Menu
Sign in
@ Contact
Search

Rinaldi Puspoyo, Musisi Lokal adalah Pahlawan

Rabu, 5 Maret 2014 | 02:21 WIB
Anis Rifatul Ummah (redaksi@investor.id)

Magnet Iwan Fals dan Slank menarik banyak orang, termasuk Rinaldi Puspoyo. Baginya, mereka adalah ‘pahlawan’ dengan musik yang menjadi soundtrack hidupnya, sehingga pantas dibuatkan konser yang spektakular.

Iwan Fals, Slank, Naif, mereka itu ‘pahlawan’ saya. Dari kecil, saya mendengarkan lagu-lagu mereka, sehingga rasanya seperti jadi soundtrack hidup saya,” kata Rinaldi kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Dia pun mengaku suka dengan banyak lagu Iwan Fals. “Tapi lagu Maaf Cintaku, itu yang paling aku suka,” ujar pendiri Full Cycle, perusahaan yang bergerak di bidang multimedia desain, event organizer, dan pertunjukan musik ini.

Dari sering mendengar lagu-lagu ‘pahlawan’ musiknya bersama teman-teman waktu duduk di bangku SMA, Rinaldi pun ngeband dan menjadi vokalis. Kini, hobi menyanyinya dilampiaskan di karaoke bersama keluarganya saat menikmati waktu senggang.

“Kebetulan, istri saya suaranya bagus dan anak-anak juga senang menyanyi. Jadi, kami sering karaoke bersama,” tutur lelaki kelahiran tahun 1980 ini.

Mimpi bermusik Rinaldi tak pernah surut, meski obsesinya itu kini ia curahkan dengan terjun di bisnis pertunjukan musik. Proyek pertamanya adalah konser Sync: Andien & Dira Sugandi dengan tema Mata, Telinga, Jiwa A Technocrea Multimedia Concert Series. Sesuai nama konsernya, duet penyanyi jazz Andien Aisyah dan Dira Sugandi akan ditampilkan pada Rabu, 12 Maret 2014 pekan depan.

“Ini berawal dari kekaguman saya kepada mereka berdua dan kontribusi mereka pada musik Indonesia. Karena itu, saya ingin buat konser yang dikemas bagus, beda, dan spektakuler,” kata dia.

Tak tanggung-tanggung, demi berbeda dengan konser musik lainnya, pertunjukan Andien dan Dira akan dikemas dengan menggunakan konsep teater yang akan memberikan pengalaman unik bagi para penonton. Konser TechnoCrea itu akan memadukan teknologi hologram dan video mapping yang sangat menarik dan berbeda dengan konser-konser lainnya.

Perbedaan itu akan terlihat jelas dari ide kreativitas yang fresh dan kecanggihan teknologi instalasi visual yang memukau. “Alunan musik jazz yang dibawakan oleh Andien dan Dira akan dipadukan dengan tampilan pertunjukan ilusi, sehingga memukau mata, telinga, dan jiwa penonton,” tutur Rinaldi.

Usai Andien dan Dira, Rinaldi tentu saja memiliki terobsesi bisa menghadirkan pahlawan-pahlawan musiknya, siapa lagi kalau bukan Iwan Fals, Slank, dan Naif, dalam sebuah konser yang berkelas dan spektakular. “Full Cycle pasti bikin konser yang berbeda. Begitu pula untuk rencana konser Slank, Iwan Fals, dan Naif, saya ingin menggunakan hologram, mengemas konser mereka menjadi tak biasa,” tegas dia.

Lebih Terbuka

Sebelumnya, Rinaldi dikenal sebagai penulis, sutradara, dan produser film. Lulusan Academy of Art di San Fransisco untuk penyutradaraan dan penulisan skrip ini menghasilkan film pertama berjudul 6:30 di San Francisco. Film tersebut diluncurkan di jaringan bioskop 21 pada 2005.

Film layar lebar kedua Rinaldi berjudul Dilema menjadi film terbaik di Rusia dan menerima beragam nominasi Piala Citra tahun 2012. Ia juga sempat menghabiskan beberapa waktu di Batam demi menyiapkan studio film untuk Infinite Frameworks dan memproduksi film Indonesia pertama untuk HBO ASIA berjudul Deadmine, yang bekerja bersama kru dan pemandu bakat mancanegara.

Lantas, apa yang menyebabkannya berubah haluan dari profesi sutradara dan produser film ke bisnis pertunjukan musik? “Saya melihat pasar musik lebih terbuka, apalagi pikiran orang saat ini pun makin kritis. Sementara itu, orang belum berpikir movie going, tetapi sudah music going. Ini yang membuat saya tertarik masuk di bisnis pertunjukan musik,” ungkapnya.

Yang jelas, Rinaldi mengaku sempat kecewa pada filmnya, yakni Dilema. Meski menang dan meraih nominasi Piala Citra, namun film tersebut jeblok di pasaran. “Dunia film ternyata masih naik turun pasarnya. Mungkin, film yang saya bikin belum tepat untuk pasar saat ini,” ujarnya, berusaha memahami.

Namun, Rinaldi tak bisa menyembunyikan kengeriannya terhadap pasar film yang tak bisa diprediksi. “Dari nulis sendiri, cari dana sendiri, syuting, proses film, ngedit, lalu tayang hanya sebentar tak lebih dari seminggu. Ngeri saya menghadapi seperti itu, sementara proses itu saya lakukan dalam setahun,” ungkap dia.

Kembali ke bisnis pertunjukan, Rinaldi optimistis, itu lahan yang menjanjikan. Terlebih, cukup banyak penyanyi dalam negeri yang sudah pantas dibuatkan konser spektakular, selain tentu saja dari mancanegara.

“Saya miris melihat bangsa sendiri yang melihat sebelah mata penyanyinya dibandingkan penyanyi luar, sementara banyak penyanyi hebat di dalam negeri. Penyanyi kita hanya butuh kemasan bagus agar masyarakat terbiasa melihatnya sama bagusnya dengan penyanyi luar,” tandas Rinaldi.

Editor : Juang N Hutagalung (juang.natigor@investor.co.id)

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com