Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

MULYO RAHARDJO: Fokuslah pada Satu Hal

Senin, 25 Juni 2012 | 22:18 WIB
Antara

Kecintaan kepada tanaman herbal Indonesia membuat Mulyo Rahardjo mengenyampingkan idealismenya bekerja di luar perusahaan milik orangtua. Pada 1989, ia memutuskan untuk membantu orangtuanya membesarkan PT Deltomed Laboratories yang diawali dari sebuah industri rumahan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada 1976.

Berkat passion pada obat herbal dan berani menciptakan sesuatu yang berbeda, Deltomed maju pesat. Produk-produk yang sudah kuat di pasar makin diperkuat lagi dengan rumus product (produk), price (harga), promotion (promosi), dan place (tempat) ditambah distribution (4P+Distribusi). Hasilnya, sejumlah produk Deltomed, seperti Antangin, Pil Tuntas, dan Rapet Wangi mengalami peningkatan penjualan hingga berkali lipat.

“Kesuksesan itu kami capai berkat kerja keras team work. Bersama-sama, kami terus menciptakan produk yang dibutuhkan masyarakat,” tutur Mulyo kepada wartawan Investor Daily Mardiana Makmun di Jakarta, baru-baru ini.

Filosofi yang diturunkan orangtua Mulyo Rahardjo ternyata ada di belakang kesuksesan tersebut. “Orangtua saya memberikan kebebasan berekspresi. Pesan mereka hanya satu, yaitu fokus pada obat herbal. Orangtua juga meminta saya berkomitmen pada apa yang dikerjakan,” ujarnya.

Mulyo punya obsesi yang mulia, yakni menjadikan obat herbal sebagai tuan rumah di negeri sendiri dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk pengobatan secara medis. “Selain lebih sehat, manfaatnya bisa menyejahterakan para petani tanaman obat Indonesia,” tandas dia.

Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria kelahiran Pekalongan, 10 Januari 1967 yang juga menjabat sebagai Komisaris Extract Center Javaplant dan Director Distribution Company PT Mulia Putra Mandiri itu.

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Setelah lulus kuliah, pada 1992 saya kembali ke Indonesia dan bekerja di perusahaan furnitur di Semarang. Idealismenya sih ingin kerja pada orang lain. Saya mengurusi ekspor furnitur. Satu tahun di situ, akhirnya saya masuk ke perusahaan milik orangtua, Deltomed.

Apa yang membuat Anda memutuskan bergabung dengan Deltomed?
Keputusan pindah ke Deltomed saat itu karena orangtua saya membeli Deltomed dari pihak lain pada 1989. Dari sebuah perusahaan berbasis di Kalimantan, setelah dibeli orangtua saya, Deltomed dipindahkan ke Wonogiri, Jawa Tengah.

Waktu itu orangtua mempersilakan saya masuk di bagian mana saja. Saya pilih di distribusi karena kerjanya banyak di lapangan dan berhubungan dengan sales. Saya masuk di manajemen agen milik Deltomed. Ada 27 agen, salah satunya di Jakarta yang saya pilih. Di agen, kerja saya keliling dari pasar ke pasar. Dari situ, saya dapat data-data dan ide-ide untuk membikin produk dan konsep.

Seberapa besar peran orangtua dalam karier Anda?
Orangtua saya memberikan kebebasan berekspresi bagaimana menjalankan Deltomed. Saya cukup bersyukur kepada orangtua atas kebebasan yang diberikan. Pesan mereka hanya satu, fokus pada apa yang dikerjakan, yaitu fokus pada obat herbal dan fokus tidak mengerjakan banyak produk. Saat ini Deltomed punya delapan produk. Kami lihat mana yang market-nya bagus dan berkomitmen pada apa yang dikerjakan. Produk kami di antaranya Pil Tuntas, Rapet Wangi, Srongpas, dan Antangin (semula bernama Antingin). Saya menerapkan 4P untuk semua produk itu, yakni product, price, promotion, dan place.

Konsep itu berhasil?
Saya lihat saat itu Pil Tuntas cukup bagus dan saingannya nggak banyak. Pada 1994, Pil Tuntas dipromosikan di TV dengan bintang iklan Marissa Haque. Itu semua masukan dari pasar. Hasilnya cukup bagus, penjualan naik berkalikali lipat. Saat itu, saya tidak memegang jabatan apapun, tapi saya memosisikan diri di penjualan dan promosi. Saya juga keliling Sumatera dan Kalimantan serta kota-kota kecil lainnya untuk mengetahui kebutuhan pasar.

Pada 1994, saya menjadi marketing manager sampai awal 1997. Saat itu, produk yang bagus di pasar kami promosikan. Dari Pil Tuntas, berikutnya kami perkuat Rapet Wangi dengan mengiklankannya. Hasilnya cukup bagus. Antingin juga sukses. Pada 1997, saya menjabat sebagai managing director. Saat itu, saya lihat produk herbal masuk angin kami, Antingin cukup bagus di pasar.

Untuk memperkuatnya lagi, Antingin kami ubah menjadi Antangin karena penggunaan kata anti saat itu tidak boleh. Dari segi pelafalan, kata Antangin juga lebih enak daripada Antingin. Selain nama, packagingnya juga diubah. Maka diluncurkanlah produk Antangin. Pada 1998, promosi kencang Antangin dilakukan dengan model iklan Basuki, tagline-nya Wesewes ewes bablas angine.

Apa yang membuatnya sukses?
Memang saat itu adalah momen krisis moneter dan kerusuhan. Itu momen yang tak akan pernah saya lupakan. Pada momen itu perlu keberanian. Saat krisis dan chaos, orang banyak bingung, eksodus, dan sepi. Saya nggak eksodus, buat saya nggak ada poinnya. Memang, penjualan barang-barang terus berjalan, tapi nggak ada orang yang promosi, apalagi bunga bank juga tinggi. Tapi yang saya lakukan malah terus beriklan. Kebetulan saat itu, TV-TV nggak ada iklan.

Saya dikasih harga murah dari RCTI. Karena sepi iklan, iklan saya (Antangin) dipasang terus. Hasilnya, Antangin meroket, penjualannya naik berkali- kali lipat hingga 200% di saat krisis. Pepatah bahwa di saat krisis, di situ ada kesempatan, benar adanya. Mungkin di satu pihak orang rugi, tapi di pihak lain orang untung. Setelah itu, penjualan Antangin dan hampir semua produk kami tumbuh terus.

Bagaimana posisi industri herbal di Tanah Air saat itu?
Saat itu, Deltomed bersaing dengan perusahaan jamu tradisional. Tapi Deltomed mengambil positioning jamu modern berbentuk sediaan pil, tablet, dan cair, bukan seduh seperti jamu tradisional. Jadi, sebenarnya Deltomed nggak merasa bersaing dengan mereka. Posisi Deltomed di kelas sendiri. Itu juga arahan dari orangtua.

Orangtua saya bilang, kami  bikin yang modern, jangan bubuk, tapi bikin pil yang gampang ditelan karena orang makin pintar. Langkah kami ternyata diikuti perusahaan jamu tradisional yang akhirnya juga membuat jamu dalam bentuk tablet.

Itu juga terobosan Anda?
Ya, kami berani masuk ke kategori jamu masuk angin yang mencegah flu. Jadi, breakthrough kami adalah memopulerkan jamu modern untuk masuk angin (Antangin). Saat itu, belum ada jamu yang mempromosikan jamu masuk angin, meskipun jamu masuk angin (tolak angin) sudah ada. Dulu, nggak ada orang kelas atas yang mau minum jamu masuk angin. Sekarang berkat promosi, orang kelas atas pun mau minum jamu masuk angin.

