Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Bawaslu: Capres-Cawapres Dilarang Kampanye di Ponpes

Gora Kunjana, Kamis, 11 Oktober 2018 | 08:38 WIB

JAKARTA - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin mengatakan, calon presiden dan wakil presiden tidak dilarang melakukan aktivitas di pondok pesantren. Namun, calon presiden dan wakil presiden dilarang melakukan kampanye di pondok pesantren (ponpes).

“Yang dilarang itu adalah melakukan kampanye di tempat ibadah dan tempat pendidikan termasuk pondok pesantren,” kata Afifuddin saat dihubungi, di Jakarta, Rabu (10/10).

Dia mengatakan, aktivitas lain selain kampanye tidak dilarang. Kampanye yang dimaksud adalah penyampaian visi-misi, program dan citra diri. “Termasuk ajakan untuk memilih di pesantren juga dilarang,” ujarnya.

Namun, jika capres-cawapres hanya mengunjungi pesantren dan tidak ada unsur kampanyenya, maka diperbolehkan. Selain itu, kata dia, capres-cawapres boleh melakukan rapat internal di pondok pesantren.

“Kalau mereka bikin rapat internal karena pengurusnya juga orang internal semua, tak melibatkan pihak lain, ya nggak masalah. Kan kadang-kadang ada yang acaranya, karena ketuanya orang di rumah situ, pesantren yah nggak masalah. Yang tak boleh kampanyenya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Politikus Partai Golkar, Nusron Wahid meminta Komisi Pemilhan Umum (KPU) memperjelas aturan yang melarang capres dan cawapres berkampanye di lingkungan pondak pesantren. Menurut Nusron, pondok pesantren merupakan komunitas yang luas, yang di dalamnya terdiri banyak tempat.

“Pesantren itu ada komunitas yang di dalamnya ada kumpulan orang-orang yang mengaji, ada sekolah, kalau Pak Kiyai Ma’ruf berceramah, kampanye di dalam masjid meskipun di lingkungan pesantren, mungkin patut dipertanyakan. Tetapi kalau berbincang di rumah Kiai, di dalam komplek pesantren, masa harus dilarang, terus silahturahmi pada kiai tersebut dimana, dilapangan, kan tidak mungkin,” kata Nusron di komplek Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (9/10).

Pesantren, kata Nusron bukan masjid, meskipun di dalamnya ada masjid dan pesantren bukan sekolah, walaupun di dalamnya terdapat kegiatan belajar mengajar. Apalagi, kata dia, rumah para kiai memang mayoritas berada di dalam lingkungan pesantren, yang berdekatan dengan ruang kelas belajar dan tempat ibadah seperti masjid.

”Mestinya harus dipilahpilah definisinya, dibawa kalau datang ke ruang kelas memang enggak boleh, kampanye di dalam masjid memang enggak boleh, tapi kalo di komplek pesantren saya katakan komunitas luas, ada halaman parkir, rumah kiai, dan lain-lain, apa kemudian itu dilarang,” jelas dia. (b1)

BAGIKAN