Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka Forum on 3-monochloropropan-1,2-diol and Glycidyl Ester (3-MCPD dan GE) yang diselenggarakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), di Grand Sahid Hotel - Jakarta, Jumat (7/2). Foto: Humas Kemenko Perekonomian

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat membuka Forum on 3-monochloropropan-1,2-diol and Glycidyl Ester (3-MCPD dan GE) yang diselenggarakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), di Grand Sahid Hotel - Jakarta, Jumat (7/2). Foto: Humas Kemenko Perekonomian

Antisipasi Perlambatan Ekonomi karena Corona, Pemerintah Jaga Daya Beli Domestik

Arnoldus Kristianus, Sabtu, 22 Februari 2020 | 11:47 WIB

JAKARTA - Pemerintah akan mengoptimalkan daya beli dalam negeri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah ini ditempuh sebagai  antisipasi terhadap perlambatan akibat kekhatiran akan dampak penyebaran virus corona.

“Kita masih  monitor dampak corona sampai akhir bulan, kemudian (lihat) trennya seperti apa. Indonesia  mengandalkan domestic market (pasar domestik),” ucap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Kantornya pada Jumat (21/2).

Ia menambahkan, penyebaran virus corona  akan berpengaruh kepada kondisi global, termasuk Indonesia, sehingga perlu ada antisipasi. Oleh karena itu, penguatan daya beli ini menjadi penting untuk menjaga kinerja konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi pendukung utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sejauh ini Tiongkok  merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. “Indonesia masih melakukan impor dari Tiongkok terhadap bahan baku kosmetik atau bahan baku pharmacytical,” ucap Airlangga.

Secara terpisah Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi memperkirakan, wabah Virus Corona baru berpotensi menurunkan ekonomi Tiongkok  sebesar 1% sehingga akan berimbas pada perekonomian Indonesia 0,09%.

“Setiap satu persen pertumbuhan ekonomi di Tiongkok itu akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia sebesar 0,09% atau maksimal 0,1% sampai 0,15%,” ucap Fitra di Penang Bistro, Jakarta, Jumat (21/2).

Fithra menyatakan, potensi penurunan ekonomi Indonesia sebesar 0,09% karena Virus Corona tergolong tidak  besar jika dibandingkan dengan kemungkinan turunnya perekonomian negara lain akibat wabah tersebut. Hal tersebut terjadi karena perekonomian Indonesia lebih bergantung pada faktor domestik, sehingga jika terdapat gejolak eksternal maka dampaknya tidak begitu besar.

“Itu besar tapi kalau dibandingkan seperti Vietnam, Thailand, dan Singapura, lebih besar karena mereka transaksinya dengan Tiongkok juga lebih besar daripada Indonesia dengan Tiongkok,” tutur Fithra.

Fithra menambahkan, bila terdapat masalah dari sisi domestik, maka akan memberi pengaruh terhadap Indonesia hingga tujuh bulan. Sedangkan masalah eksternal hanya berdampak sekitar 2 sampai 3 bulan. Bila melihat dari kasus wabah penyakit yang pernah terjadi perekonomian Tiongkok kembali pulih.

Saat terjadi wabah virus SARS  tahun 2003, memang terjadi penurunan tetapi pada akhirnya mampu mencatatkan pertumbuhan 14%. “Meskipun dia melambat tapi tetap solid . Saya rasa ini hanya shock sesaat saja karena kalau kita lihat ke depan akan lebih prospektif,” kata Fithra.

Menurutnya para pasien yang telah mulai sembuh dari Virus Corona juga menjadi sinyal positif bagi dunia bahwa kasus ini segera berakhir sehingga aktivitas perekonomian akan normal kembali. “Kita lihat banyak juga yang sudah sembuh jadi agak optimis ke depan tidak akan lebih anjlok dari satu persen,” tutur Fithra.

ReplyReply allForward

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN