Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Anda Tak Bisa Sukses Sendirian

Antara, Senin, 9 April 2012 | 13:23 WIB

“Tak seorang pun yang bisa sukses sendirian. Pasti ada seseorang yang mendukung di belakang. Tapi kesuksesan akan bermakna bila dilandasi integritas.” iapa sangka jika Oemin Handajanto, yang sudah 15 tahun menjadi chief executive officer (CEO) di sejumlah perusahaan asuransi, masuk bisnis asuransi karena ‘terjerumus’?

Saat mengawali karier di bidang asuransi, Oemin memang awam dengan dunia tersebut. “Dulu, saya tidak terlalu paham dunia asuransi. Saya masuk bidang asuransi karena tergiur iming-iming penghasilan yang lebih baik,” kata Oemin kepada reporter Investor Daily Gita Rossiana dan pewarta foto Eko S Hilman di Jakarta, baru-baru ini.

Jika kemudian pelan-pelan menyukainya, bahkan akhirnya jatuh cinta pada dunia asuransi, itu semata-mata berkat kegigihan dan kerja kerasnya. Berkat keuletannya pula, perlahan- lahan Oemin mulai mengenal seluk- beluk dunia asuransi, sampai akhirnya memiliki banyak jaringan.

Tak hanya itu, sepak terjangnya pun mulai diperhitungkan orang-orang perasuransian. Banyak hal yang membuat Oemin Handajanto jatuh cinta pada asuransi. Salah satunya, karena ia memperoleh keuntungan batiniah. “Saya sangat senang ketika orang membutuhkan, saya hadir di sana. Lalu waktu satu keluarga ditinggalkan pencari nafkah, saya juga ada. Kemudian ketika mereka dalam keadaan bingung dan sangat butuh dukungan, saya pun ada di sana untuk membantu,” paparnya.

Oemin termasuk pemimpin yang suka memotivasi orang lain, termasuk bawahannya. Dia berusaha menempatkan orang lain sesuai perspektif mereka, sehingga bisa bekerja berdasarkan keinginan sendiri, tidak merasa terpaksa. Komunikasi dua arah itu juga diterapkannya ketika memberikan tugas kepada bawahan. Dia membuka seluas-luasnya masukan dari bawahan atas apa yang menjadi kendala mereka saat bekerja.

Berkat gaya komunikasi seperti itulah, eksekutif berusia 57 tahun tersebut berhasil mewujudkan visi-misi perusahaan, termasuk di perusahaan yang dinakhodainya saat ini, PT Zurich Topas Life. “Mendirikan sebuah perusahaan asuransi jiwa dari nol dan harus menyesuaikan standar yang sudah diakui dunia tidaklah mudah,” tuturnya.

Di luar itu, Oemin Handajanto sejatinya adalah eksekutif yang menjunjung tinggi integritas. “Manusia hidup harus punya integritas. Jadi, apa yang dikatakan dan dilakukan harus sesuai. Banyak teori yang bagus, tapi praktiknya tidak benar. Itu karena tak punya atau tak menjunjung tinggi integritas,” tegasnya.

Oemin sadar betul bahwa segala hal yang diperbuat harus mendatangkan manfaat bagi orang lain. Boleh jadi, karena itu pula, ia menyimpan obesesi mendalam tentang hal-hal yang berbau sosial. “Mungkin nanti jika sudah tidak sesibuk sekarang, saya ingin lebih banyak terlibat dalam dunia sosial dan keagamaan. Ingin menolong orang susah dan orang-orang miskin,” ujarnya.

Yang pasti, pria kelahiran 16 September 1955 ini tak pernah merasa bahwa sukses yang telah direngkuhnya berkat perjuangan dirinya semata. “Tidak ada orang yang sukses sendirian, pasti ada seseorang yang mendukung di belakang, yaitu keluarga,” ucapnya. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga menduduki posisi puncak selama 15 tahun di perusahaan yang berbeda-beda?
Saya menggeluti bidang asuransi sejak 1989. Waktu itu, saya menjadi branch manager di perusahaan asuransi joint venture Indonesia dan Amerika Serikat (AS) bernama PT Asuransi Jiwa Sewu New York Life di Bandung. Saya di sana sampai 1997. Lalu saya keluar dan masuk BDNI Life dan menjadi CEO. Saya di sana tidak begitu lama. Pada 1998, saya menjadi CEO di AXA Life Indonesia hingga 2003. Lalu pada 2003, saya ke PT AIG Life, lalu ke PT Asuransi Jiwa Mega Life. Kemudian saya ke PT Zurich Topas Life. Jadi, total sudah 15 tahun saya menjadi CEO.

Anda punya latar belakang asuransi?
Latar belakang pendidikan saya ekonomi dan manajemen. Saya kuliah di Universitas Parahyangan Bandung. Sebetulnya, saya kuliah sambil bekerja. Umur 20 tahun, saya sudah bekerja. Saya mulai kuliah umur 19 tahun. Jadi, cuma setahun saya minta uang kepada orangtua. Profesi saya macam-macam. Tapi kebanyakan yang saya lakukan di bidang pemasaran. Saya pernah bekerja sebagai pemasok daging ayam. Saya pernah memotong sendiri ayam-ayam yang saya pasok itu. Saya membiayai kehidupan saya sampai menikah.

Apa yang menyenangkan dari dunia pemasaran?
Apapun bisa kita tekuni asalkan kita menikmatinya. Misalnya macet, kalau kita hanya mengeluh, tidak akan bisa mendapatkan keuntungan. Tapi, jika kita bisa menikmati situasi macet dan menemukan kenikmatan tersendiri, kita bisa menjalaninya dengan senang hati. Begitu juga dengan pekerjaan. Misalnya pekerjaan administrasi, bagi yang tidak menyukainya tentu sangat membosankan. Di dunia pemasaran, saya bisa berkomunikasi dengan semua orang dari segala latar belakang. Bisa berkomunikasi, meyakinkan orang, lalu menikmati hasilnya, itu memberikan kepuasan tersendiri.

Alasan Anda memilih bidang asuransi?
Awalnya saya tidak terlalu mengerti dunia asuransi. Pada 1989, atau 23 tahun yang lalu, bisnis asuransi belum sebesar sekarang. Waktu itu, mungkin bisa dikatakan saya terjerumus ke dunia asuransi. Saya tidak terlalu mengerti dunia asuransi, namun tergiur karena imingiming penghasilan yang lebih baik. Apalagi tantangannya cukup besar.

Selain itu, saya ditantang bahwa kalau berhasil memasarkan asuransi, berarti ilmu marketing-nya lebih tinggi. Karena ditantang seperti itu, saya terjun ke bidang tersebut. Lama-kelamaan, saya merasa bahwa dunia asuransi ternyata cocok dengan kehidupan saya. Perlahan, hal-hal yang tidak saya ketahui menjadi jelas. Akhirnya asuransi menjadi karier yang menarik dan memberikan penghargaan secara financial maupun batiniah kepada saya.

Apa keuntungan batiniahnya?
Keuntungan secara batiniah ada beberapa aspek. Saya sangat senang ketika orang membutuhkan, saya hadir di sana. Lalu waktu satu keluarga ditinggalkan pencari nafkah, saya juga ada. Kemudian ketika mereka dalam keadaan bingung dan sangat membutuhkan dukungan, kami ada di sana dan membantu. Dalam dunia asuransi, awalnya saya melihat orang yang tidak memiliki apa-apa, lalu mengecap kesuksesan yang luar biasa. Banyak mantan anak buah saya yang menjadi pimpinan, menjadi direksi di beberapa perusahaan lokal maupun asing. Anak buah saya ada yang mendapat sukses luar biasa dan mendapatkan reputasi internasional.

Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?
Saya menganut paham keterbukaan. Saya lebih banyak berkomunikasi. Saya banyak menggunakan komunikasi dua arah. Saya tidak suka hanya memberikan perintah namun tidak ada feedback-nya. Setiap kali saya memberikan instruksi, saya ingin ada feedback, apakah mengerti atau tidak. Kesulitannya apa, ada hal-hal yang perlu dibantu atau tidak, sehingga bisa mengerti apa yang dilakukan. Kalau orang mengerjakan sesuatu, pastilah tahu tujuannya. Ketika memberikan instruksi kepada bawahan, masalah pasti ada. Manusia kan bukan mesin, punya perasaan dan pikiran.

Sebetulnya setiap manusia pasti memiliki motivasi sendiri untuk maju. Ada orang yang termotivasi karena prestasi, ada orang yang termotivasi untuk mendapatkan penghasilan lebih banyak, ada yang termotivasi untuk meningkatkan karier, pendidikan, dan segala hal. Masing-masing orang memiliki kebutuhan sendiri-sendiri. Intinya, berkomunikasi sesuai motivasi masing-masing.

Visi Anda bersama Zurich?
Kami punya aspirasi. Secara lokal dan global, kami ingin dinilai sebagai perusahaan asuransi terbaik di dunia dan Indonesia. Terbaik dinilai oleh stakeholders, kar yawan, nasabah, agen, pemegang saham. Kalau semuanya baik tapi tidak memberi keuntungan, ya tidak bagus juga. Kalau dari sisi nasabah, kami ingin memberikan pelayanan yang memuaskan dan produk yang lengkap.

Untuk kar yawan, kami ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan karier, keterbukaan komunikasi, kebebasan mengemukakan pendapat, kebebasan untuk bereksplorasi, kebebasan untuk mengembangkan diri. Dari pemegang saham, mereka menginginkan perusahaan ini memiliki reputasi yang baik, yang tidak memiliki kasus dan tidak melanggar hukum. Dengan keberadaan saya di Zurich, saya ingin semua aspirasi itu tercapai.

Gebrakan Anda?
Mendirikan sebuah perusahaan asuransi jiwa yang sudah ternama di dunia tidaklah mudah. Di Indonesia, kami mendirikannya dari nol. Dari tidak ada karyawan. Merekrut karyawan dengan standar Zurich bukan hal yang mudah. Untuk menempatkan sekian banyak karyawan dari nol, menempatkan pada posisi masing-masing, bukan hal yang gampang.  Bukan hanya mengumpulkan, namun sampai berjalan. Sampai hari ini, bisa dikatakan Zurich sudah berjalan. Kami merencanakannya dari nol.

Apa filosofi Anda?
Manusia hidup harus punya integritas. Jadi, apa yang dikatakan dan dilakukan harus sesuai. Banyak teori yang bagus, tapi praktiknya tidak benar. Segala sesuatu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga harus memperhatikan orang-orang sekitar. Apa yang dilakukan bisa memberikan dampak baik dan buruk bagi kehidupan.

Obsesi Anda?

Mungkin nanti jika sudah tidak sesibuk sekarang, saya ingin lebih banyak terlibat dalam dunia sosial, keagamaan. Ingin menolong orang susah dan orang-orang miskin.

Bagaimana dengan peran keluarga?
Tidak ada orang yang sukses sendirian, pasti ada seseorang yang mendukung di belakang, yaitu keluarga. Keluarga memberikan kebebasan, kepercayaan, dan memberikan waktu kepada saya untuk bekerja. Peran mereka sangat besar. (*)

BAGIKAN