Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Romo Benny Susetyo

Romo Benny Susetyo

BPIP Ajak Generasi Milenial Manfaatkan Gadget Terapkan Nilai Pancasila

Senin, 5 April 2021 | 17:07 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

YOGYAKARTA, investor.id –  Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo mengajak kalangan generasi milenial Indonesia untuk memanfaatkan gadget menjadi wahana dalam menerapkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Generasi milenial selain berkemampuan yang lebih dari segi teknologi informasi, juga memiliki jangkauan network yang melewati batas ruang, suku, agama, dan teknis. 

“Generasi milenial adalah generasi yang melihat hubungan secara lebih terbuka. Tidak seperti dulu yang cakupannya terbatas, saat ini jangkauan generasi milenial  sudah lintas batas,” kata Romo Benny saat menjadi pembicara pada Sarasehan Pembudayaan Nilai-nilai Pancasila pada Generasi Milenial di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di DI Yogyakarta, Senin (5/4/2021).

Acara yang dibuka Rektor UMY, Gunawan Budiyanto, Kepala BPIP Yudian Wahyudi, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Deputi Pengkajian dan Materi BPIP FX Adji Samekto, Sosiolog Universitas Gadjah Mada M Najib Azca, dan Direktur Program Doktor Politik Islam – Ilmu Politik UMY Zuly Qodir.

Romo Benny menyatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri atas berbagai suku, agama, budaya, dan ras telah membentuk nilai multikultural yang saling menghormati satu sama lainnya. 

“Habitus kita adalah multikultur, sejak lahir bangsa kita sudah seperti itu dari dulu,” tambahnya. 

Anak muda, lanjutnya, dapat mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dengan membangun suatu narasi melalui teknologi informasi sehingga menjadi tindakan nyata. Contohnya, anak muda menciptakan aplikasi untuk memudahkan petani menjual hasil panennya tanpa harus melalui perantara, serta membantu korban bencana alam, lewat kemajuan teknologi informasi. 

“Ini adalah salah satu  bentuk kemampuan generasi milenial mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila. Gunakanlah gadget kalian untuk menciptakan perubahan. Bangunlah network, kemudian aplikasikan rasa ketuhanan, persatuan, dan keadilan, melalui kekuatan-kekuatan yang dimiliki,” katanya.

Sementara itu, Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyatakan, kaum milenial adalah calon-calon pemimpin masa depan Indonesia, sehingga pembudayaan nilai-nilai Pancasila sangat penting diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Konstitusi kita mengikat lebih dari 40 bangsa menjadi satu, dan memberikan jaminan bahwa semua warga negara Indonesia berhak menjadi pemimpin, menjadi Presiden Republik Indonesia," jelasnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyerukan untuk menggali isi pikiran dan pengertian kaum milenial tentang kebangsaan Indonesia, terkhusus tentang pandangan mereka atas Pancasila. 

“Generasi milenial juga mencari role model dalam pelaksanaan Pancasila. Mari generasi melenial, jadilah role model,” tegasnya.  

Sedangkan, Deputi Pengkajian dan Materi BPIP FX Adji Samekto  dalam paparannya, menyampaikan bahwa ada empat indikator untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa.

“Empat indikator itu adalah terjaminnya pangan, sandang, papan, adanya jaminan kesehatan, adanya jaminan untuk melaksanakan kegiatan kerohanian bagi seluruh rakyat Indonesia, dan kesempatan untuk Menikmati kehidupan yang baik dalam lingkungan hidup,” jelasnya. 

Ia menambahkan, pendidikan agama di Indonesia secara keseluruhan memerlukan juga studi relasi antar umat beragama. Selain pendidikan tentang ketuhanan, dengan peruntukkan diwujudkan dalam hal-hal konkret, seperti kerja sama mengembangkan UMKM, koperasi, yang sifatnya lintas agama.  

Najib Azca, menambahkan bahwa terkait moderasi Islam di Kampus, terdapat beberapa ragam moderasi Islam, yaitu di ranah politik, ranah budaya, dan ranah ekonomi. Najib melanjutkan bahwa tantangan moderasi Islam di Indonesia adalah posisi inferior, masa politik Islam yang myopik, kegagalan melalui politik elektoral, dan tradisi militeristik. 

Sehubungan dengan penanggulangan tantangan tersebut, Najib menyebutkan beberapa hal yang perlu dibangun.

“Gerakan budaya keagamaan yang inklusif dan kosmopolitan, budaya umat yang visioner, gerakan politik substansionalisme Islam, gerakan ekonomi umat, dan tradisi intelektualisme berkeadaban dalam gerakan Islam harus dibangun di masyarakat Indonesia,” katanya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN