Menu
Sign in
@ Contact
Search
Megawati saat memberikan sambutan secara virtual dalam opening ceremony acara

Megawati saat memberikan sambutan secara virtual dalam opening ceremony acara

Bela Perdamaian Dunia, Megawati Pernah Larang Presiden AS Goerge Bush Serang Irak

Senin, 7 Nov 2022 | 12:46 WIB
Yustinus Paat (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri menceritakan upayanya menghentikan perang Irak dengan meminta Presiden Amerika George W. Bush, Jr untuk tidak menyerang negara tersebut. Apalagi AS berniat menyerang Irak dengan kilat.

Hal itu disampaikan Megawati saat memberikan sambutan secara virtual dalam opening ceremony acara 'Bandung-Belgrade-Havana in Global History and Perspective', di Gedung ANRI, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, Senin (7/11/2022).

Baca juga: Adik George Bush Ikut Pemilu Presiden AS 2016Mengapa Perekonomian Amerika Serikat Tidak Dikategorikan Resesi?

Kala itu, kata Megawati, dirinya menjabat Presiden RI dan mengingat Bush yang memimpin AS agar mendapatkan izin dari PBB terlebih dahulu, jika hendak menyerang Irak. Megawati lalu mempertanyakan maksud serangan kilat oleh AS ke Irak.

Advertisement

“Yang namanya kilat itu apa ya kalau dari strategi militer? itu yang saya tanya. ‘Satu jam kah, satu hari kah, seminggu kah, sebulan kah?’ Jadi kata Presiden George Bush pada saya, katanya begini, ‘Kamu itu kok pintar ya Mega’. Saya diam saja, terus saya tanya, kok kamu bilang begitu?" ujar Megawati.

Megawati menegaskan dirinya harus tahu alasan AS menyerang Irak. Pasalnya, sebagai Presiden RI yang hidup berdasarkan Pancasila dan Dasa Sila Bandung, dirinya berkewajiban untuk tidak setuju sebuah negara melakukan penyerangan.

Baca juga: PDIP: Capres Pilihan Megawati dan Jokowi Tak Akan Berbeda 

Menurut Megawati, dirinya justru dimarah oleh Bush dan dianggap membela Saddam Husein.

"Tapi kan pada keadaannya ternyata waktu itu beliau agak sedikit marah, dia bilang begini, 'Kamu selalu bela Saddam Husein?'. Saya nggak bela Saddam Husein, saya bela rakyat Irak, yang pasti apapun juga kan menderita. Jadi kalau kamu berpikir bahwa kamu nggak cocok dengan Saddam Husein, sudahkah ada ahli Islam-mu yang harusnya menerangkan, Saddam Husein itu siapa, saya bilang begitu. Tapi akhirnya tetap saja toh diserang,” cerita Megawati.

Dari contoh tersebut, Megawati menilai, wajar jika dianggap PBB tidak bisa lagi meredam konflik. Apalagi dengan makin meningkatnya teknologi, termasuk sebagai ancaman senjata pemusnah.

“Jadi, alatnya itu harus cepat dan akibatnya massal, seperti kita tahu Hiroshima-Nagasaki itu percobaan, tapi telak ya dan sampai hari ini dampaknya masih sangat terlihat. Seperti apa rakyat Jepang yang tidak berdosa harus menerima penderitaannya, akibat radiasi,” tandas dia.

Lebih lanjut, Megawati mengatakan struktur PBB dianggap sudah tidak relevan. Pasalnya, struktur Dewan Keamanan PBB tidak sesuai lagi dengan cara pandang seperti pada tahun 1960 di mana solidaritas, kerja sama antara bangsa, dan pembangunan ekonomi lebih dikedepankan.

Baca juga: 2025, Ekonomi Digital Diperkirakan akan Ciptakan 3,7 Juta Lapangan Pekerjaan

“Tidak lagi melihat siapa kamu, siapa dia, kamu harusnya begini, sana harusnya begitu. Sehingga, umat manusia itu juga bisa bersama. Jadi saya berkeyakinan bahwa apa yang telah disampaikan oleh Bung Karno sebagai Bapak Bangsa itu, pikirannya itu lho sampai begitu multi dimention. Dia ikuti dan itu tentu perasan, gemblengan waktu keluar-masuk penjara, dibuang dan lain sebagainya juga bukan berarti mengecilkan founding fathers yang lain, tidak. Tapi kan kelihatan ekstraksinya, sehingga bisa memberikan sebuah jalan pikir,” beber Megawati.

Namun, anehnya, lanjut Megawati, kebesaran seorang Soekarno di dunia itu, justru hilang di Indonesia, yakni ketika sejak 1965 terjadi de-Soekarnoisasi.

“Bayangkan, sampai saya pikir aduh sayang banget ya, sebuah pikiran-pikiran dari orang yang dilahirkan di dunia ini, diabaikan oleh bangsanya begitu saja. Kita lalu pemikir-pemikir katanya, pengamat politik, itu sampai ambillah dari luar negeri. Saya pikir lucu deh orang Indonesia ini. Saya cuma suka berpikir begitu saja, padahal ada mutiara, kupikir. Ini diabaikan sekian tahun oleh bangsa Indonesia. (Padahal) This is history, our nation history,” pungkas Megawati.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com