Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(Bawah) Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando dalam Talk Show Radio Sonora FM bertemakan

(Bawah) Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando dalam Talk Show Radio Sonora FM bertemakan

Bappenas Perkuat Peran Inklusi Sosial Perpustakaan

Rabu, 1 September 2021 | 09:25 WIB
Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Perpustakaan tidak boleh lagi dogmatis, tidak boleh menjadi menara gading, dan harus menjangkau masyarakat, serta yang tidak kalah penting segala konten koleksi perpustakaan harus didigitalkan. Perpustakaan saat ini bukan lagi merupakan barang eksklusif yang buku-bukunya hanya dipamerkan atau menjadi pajangan para raja dan kaum eksklusif.

Hal tersebut menjadi kalimat pembuka Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando dalam Talk Show Radio Sonora FM bertemakan 'Peran Transformasi Perpustakaan Dalam Pemulihan Ekonomi', Selasa, (31/8).

"Saat ini paradigma perpustakaan telah mengubah peran dan fungsi perpustakaan. Peran fungsi perpustakaan mengurusi koleksi hanya tertinggal 10%, sisanya lebih mengedepankan peran melakukan transfer knowledge ke masyarakat. Jadi, perpustakaan sudah lama mati kalau dia masih bersikap eksklusif. Dia harus inklusif," jelas Syarif.

Alhasil, ketika perpustakaan mulai turun ke masyarakat, mengenali segenap keseharian masyarakat, niscaya perpustakaan akan menemukan begitu banyak masalah. Dari situ diketahui bahwa kebutuhan masyarakat kepada akses perpustakaan sangatlah besar.

Paradigma yang kini dibawa Perpustakaan Nasional adalah bagaimana masyarakat memahami literasi. Syarif mengatakan literasi memiliki empat tingkatan, dimulai dari kemampuan baca, tulis, hitung dan pembangunan karakter, aksesibilitas terhadap bahan bacaan terbaru, terpercaya dan menjadi solusi.

Yang kedua memahami makna tersirat dari yang tersurat. Ketiga memiliki kemampuan berinovasi atau kreativitas. Dan tingkatan akhir literasi adalah kemampuan menghasilkan barang/jasa yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Itu artinya, masyarakat membutuhkan sarana perpustakaan mengubah kualitas hidupnya. Dari barang dan jasa yang dihasilkan sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidupnya," beber Syarif.

Apalagi di tengah kondisi pandemi, dimana kurang lebih 20 juta masyarakat Indonesia merasakan dampak langsung Covid-19. Tidak ada jalan lain. Mereka harus punya skill untuk melakukan sesuatu. Melanjutkan kehidupannya. Itu artinya, jutaan orang membutuhkan asupan ilmu terapan, dan perpustakaan menyediakan.

"Siapa saja yang terdampak pandemi Covid-19 dan susah lapangan kerja, silahkan datang ke perpustakaan, kami akan membimbing dan mendampingi pilihan ekonomi apa saja," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas Amich Alhumami menjabarkan tentang rencana target kerja pemerintah yang menaikkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 – 5,5%, dalam masa pandemi ini.

Adapun kaitan dengan program literasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang diusung Perpusnas, Bappenas memberi dukungan penuh dengan menjadikannya sebagai salah satu program prioritas nasional untuk mencapai SDM unggul dan berdaya saing.

Karena pentingnya program tersebut, maka dukungan anggaran juga diperkuat, salah satunya melalui dana alokasi khusus (DAK). DAK sudah dijalankan selama tiga tahun untuk membangun infrastruktur sosial, seperti sekolah, rumah sakit dan perpustakaan.

"Di bidang perpustakaan, kami memperkuat infrastruktur seperti pembangunan gedung baru, rehabilitasi, pengadaan perabot, penyediaan bahan dan koneksi internet untuk meningkatkan tingkat kunjungan," ungkap Amich.

Pada 2021, Perpusnas mengelola DAK lebih dari Rp 500 miliar, yang semuanya terdistribusi dari Aceh sampai Papua. Selain melihat perpustakaan harus nyaman dalam mengakses segala kebutuhan informasi, Bappenas juga menilai perpustakaan harus menjadi pusat pelatihan bagi komunitas-komunitas untuk belajar apa saja.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : PR

BAGIKAN