Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi remaja mengukur tinggi tubuh utuk mengetahui menderita stunting atau tidak

Ilustrasi remaja mengukur tinggi tubuh utuk mengetahui menderita stunting atau tidak

Anak Stunting Berpeluang Mendapatkan Penghasilan Lebih Rendah

Senin, 11 Juli 2022 | 13:31 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

MEDAN, investor.id – Menurut berbagai penelitian, anak yang mengalami stunting berpeluang mendapatkan penghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tidak stunting di saat dewasa. Selain itu, stunting juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung koroner, dan stroke ketika anak dewasa.

Sebagai informasi, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan tidak mendapatkan stimulasi psikososial yang cukup, terutama sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1.000 hari pertama kehidupan).

Baca Juga: Kolaborasi BKKBN dan Tanoto Foundation dalam Percepatan Penurunan Stunting

Alhasil, kemampuan kognitif anak menurun sehingga memengaruhi kapasitas belajar pada usia sekolah, nilai dan prestasi anak.

Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, prevalensi anak Indonesia di bawah usia lima tahun yang mengalami stunting yaitu 24,4%. Ini berarti sekitar 7 juta balita Indonesia mengalami stunting.

Walau prevalensi stunting itu sendiri telah menunjukkan penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, Indonesia masih punya tugas yang cukup banyak dalam melawan stunting guna mewujudkan Generasi Emas 2045.

Baca Juga: Cegah Stunting, BKKBN Gencar Edukasi Pasangan Muda

Tanoto Foundation – organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto – pun telah berkomitmen mendukung pemerintah dalam upaya percepatan penurunan angka stunting.

CEO Global Tanoto Foundation J. Satrijo Tanudjojo menekankan pentingnya semangat kerja sama antara berbagai pihak dalam menekan angka stunting di Indonesia.

“Kami di Tanoto Foundation percaya bahwa peran multi sektor sangat penting bagi keberhasilan program percepatan penurunan angka stunting. Kolaborasi dengan konsep penta-helix, antara pemerintah pusat dan daerah, dari hulu ke hilir, secara bersama-sama dengan dukungan dari pihak swasta, akademisi, media, serta masyarakat diharapkan dapat mewujudkan generasi dengan anak-anak Indonesia bebas stunting,” kata Satrijo dalam keterangan tertulis.

Baca Juga: Dexa Group dan BKKBN Berkolaborasi Cegah Stunting dengan OMAI

Dalam pembahasan pada webinar nasional: "Generasi Bebas Stunting" dengan tajuk Pembelajaran dari Daerah dalam Percepatan Penurunan Stunting yang diselenggarakan di Medan pada 6 Juli, Kepala BKKBN Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyampaikan pesan khusus Presiden Joko Widodo bahwa keluarga-keluarga muda harus menjadi perhatian utama.

“Karena, keluarga-keluarga muda lah yang masih akan hamil dan akhirnya bisa melahirkan anak-anak yang stunting. Stunting menjadi ancaman kualitas generasi muda dan kualitas bangsa kita maka stunting harus kita turunkan secara bersama-sama,” ujar Hasto.

Sementara itu, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Dr. Teguh Setyabudi, M.Pd – yang mewakili Menteri Dalam Negeri Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D – menambahkan bahwa pada dasarnya memperkuat kelembagaan mulai di tingkat pusat dan daerah, memberikan kuasa penuh pemerintah daerah dalam mengambil langkah-langkah aksi konvergensi guna Percepatan Penurunan Stunting. Sehingga resolusi mencapai target Nasional sebesar 14% pada 2024 dapat terealisasi.

Baca Juga: Kekurangan Zat Besi Ancaman Serius Generasi Emas 2045

Sejauh ini Tanoto Foundation telah bekerja sama dengan Bank Dunia dalam mendukung implementasi program INEY (Investing in Nutrition and Early Years), kampanye perubahan perilaku bersama UNICEF, dan pengembangan kapasitas Kader Pembangunan Manusia bersama Kementerian Desa, PDT, & Transmigrasi.

Kerja sama lainnya berupa peningkatan kapasitas Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan bersama Kementerian Sosial, pelatihan Tim Pendamping Keluarga bersama BKKBN, pendampingan dalam penyusunan serta implementasi strategi Komunikasi Perubahan Perilaku dan delapan aksi konvergensi di tingkat provinsi dan kabupaten/kota bersama TP2AK/Setwapres dan Kementerian Kesehatan, serta beberapa program lainnya.

Ada pun seri webinar nasional: ”Generasi Bebas Stunting” akan berlangsung hingga Oktober 2022 dan melibatkan pemerintah daerah dari 514 kabupaten/kota. Dengan penggunaan metode peer-to-peer learning, seri webinar yang dijalankan ini bertujuan membagikan pembelajaran dari antar-daerah terkait dengan program percepatan penurunan stunting.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com