lebih dari 20% total area mangrove dunia, sekitar 3,3 juta hektare. Indonesia juga berhasil menurunkan kebakaran hutan dari 2,6 juta hektare hanya menjadi 358 ribu hektare pada 2021.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN