Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mgr Anton dan Mgr Sensi mengapit tiga Rektor Universitas Katolik yang Universitasnya mengerjakan naskah akademis Revitalisasi Pancasila

Mgr Anton dan Mgr Sensi mengapit tiga Rektor Universitas Katolik yang Universitasnya mengerjakan naskah akademis Revitalisasi Pancasila

Ajak Umat Berpikir, Berperasaan dan Berperilaku Pancasila

Sabtu, 12 Agustus 2017 | 22:54 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Uskup Bandung Mgr Antonius Bunyamin Subiyanto, OSC mengajak umat Katolik untuk berpikir, berperasaan dan berperilaku sesuai Pancasila.

Ajakan Mgr Anton tersebut dikemukakan saat memberikan sambutan pada sesi pembuka Konferensi Nasional (Konfernas) Umat Katolik Indonesia bertema "Revitalisasi Pancasila" yang digelar Komisi Kerawam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Auditorium Yustinus Universitas Atma Jaya Jakarta, Sabtu (12/8), seperti disampaikan Romo Aloys Budi Purnomo Pr kepada Investor Daily.

Romo Budi hadir ke Konfernas sebagai anggota The Soegijapranata Institute (TSI) mendampingi Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Ir Budi Widianarko MSc dan Ketua The Soegijapranata Institute (TSI) Theodorus Sudimin serta Octavianus Digdo Hartomo, anggota TSI lainnya.

“Beriman pada Tuhan yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjaga persatuan Indonesia, mengutamakan sikap musyawarah untuk mencapai mufakat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Mgr Anton mengutip gagasan Mgr Alb Soegijapranata: 100% Katolik; 100 % Indonesia.

 

Menteri Katolik

Selanjutnya, Menteri Ignatius Jonan yang hadir sebagai keynote speech, menyampaikan pidatonya dengan penuh canda.

"Mengapa diminta bicara? Karena saya satu-satunya menteri yang Katolik, maka saya mau," ujar Jonan yang langsung disambut tawa hadirin.

"Tapi kalau alasannya karena saya Katolik saya nggak berani, sebab saya belum 100% Katolik. Saya ini 100% Indonesia tapi belum 100% Katolik," aku Jonan yang kembali disambut tawa hadirin.

Lebih lanjut, Jonan berkata, "Apalagi ada para Bapak Uskup dan para pastor. Mereka inilah yang sudah 100% Katolik, 100% Indonesia." Kembali hadirin tertawa.

Selanjutnya Jonan menegaskan bahwa toleransi dibangun secara alamiah saja dalam hidup karya, pekerjaan, dan pelayanan. Menurut dia, toleransi tidak boleh dibangun dalam sikap minder. “Tak perlu berpikir mayoritas dan minoritas. Itu tidak penting," tandas Jonan.

 

Sesi Pleno

Sesudah pembukaan dan keynote speech, Konfernas memasuki sesi pleno dengan mendengarkan sejumlah ceramah yang diawali oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Menteri yang mulai menjabat sejak 27 Oktober 2014 itu menegaskan pentingnya ketahanan NKRI. Mantan perwira tinggi militer TNI AD ini yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 2002 hingga 2005 itu menegaskan Pancasila sudah final.

“Maka terima kasih KWI menjadikan Pancasila sebagai tema dan digali bersama dalam Konfernas Umat Katolik Indonesia ini,” ujar Ryamizard.

Menurut Menhan, ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia kompleks dan multidimensional. Ada yang nyata dan ada yang belum nyata. Ancaman nyata misalnya berupa terorisme dan radikalisme. Terorisme dan radikanlisme bisa berasal dari mana saja. Bahkan, sebetulnya tak ada agama yang mengajarkan terorisme.

“Ancaman yang belum nyata bisa berupa konflik yang laten. Konflik bisa bersumber dengan alasan apa saja. Ancaman ideologi lebih berbahaya,” katanya.

Lebih jauh Menhan mengatakan bahwa ada empat ideologi mayor yakni Liberalisme/Kapitalisme, Komunisme, Sosialisme dan Radikalisme Agama. Keempat ideologi ini, kata Menhan, bisa menjadi ancaman bagi ideologi Pancasila.

Secara teritorial, masih kata Menhan, ancaman bisa bersifat nasional. Terjadi perang proxy. Perang melibatkan pihak ketiga. Ini perang modern yang bisa menimpa siapa saja.

Upaya atau strategi untuk melawan ideologi yang anti-Pancasila, lanjut Menha,  adalah dengan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dan cinta tanah air serta kesadaran bela negara. “Jauh hari Jendral Soedirman sudah menyebut perjuangan itu merupakan perjuangan suci membela nilai-nilai luhur peradaban masyarakat kita.,” ujarnya.

