Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi investasi. (Foto: IST)

Ilustrasi investasi. (Foto: IST)

Di Tengah Ancaman Resesi Global, Indonesia Masih Jadi Magnet Investasi

Sabtu, 3 Des 2022 | 17:22 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Mudrajad Kuncoro menilai resesi global yang diperkirakan akan terjadi tahun depan merupakan peluang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski demikian, sektor investasi akan menjadi rebutan oleh semua negara, termasuk Indonesia.

Karena itu, Mudrajad mendukung arahan Presiden Jokowi yang meminta jajarannya agar tidak mempersulit investasi.

“Kalau saya perkiraan resesi itu kita anggap sebagai tantangan sekaligus peluang tantangannya karena memang pertumbuhan ekonomi sudah membaik pasca pandemi 2020 yang hampir semua daerah semua pulih maksudnya positif dan sektor-sektor juga mulai tumbuh positif,” ujar Mudrajad, Sabtu (3/12/2022).

Menurutnya, pemerintah harus mempersiapkan berbagai skenario dari resiko hingga resiko terburuk seperti misalnya terjadi penurunan ekspor produk dari komoditas tanah air.

Advertisement

“Resesi global itu akan diperkirakan 2023 itu mulai bulan apa kalau mulai bulan Januari kan tinggal menghitung hari jadi kita harus mempersiapkan skenario yang terburuk yang terburuknya apa ekspor turun karena ekspor kita yang meningkat selama 6 bulan terakhir ini itu banyak didorong oleh harga komoditi yang meningkat batubara kelapa sawit dan lain lain,” ucapnya.

Mudrajad menyebut Indonesia mengalami surplus secara neraca perdagangan, namun dari segi jasa masih defisit. “Nah itu yang harus jadi PR bagi kementerian maupun OJK maupun Bank Indonesia bagaimana kita mendorong agar transaksi berjalan kita surplus,” katanya.

Oleh karenanya, apabila Indonesia menghadapi resesi, maka yang harus disiapkan adalah ekonomi yang tidak terlalu terbuka. Sebab hal itu menjadi positif karena dampaknya tidak terlalu terasa. “Tapi yang harus kita jaga adalah investasi dan juga konsumsi rakyat konsumsi rumah tangga itu harus tetap positif karena itu yang paling besar,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga harus tetap menjaga daya beli masyarakat, Rektor Universitas Trilogi itu juga mendorong agar semua pihak tetap belanja baik jtu ke warung kelontong atau ke UMKM.

“Nah itulah yang harus kita jaga agar tetap growing tidak turun artinya daya beli itu menjadi konsen pemerintah pusat tidak hanya menarik investasi ya tetapi memulihkan daya beli rakyat,” katanya.

Kemudian, Mudrajad merespon soal Presiden Jokowi yang menyampaikan target investasi di tahun depan sekitar Rp 1.400 triliun yang menurutnya dapat tercapai dengan beberapa catatan.

“Begini catatan saya, bukan di angka tetapi distribusi, distribusi itu apa sekarang itu kalau kita lihat porsi terhadap PMA dan PMDN masih Jawa dan Sumatera. Itu masih porsi yang terbesar Jawa, kalau tidak salah 68% Sumatera sekitar 15 sampai 20% selama ini,”
 ucapnya.

Artinya, kata dia, sekitar 80 sampai dengan 90% masih di kawasan barat Indonesia, sementara di kawasan timur masih sedikit. “Kalaupun ada itu di beberapa provinsi yang paling tinggi itu Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan karena ada tambang nikel dan industri. Kalau di Papua hanya di Freeport,” jelasnya.

Dengan demikian, pekerjaan rumah dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah adalah bagaimana dapat menurunkan ketimpangan yang masih meningkat pasca pandemi. Mudrajad pun meyakini jika target investasi pemerintah di angka Rp 1.400 triliun di tahun 2023 bisa tercapai, karena di tahun ini nilai investasi pemerintah tembus Rp 1.200 triliun.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com