Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana petugas pemakaman dibantu alat berat masih memakamkan jenasah pasien Covid-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara, Jumat (16/7/2021).  Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Suasana petugas pemakaman dibantu alat berat masih memakamkan jenasah pasien Covid-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara, Jumat (16/7/2021). Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Angka Kematian Tinggi, Pemerintah Diminta Serius Tangani Perawatan Pasien Isoman

Rabu, 28 Juli 2021 | 16:52 WIB
Natasia Christy

Jakarta, Investor.id - Angka kematian pasien Covid-19 di Indonesia mencetak rekor tertinggi per Selasa (27/7/2021) yaitu menembus 2.000 orang. Kasus kematian Covid-19 diakui juga disumbang oleh pasien isolasi mandiri (isoman) yang melakukan perawatan di rumah.

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, mendesak pemerintah baik di pusat maupun daerah agar lebih serius untuk memperhatikan perawatan pasien isoman. 

"Kita lihat penanganan pasien isoman belum memadai, apalagi optimal," kata Dicky saat dihubungi Beritasatu.com, Rabu (28/7/2021).

Dicky mengatakan, warga menengah ke bawah yang melakukan isoman sangat sulit memenuhi nutrisi, oksigen, obat-obatan, dan vitamin, termasuk rumah yang tidak memenuhi syarat untuk isoman. Dalam konteks isoman, ujarnya, pemerintah harus melakukan penemuan kasus positif secara aktif lewat testing masif dan agresif.

"Testing artinya harus gratis dan harus ada visitasi, kunjungan ke rumah dengan melibatkan kader dan civil society," katanya.

Dicky menjelaskan, visitasi atau kunjungan rumah diperlukan untuk melakukan penilaian risiko awal untuk pasien Covid-19. Diantaranya, pasien yang memang memenuhi kriteria untuk isoman dan pasien yang harus dirawat di isolasi terpusat, bahkan rumah sakit (RS). Penilaian risiko diperlukan untuk meminimalisasi potensi pasien dengan kondisi rawan atau perburukan.

"Pasien rawan itu bukan hanya lansia dan belum divaksinasi, bukan hanya pasien komorbid, tapi juga pasien dengan gangguan komunikasi, gangguan mobilisasi. Ini yang mengapa harus dilakukan penilaian risiko awal," tandasnya.

Dicky mengatakan kader yang ditugaskan melakukan penilaian risiko tidak harus tenaga kesehatan, melainkan bisa juga melibatkan relawan yang sudah terlatih. Pemerintah didorong melakukan pelatihan kader-kader visitasi terutama untuk pengecekan suhu, tekanan darah, saturasi oksigen, termasuk kesehatan mental.

"Pelatihan kader ini penting karena mereka nantinya menentukan mana pasien yang harus dirujuk jika ada masalah. Ini berfungsi mencegah terjadinya fatalitas atau kematian saat isoman,"  ujarnya.

Dicky juga mendorong agar setiap kabupaten/kota secepatnya memiliki tempat isolasi tersentralisasi sebagai rujukan pasien isoman. Tempat isolasi atau karantina ini harus terpantau dari sisi kualitas dan kuantitasnya oleh pemerintah daerah setempat.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui banyaknya kasus kematian Covid-19 dari pasien yang melakukan isoman.

Menurut Anies, pasien yang meninggal bukan yang bergejala ringan-sedang, tetapi sudah bergejala berat-kritis dan tidak mendapatkan perawatan di RS.

Editor : Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN