Menu
Sign in
@ Contact
Search
Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).

Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).

Perkuat Riset di Bidang Paleogenomik, MRIN dan BRIN Berkolaborasi

Selasa, 2 Aug 2022 | 13:15 WIB
Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) bersama Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kolaborasi yang ditandai dengan penandatanganan MoU dan perjanjian kerja sama (PKS) terkait penelitian bidang arkeolog dan paleogenomik.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara menyambut baik kolaborasi kedua pihak. Ia berharap, kerja sama tersebut berguna bagi ilmu pengetahuan bangsa dan terus berkesinambungan di masa mendatang.

“Mudah-mudahan ke depan kerja sama kita akan berkesinambungan dan bermanfaat bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan bangsa ini,” kata Herry dalam sambutannya pada acara seminar dan lokakarya mengenai ‘Menyingkap Misteri Asal-Usul Leluhur Kita’ dengan subtema Genetik Purba dan Budaya Prasejarah Nusantara, yang digelar secara daring, Selasa (2/8/2022).

“Kita punya singkatan yang dekat BRIN dan MRIN, saya kira dengan kedekatan singkatan ini pun kita ke depan bisa bekerja lebih dekat lagi,” ujarnya.

Advertisement

Baca juga: BRIN Siap Fasilitasi Infrastruktur Riset untuk Siswa SPH

Menurut Herry, perjanjian kerja sama antara MRIN dan BRIN bertujuan untuk mengembangkan dan melakukan kolaborasi penelitian di bidang arkeologi dalam bahasa yang fokus pada paleogenomik dan sampel gigi kerangka manusia prasejarah di Indonesia.

Selain itu, MoU tersebut guna memahami perkembangan manusia prasejarah dan sejarah Indonesia, sehingga diturunkan dalam bentuk PKS antara MRIN dengan Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN.

Adapun kegiatan yang akan dilakukan yakni, penelitian dan kajian di bidang analisis genetika DNA pada temuan gigi dan kerangka manusia prasejarah di Sulawesi dan Papua.

Lebih lanjut Herry mengatakan, fasilitas sarana dan prasarana yang dimiliki BRIN dan MRIN dapat mengembangkan penelitian tersebut. Khusus untuk BRIN, Herry menuturkan bahwa dari tahun ke tahun, BRIN terus berupaya untuk mengembangkan sarana dan prasarana, bahkan tertuang dalam peta jalan BRIN.

“Kami sebetulnya sudah melakukan perencanaan melakukan berbagai pengembangan laboratorium untuk riset arkeologi, juga ada pertukaran keahlian dalam bidang genetika dan arkeologi. Penyelenggaraan seminar dan workshop hari ini juga publikasi ilmiah. Kita juga akan membuat kegiatan lain yang disepakati kedua pihak,” ucapnya.

Herry menuturkan, PKS yang ditandatangani hari ini dapat berubah ke depannya, jika ada hal-hal urgen untuk dikembangkan. Untuk saat ini, ia menilai kerja sama kedua pihak sangat strategis untuk mengembangkan dan memperkenalkan ilmu arkeologi dan paleogenomik.

Baca juga: Lulusan Teacher’s College UPH Siap Melayani Bangsa di Pelosok Nusantara

“Prinsip kerja sama yang bersifat kolaboratif. Artinya, saling memberikan apa yang dimiliki, kekuatan-kekuatan yang bisa dimiliki saling melengkapi. Kalau ada yang kurang dan ini juga menunjukkan bahwa BRIN membuka kerja sama dengan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi, lembaga riset independen, industri, dan sebagainya,” ucapnya.

Sementara itu, peneliti utama MRIN, Prof Herawati Sudoyo berharap kick off kerja sama antara BRIN dan MRIN menuju arah yang baik untuk penelitian arkeologi dan paleogenomik.

“Walaupun disebut kick off, kerja sama penelitian yang akan berlangsung ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebelumnya, sebagai bagian dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman sudah banyak melakukan kerja sama penelitian. Kerja sama di bidang genetika dan arkeologi ini yang sudah berjalan harus tetap dilanjutkan,” ucapnya.

Prof Herawati menuturkan, penelitian genetika dan arkeologi dilanjutkan untuk menjawab pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab secara pasti terkait sejarah masa lalu. Karena itu, BRIN dan MRIN menilai perlu untuk menjawab pertanyaan tersebut secara formal dengan meresmikan kerja sama penelitian melalui penandatanganan MoU dan PKS.

“Sekarang adalah era genomik, era di mana kita melihat informasi genetika secara total. Kalau tidak secara total, itu pun dalam bagian yang sangat-sangat besar,” tuturnya.

Menurut dia, sebetulnya era tersebut sudah lewat, melihat bagian kecil dari gen. Karena itu, untuk dapat mengikuti kemajuan teknologi dan kemajuan zaman dalam menghasilkan sesuatu yang dapat dipublikasikan, tentu tidak ada jalan lain untuk masuk ke paleogenomik.

Baca juga: Ini Cara Mudah Transformasi Digital di Kampus ala Prof Marsudi dari BRIN

Paleogenomik ini merupakan suatu bidang yang memerlukan pengetahuan dan teknologi tercanggih yang ada. “Jadi jauh lebih sulit daripada kita mempelajari manusia yang modern,” jelasnya.

Prof Herawati menuturkan pendekatan palegenomik harus dilakukan peneliti. Namun, selama ini hal tersebut terkendala sumber daya manusia (SDM) dan sarana yang masih sangat terbatas.

“Karena itu, kita tidak boleh menutup kemungkinan untuk melakukan kolaborasi setara dengan para peneliti di tempat yang memiliki infrastruktur dan pengetahuan yang termutakhir,” katanya.

“Saya pikir dengan kerja sama yang setara ini diharapkan hasilnya dapat kita nikmati,” sambungnya.

Prof Herawati menambahkan, penelitian terkait paleogenomik ini tentunya diharapkan dapat bermanfaat bagi Indonesia terutama untuk mengungkap sejarah masa lalu. Pasalnya, sejarah adalah bagian dari hidup masa kini.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com