Bagaimana Anda melihat persaingan di pasar?
Tetap yang bersaing itu bagus, karena semua orang teriak (mempromosikan) jamu masuk angin, sehingga semakin populer dan semakin besar market-nya. Dari market jamu masuk angin yang besar itu, market share Antangin cukup besar berdasarkan best brand dan top brand yang dibuat sebuah lembaga. Hingga sekarang, Antangin masih menjadi produk andalan kami dengan bintang iklannya Happy Salma. Kini, kami juga mengeluarkan varian ginger mint dan ginger mocca yang menyasar kalangan anak muda.

Terobosan selanjutnya?
Setelah Antangin, pada 2009 Deltomed meluncurkan obat batuk herbal, OB Herbal. Ini juga menjadi breakthrough kami. Saat itu, tidak ada jamu yang bersaing dengan farmasi, sehingga kami ciptakan obat batuk herbal. Bikin obat batuk herbal bukan perkara mudah, perlu riset yang panjang dan teknologi ekstrak. Ini masuk kategori baru. Sejak 2009-2012, penjualan terus tumbuh. Memang persaingan cukup berat, tapi kami ambil positioning yang jelas, yaitu obat batuk herbal yang tidak mengandung alkohol dan tidak bikin ngantuk.

Karena nonalkohol, OB Herbal direkomendasikan sebagai obat batuk pilihan bagi mereka yang akan berhaji. Sebagai satu-satunya obat batuk herbal, OB Herbal mengandung akar manis, jahe, jeruk nipis, dan pepermin. Ini cukup membanggakan karena terbuat dari herbal Indonesia dan 98% bahannya dari lokal Indonesia, kecuali pepermin.

Berapa investasi yang dikeluarkan untuk mendukung produk baru?
Karena penjualan Antangin terus bertambah, akhirnya kami menginvestasikan Rp 50 miliar untuk pembelian mesin ekstrak yang bagus dengan teknologi Quadra Extraction System. Setelah investasi itu, pada 2000 berdiri Java Plant, anak perusahaan khusus untuk ekstraksi. Java Plant mengerjakan 50% untuk Deltomed dan 50% untuk perusahaan lain.

Pada 2008, kami pasang mesin baru untuk semua produk, termasuk untuk OB Herbal. Kami juga merelokasi pabrik yang kini luasnya 8 hektare di Nambangan, Wonogiri, Jawa Tengah. Pabrik ini memiliki fasilitas lengkap dan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga lima kali lipat.

Produk apa lagi yang akan dikeluarkan?
Kami akan mengeluarkan ekstension Antangin dan OB Herbal. Kami juga terus melakukan riset dan pengembangan untuk mengeluarkan produk baru yang berkualitas. Kami pun sedang menyiapkan produk untuk pengobatan dan akan diluncurkan di kemudian hari.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Deltomed maju karena team work. Kepemimpinan yang didasarkan team work yang kuat dan manajemen yang selalu ingin berkembang dari tahun ke tahun lebih baik lagi. Bersama team work, kami terus menciptakan produk yang dibutuhkan masyarakat, membuat produk yang baik, dan menerapkan 4P+Distribusi.

Apa obsesi Anda?
Bisa terus menjadikan Deltomed sebagai perusahaan herbal terbaik di Indonesia dengan produk berkhasiat dan berguna untuk mengobati berbagai penyakit dan pencegahan penyakit. Ini harus disertai riet dan development yang bertanggung jawab bagi kesehatan masyarakat. Berkhasiat dan tanpa efek samping. Saya ingin menjadikan obat herbal sebagai tuan rumah di negeri sendiri dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk obat. Manfaatnya juga bisa menyejahterakan para petani.

Saat ini, Deltomed bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) untuk melayani kesehatan masyarakat, salah satunya menyediakan resep berbasis herbal. Saya ingin semua orang juga mau ikut mempromosikan obat herbal. Selama ini, saya juga aktif di Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu). Kami sharing untuk teknologi, misalnya bagaimana caranya membuat obat batuk tradisional yang baik sesuai yang disetujui Badan POM. (*)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN