Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Joko Widodo memberi hormat kepada hadirin saat akan memulai pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR Tahun 2022 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (BeritaSatu Photo/Ruth Semiono)

Presiden Joko Widodo memberi hormat kepada hadirin saat akan memulai pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR Tahun 2022 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2022. (BeritaSatu Photo/Ruth Semiono)

Berkat Hilirisasi Nikel, Ekspor Besi Baja Akhir Tahun Diproyeksi Tembus Rp 440 T

Selasa, 16 Agustus 2022 | 11:24 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memproyeksikan ekspor besi baja dari upaya hilirisasi nikel hingga akhir 2022 berpotensi mencapai Rp 440 triliun. Proyeksi ini terus meningkat seiring komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam.

Dalam catatannya peningkatan hilirisasi nikel telah meningkatkan ekspor besi baja hingga 18 kali lipat.

"Pada 2014 hanya sekitar Rp 16 triliun, tapi di 2021 meningkat menjadi Rp 306 triliun. Di akhir tahun ini, kita harapkan bisa mencapai Rp 440 triliun. Itu hanya dari nikel,” ucapnya dalam Pidato Kenegaraan pada sidang tahunan MPR, Selasa (16/8/2022).

Baca juga: Jokowi: Indonesia Mampu Hadapi Krisis Global

Presiden Jokowi mengatakan, dengan meningkatkan hilirisasi dan ekspor akan berdampak positif bagi penerimaan pajak, devisa negara juga akan terkerek naik. Alhasil, kurs rupiah akan bergerak stabil.

Menurut Presiden Jokowi, saat ini  Indonesia telah menjadi produsen kunci dalam rantai pasok baterai lithium global. Produsen mobil listrik dari Asia, Eropa, dan Amerika ikut berinvestasi di Indonesia.

"Setelah nikel, Pemerintah juga akan mendorong hilirisasi bauksit, hilirisasi tembaga, dan timah. Kita harus membangun ekosistem industri di dalam negeri yang terintegrasi, yang akan mendukung pengembangan ekosistem ekonomi hijau dunia," tuturnya.

Selain hilirisasi, lanjutnya, pemerintah juga berkomitmen melakukan  optimalisasi sumber energi bersih dan ekonomi hijau harus terus ditingkatkan. Diantaranya melalui persemaian dan rehabilitasi hutan tropis dan hutan mangrove, serta rehabilitasi habitat laut akan terus dilakukan dan menjadi potensi besar penyerap karbon.

Baca juga: Puan Maharani: Keberhasilan Indonesia Tangani Covid-19 Diakui Dunia

"Energi bersih dari panas matahari, panas bumi, angin, ombak laut, dan energi bio akan menarik industrialisasi penghasil produk-produk rendah emisi," papar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi menjelaskan, kawasan industri hijau di Kalimantan Utara akan menjadi Green Industrial Park terbesar di dunia. "Saya optimistis, kita akan menjadi penghasil produk hijau yang kompetitif di perdagangan internasional. Upaya tersebut bisa langsung disinergikan dengan program peningkatan produksi pangan dan energi bio," tegasnya.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mengingatkan pemanfaatan kekayaan hayati laut secara bijak, akan menjadi kekuatan besar untuk produk pangan, farmasi, dan energi. Demikian pula halnya dengan perkebunan antara lain kelapa sawit, yang telah terbukti menjadi pemasok terbesar CPO dunia.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com