Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tembakan gas air mata saat kericuhan seusai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam laga pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, 1 Oktober 2022 malam. Tragedi Kanjuruhan ini menewaskan sekurangnya 127 suporter

Tembakan gas air mata saat kericuhan seusai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam laga pekan ke-11 Liga 1 2022/2023 di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu, 1 Oktober 2022 malam. Tragedi Kanjuruhan ini menewaskan sekurangnya 127 suporter

Tidak Hanya Polisi, IPW Minta Tim Pencari Fakta Usut Tragedi Kanjuruhan

Minggu, 2 Oktober 2022 | 15:11 WIB
Vento Saudale (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Indonesia Police Watch (IPW) meminta pemerintah membentuk tim gabungan pencari fakta atas tragedi meninggalnya ratusan warga sipil di stadion Kanjuruhan Malang. Tim ini dibentuk untuk mencari tahu siapa pelaku utama yang menyebabkan kerusuhan sehingga banyak orang meninggal dunia.

"Harus dibentuk tim gabungan pencari fakta, karena korban adalah ratusan warga sipil. Penanganan kasus tersebut tidak hanya bisa diserahkan kepada polisi," kata Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso saat dihubungi, Minggu, (2/10/2022).

Baca juga: Kapasitas Stadion Kanjuruhan 38.000, Tiket yang Dicetak 42.000 

Dia menilai, ada dugaan salah prosedur dan kesalahan manajemen oleh penyelenggara dalam hal ini PT Liga Indonesia yang merupakan penyelenggara sepak bola Liga 1 musim 2022/2023.

Sugeng mengatakan, tim gabungan pencari fakta bisa diambil dari unsur Mabes Polri, Komnas HAM, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Komdis PSSI, dan perwakilan masyarakat. Pengusutan kasus meninggalnya suporter dan polisi itu, kata dia, tidak bisa diusut secara parsial harus dibentuk tim pencari fakta gabungan.

"Anggotanya terdiri atas Mabes Polri, Kementrian Olahraga, Komnas HAM, perwakilan masyarakat, komdis PSSI. Harus diusut tuntas," katanya.

Baca juga: Komnas HAM: 153 Orang Tewas dalam Tragedi Kanjuruhan 

Sugeng mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencabut izin penyelenggaraan sementara seluruh kompetisi liga yang dilakukan PSSI sebagai bahan evaluasi harkamtibmas. Di samping, menganalisa sistem pengamanan yang dilaksanakan oleh aparat kepolisian dalam mengendalikan kericuhan di sepak bola.

Sugeng mengatakan, kericuhan dalam tragedi tragis itu berawal dari kekecewaan suporter tim tuan rumah yang turun ke lapangan tanpa dapat dikendalikan oleh pihak keamanan. Bahkan, aparat kepolisian yang tidak sebanding dengan jumlah penonton, secara membabi buta menembakkan gas air mata. "Sehingga menimbulkan kepanikan terhadap penonton yang jumlahnya ribuan," katanya.

Akibatnya, dari tembakan gas air mata ini banyak penonton yang sulit bernapas dan pingsan. Banyak jatuh korban yang terinjak-injak di sekitar Stadion Kanjuruhan Malang.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan Urutan Kedua Laga Sepakbola Paling Mematikan di Dunia

Padahal, penggunaan gas air mata di stadion sepak bola sesuai aturan FIFA dilarang. Hal itu tercantum dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations pada pasal 19 huruf b disebutkan bahwa sama sekali tidak diperbolehkan mempergunakan senjata api atau gas pengendali massa.

Kapolri Sigit juga harus mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang bertanggung jawab dalam mengendalikan pengamanan pada pertandingan antara tuan rumah Arema FC Malang melawan Persebaya Surabaya.

Kemudian, memerintahkan Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta untuk mempidanakan panitia penyelenggara pertandingan antara Arema FC vs Persebaya itu.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com