Menu
Sign in
@ Contact
Search
Sekretaris Jenderal Planologi dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr Hanif Faisol Nurofiq

Sekretaris Jenderal Planologi dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr Hanif Faisol Nurofiq

KLHK: FOLU Net Sink 2030 Tak Hanya Soal Penurunan Emisi

Jumat, 16 Sep 2022 | 19:58 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Sekretaris Jenderal Planologi dan Tata Lingkungan (PKTL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr Hanif Faisol Nurofiq menyebutkan bahwa pihaknya akan terus melakukan sosialisasi program FOLU Net Sink 2030.

Selain sesuai dengan arahan Menteri LHK Prof. Dr. Siti Nurbaya Bakar, menurut Hanif, FOLU Net Sink bisa menjadi acuan dalam proses perubahan iklim Indonesia untuk dunia.

“Ini bukan lagi karena arahan dari Bu Menteri, melainkan perubahan iklim memang kebutuhan kita bersama,” ujar Hanif dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (16/9/2022).

Hanif mengungkapkan, keterlibatan Menteri Lingkungan Hidup Norwegia beberapa hari lalu terkait rehabilitasi mangrove di Kalimantan, adalah bukti bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang diandalkan dunia dalam perubahan iklim.

Advertisement

“Beberapa hari lalu, Bu Menteri bersama Menteri Lingkungan Hidup dari Norwegia, Espen Barth Eide melakukan tanam mangrove bersama. Beliau (Barth Eide) sangat mendukung peran Indonesia dalam perubahan iklim,” tegasnya.

Peraih penghargaan berupa tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ini menambahkan, bahwa Norwegia sangat memberikan dukungan penuh terhadap program Folu Net Sink 2030.

“Ini menjadi bukti, bahwa Norwegia juga menginginkan kerjasama berkelanjutan terkait perubahan iklim, bahkan kita menjalin kemitraan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) tentang Partnership in Support of Indonesia’s Efforts to Reduce Greenhouse Gas Emissions from Forestry and Other Land Use yang telah ditandatangani oleh kedua menteri beberapa hari lalu,” sambung Hanif.

Adapun menurunnya, partisipasi masyarakat luas untuk bersama-sama membangun kesadaran untuk perubahan iklim sudah bisa dilakukan melalui kelompok kecil di masyarakat.

“Jadi, perlu diketahui serapan karbon pada mangrove di hutan itu bisa mencapai lima kali lebih tinggi daripada jenis pohon lain, itu artinya jika kita membuka lahan baru akan menambah potensi karbon yang bisa memicu keuntungan bagi masyarakat setempat, karena nilai karbon saat ini masih rendah, yakni 5 dolar, padahal dengan melakukan penanaman mangrove, pelestarian hutan tentunya berbagai keuntungan juga bisa didapatkan oleh masyarakat luas,” tutupnya.

Sebagai informasi, MoU antara Indonesia dan Norwegia adalah meliputi kerjasama terkait pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan dengan melindungi dan pengelolaan hutan melalui partisipasi masyarakat.

Selain itu, peningkatan kapasitas untuk memperkuat penyerapan karbon hutan alam melalui pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial, termasuk mangrove. Kemudian ada pula, konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dan kerusakan lahan gambut.

Editor :

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com