Sayangnya pada era reformasi, sambung Ryamizard, Pancasila tidak lagi menjadi acuan pembangunan. “Kita tidak perlu membenci Komunisme, Sosialisme atau Radikalisme Agama. Kebencian itu bukan solusi. Pancasila adalah pusat persatuan Nasional Indonesia, makna kebulatan state plus citizen yaitu konsep wadah (seluruh tumpah darah Indonesia) dan isi (segenap warga bangsa Indonesia). Dibutuhkan wawasan kebangsaan yang kuat untuk pertahanan negara.,” katanya. 

 

Musyawarah dan mufakat

Menhan menyarankan bahwa musyawarah untuk mufakat merupakan cerminan nilai-nilai Pancasila. Mekanisme musyawarah mencapai mufakat sesungguhnya menciptakan iklim kondusif terbentuknya kesadaran bela negara.

“Menciptakan rasa aman tergantung kepada kita sendiri. Kita harus satu dalam bahasa dan pemikiran melalui budaya lapor cepat,” katanya.

Menhan menekankan nilai-nilai bela negara dan Pancasila harus dijadikan sebagai landasan sikap dan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Persatuan dan kesatuan dapat menyelesaikan setiap permasalahan. Setiap orang harus tumbuh menjadi duta Kementerian Pertahanan di mana pun berada.” Kebenaran Pancasila tidak bisa dilepaskan dari Bhinneka Tunggal Ika. Keduanya saling terkait dan saling menopang,” katanya.

 

Komunikasi dalam Iman dan Cinta

Dalam presentasinya Menkominfo Rudiantara mengatakan bahwa Katolik memberi contoh bagus dalam sejarah komunikasi sebab menetapkan hari komunikasi sosial sedunia sejak Konsili Vatikan II. Komunikasi yang baik membutuhkan iman dan cinta untuk membangun harapan masa depan yang baik.

“Ratusan juta masyarakat kita sudah brisik di medsos dan gadget. Bahkan pemilik SIM card sudah mencapai 300-an juta. Maka rerata masyarakat kita memiliki lebih dari satu SIM card. Bagaimana kita menggunakan ini untuk menyehatkan bangsa kita secara rasional,” ujarnya.

Dalam konteks ajaran Katolik, menurut Rudiantara, Pancasila adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia. “Bagaimana kita bisa menjadikan Pancasila sebagai kabar baik dalam kehidupan kita bersama untuk generasi masa depan? Mari kita pikir misalnya tahun 2030, puncak bonus demografi kita. Sumber daya manusia seperti apa yang bisa kita hadirkan?,” ujar Rudiantara.

 

Kualitas Kesejahteraan

Sementara itu, aktifis senior Fransiskus Xaverius Bambang Ismawan. mengatakan, sepuluh tahun pertama pasca-kemerdekaan Indonesia masih fokus pada pertahanan bangsa. Upaya untuk menciptakan kualitas kesejahteraan. Mgr Soegijapranata menyerukan peningkatan kesejahteraan dengan Ikatan Petani Pancasila.

Bambang memgusulkan revitalisasi Pancasila melalui pemberdayaan masyarakat berkelanjutan. Kedua restorasi Bina Swadaya Desa Mandiri dan Maju. Menurut Bambang Ismawan, kegiatan pemberdayaan masyarakat harus memfokuskan pada kegiatan advokasi maupun aksi langsung bahkan melibatkan kaum difabel melalui ekonomi kreatif yang berkarakter pada ekonomi sosial.

“Dalam konteks ini koperasi menjadi amat penting. Koperasi jangan menjadi ‘kuperasi’ atau ‘KUD’ (ketua untung duluan). Diperlukan sikap solidaritas dan subsidiaritas. Masyarakat setempat harus diberdayakan.,” papar dia,

Menurut Bambang Ismawan, nilai-nilai Pancasila harus dihadirkan melalui sinergi umat. Umat harus proaktif dalam berpartisipasi dalam pembangunan. Harus ada sinergisitas. hirarki, tarekat, universitas, organisasi, lembaga dan individu harus bersinergi untuk membangun gerakan kesejahteraan. Restorasi desa, pluralisme, tingkatkan pemberdayaan berkelanjutan dalam sinergi universitas dan semua pihak.

Demikian bagian pertama Konfernas Kerawam KWI terlalui hingga tiba saatnya makan siang. Sesudah makan siang para peserta masuk ke dalam kelompok diskusi paralel sesuai tiga kelompok tema. Semua tema terkait dengan revitalisasi Pancasila.

 

Universitas Katolik

Empat Universitas Katolik mempersiapkan materi tertulis yang diserahkan kepada KWI untuk diteruskan kepada Unit Kerja Pemerintah Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). Ada pun keempat Universitas itu adalah Universitas Katolik Atma Jaya, Universitas Parahyangan, Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.

Secara simbolik bahan yang dipersiapkan oleh Universitas diserahkan oleh para Rektor kepada Uskup Anton. Uskup Anton atas nama KWI akan menyerahkan kepada Yudie Latif sebagai ketua UKP PIP.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : PR

BAGIKAN