Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bobby Gafur Umar, Gemari Elektronik dan Telekomunikasi

Kamis, 5 Desember 2013 | 00:51 WIB

“Saya dari zaman dulu hobi elektronik, mulai dari software hingga hardware, terutama terkait dengan telekomunikasi. Itu memang background saya,” tutur Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar saat ditemui Investor Daily di kantornya, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kecintaan Bobby pada dunia elektronik dikarenakan pada 1990-an orang di Tanah Air masih sulit berkomunikasi jika sudah keluar dari rumah. Untuk bisa menghubungi orang lain, seseorang juga harus mencari telepon umum. Pada saat itu, manusia membutuhkan dukungan telekomunikasi. “Jadi, sejak saat itu, saya suka elektronik,” kata dia.

Saking cintanya dengan dunia tersebut, Bobby pernah bergabung dengan temannya di perusahaan pemasangan parabola, yang pada 1990-an pernah booming. Pemasangan parabola berukuran 15 feet tersebut untuk mendapatkan siaran televisi. “Saya cukup ahli untuk masang parabola,” aku pria kelahiran 1968 ini.

Bobby mengatakan, meski dirinya hobi dengan dunia elektronik dan telekomunikasi, tidak membuatnya harus memiliki setiap ada keluaran elektronik baru. Bagi dia, perlu ada keseimbangan antara teknologi baru dan kegunaannya.

“Kalau ada tekonologi baru, saya harus pelajari dulu. Tapi, kalau itu justru mempersulit saya, ya tidak usah dimiliki,” imbuh dia, yang juga ahli mengatur home theatre hingga sound system ini.

Kecintaannya pada dunia elektronik dan telekomunikasi membuat dia memilih untuk meraih gelar sarjana elektro tahun 1992. Selanjutnya, Bobby melanjutkan studi dengan mengambil gelar master of business administration di Universitas Arkansas, Amerika Serikat, dan lulus pada 1995. “Setelah lulus dari AS, saya gabung ke grup Bakrie. Saya mulai dari bekerja sebagai manager trainee hingga menjadi direktur utama pada 2002. Saat itu, saya menjadi direktur utama termuda,” jelasnya.

Karier dan Organisasi
Di grup Bakrie, Bobby saat ini menjabat sebagai presiden direktur dan chief executive officer (CEO) PT Bakrie & Brothers Tbk sejak Juni 2010, komisaris PT Bakrie Sumatera Plantations sejak Juli 2002, dan presiden direktur PT Bakrie Indo Infrastructure mulai Maret 2008 hingga sekarang.

Sebelumnya, dia pernah mengemban tugas sebagai managing director PT Bakrie & Brothers Tbk (Juni 2009-Juni 2010), vice president commissioner PT Bakrie & Brothers Tbk (Maret 2008-Juni 2009), presiden direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (Agustus 2002-Maret 2008), direktur PT Bakrie Sumatera Plantations (Juni 2000-Agustus 2002), dan sejumlah jabatan lainnya. “Saya juga terobsesi untuk menjadi ketua di Perusahaan Insinyur Indonesia (PII).

Alhamdulillah, tahun 2009, saya terpilih menjadi wakil ketua umum, dan pada 2012, dilantik menjadi ketua umum PII,” terangnya. Dengan bergabung di organisasi insinyur Indonesia, Bobby berharap dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi, saat ini, perkembangan teknologi sudah mengarah ke ramah lingkungan.

“Filosofi hidup saya bahwa orang itu jangan berhenti belajar. Dengan terus belajar, kita akan semakin maju. Itu juga tercermin dari filosofi insinyur bahwa tidak boleh berhenti untuk mempelajari sesuatu,” papar dia.

Menurut Bobby, banyak hal yang bisa dipelajari. Bahkan, teknologi bisa membawa kemajuan dan perkembangan suatu negara. Hal itu sudah dibuktikan oleh beberapa negara adidaya dan maju lainnya, antara lain Amerika Serikat, Jepang, hingga Korea Selatan, yang maju mengandalkan teknologi.

Dia mengakui, Indonesia belum sampai taraf seperti negara-negara tersebut. Tapi, Indonesia akan bisa mencapainya karena kaya dengan lahan yang subur dan potensial, air, dan matahari, yang belum didalami.

“Misalnya, teknologi pertanian kita belum diriset dengan baik. Kalau itu diriset dengan baik, kita bisa yang terdepan. Masak kedelai dan sapi saja masih impor. Makanya, kita butuh teknologi bagaimana menciptakan pembibitan kedelai atau sapi yang unggul,” imbuhnya.

Editor : Juang N Hutagalung (juang.natigor@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN